6 menit baca
Daftar isi12 bagian
- Urutan pindah hosting supaya website tetap hidup
- Inventaris dulu apa saja yang ada di hosting lama
- Turunkan TTL beberapa hari sebelum pindah hosting
- Salin situs ke hosting baru
- Uji situs di hosting baru lewat berkas hosts
- Bekukan perubahan, lalu sinkron terakhir
- Ganti A record atau nameserver
- Email dan record MX
- SSL di hosting baru
- Pantau setelah DNS diganti
- Rencana mundur saat pindah hosting
- Kalau tujuan pindah hosting kalian adalah Jetorbit
Pindah hosting tanpa website mati bisa dilakukan kalau urutannya benar: situs disalin dan diuji di hosting baru selagi domain masih mengarah ke hosting lama, lalu domain diarahkan ke server baru. Hosting lama dibatalkan paling akhir, setelah email dan semua yang bergantung padanya terbukti aman.
Kalau kalian butuh langkah teknis WordPress lewat cPanel, seperti backup database dan mengedit wp-config.php, panduannya ada di cara pindah hosting WordPress. Yang dibahas di sini adalah urutan di sekelilingnya, dan urutan itu sama untuk situs apa pun. Masih ragu perlu pindah hosting atau tidak? Baca dulu tanda-tanda sudah saatnya mengganti hosting.
Urutan pindah hosting supaya website tetap hidup
Selama pindah hosting, ada dua server yang harus bisa melayani situs kalian dengan isi yang sama. Penyebabnya cache DNS. Setiap record punya TTL (time to live), yaitu lama sebuah jawaban DNS boleh disimpan sebelum ditanyakan lagi. Menurut dokumentasi Cloudflare tentang TTL, angka itu menentukan berapa lama record di-cache dan berapa lama pembaruan sampai ke pengguna. Jadi setelah DNS diganti, sebagian pengunjung masih ke server lama dan sebagian sudah ke server baru. Urutannya:
- Inventaris isi hosting lama dan catat siapa yang mengelola DNS domain.
- Turunkan TTL record DNS beberapa hari sebelum pindah hosting.
- Salin situs ke hosting baru.
- Uji situs di hosting baru sebelum DNS diganti.
- Bekukan perubahan konten, lalu sinkron terakhir.
- Ganti A record atau nameserver.
- Pantau, lalu periksa email dan SSL.
- Simpan hosting lama sampai semuanya aman, baru batalkan.
Inventaris dulu apa saja yang ada di hosting lama
Daftar ini mencegah kejutan di hari pindah hosting. Catat:
- tempat domain didaftarkan dan tempat DNS-nya dikelola (registrar, hosting lama, atau layanan DNS seperti Cloudflare), karena jawabannya menentukan cara kalian mengganti DNS nanti;
- semua record di zona DNS, yaitu A, CNAME, MX, dan TXT, termasuk milik subdomain;
- aplikasi dan database yang berjalan, lengkap dengan versi PHP atau runtime-nya;
- akun email di server lama beserta ukuran kotak suratnya;
- sertifikat SSL yang terpasang;
- cron job dan tugas terjadwal lain;
- pengalihan (redirect) dan pengaturan khusus di
.htaccessatau konfigurasi web server.
Email dan cron job mudah terlewat karena tidak tampak di halaman situs, dan baru ketahuan hilang setelah situs berpindah.
Turunkan TTL beberapa hari sebelum pindah hosting
TTL record yang akan kalian ubah menentukan berapa lama pengunjung masih diarahkan ke server lama setelah DNS diganti. Turunkan TTL record A untuk domain dan www ke angka kecil, lalu tunggu selama TTL yang lama. Misalnya TTL lamanya satu hari: turunkan paling lambat sehari sebelum pindah hosting, karena selama itu resolver masih boleh menyimpan jawaban lama.
Catat nilai awalnya supaya bisa dikembalikan, dan turunkan juga TTL record MX kalau email ikut dipindah. Untuk pergantian nameserver, yang berlaku adalah TTL di sisi registrar. Dokumentasi Google Cloud DNS menyarankan mencatat TTL itu karena menentukan berapa lama sampai nameserver baru mulai dipakai.
Salin situs ke hosting baru
Tahap pertama pindah hosting adalah menyalin berkas, database, dan akun email ke hosting baru selagi situs lama tetap berjalan normal. Untuk berkas, kalian bisa memakai fitur backup dan restore di panel, FTP atau SFTP, atau rsync lewat SSH. Rsync hanya mengirim selisih antara berkas sumber dan berkas yang sudah ada di tujuan, jadi mudah diulang saat sinkron terakhir. Impor database, sesuaikan kredensialnya di konfigurasi aplikasi, samakan versi PHP atau runtime dengan server lama, lalu pasang ulang cron job dari daftar inventaris.
Alamat situs di pengaturan aplikasi tidak perlu diubah. Pengujian berikutnya memakai nama domain yang sama.
Uji situs di hosting baru lewat berkas hosts
Berkas hosts di komputer kalian bisa mengarahkan satu nama domain ke IP server baru, hanya di komputer itu. Microsoft menjelaskan bahwa komputer memeriksa berkas hosts lebih dulu sebelum bertanya ke DNS, dan menyebut migrasi website sebagai salah satu kegunaannya untuk melihat tampilan situs di server baru.
- Ambil alamat IP server baru dari informasi akun hosting baru.
- Buka berkas hosts dengan hak administrator. Di Windows letaknya di
%SystemRoot%\System32\drivers\etc\hosts(biasanyaC:\Windows\System32\drivers\etc\hosts), di macOS dan Linux di/etc/hosts. - Tambahkan satu baris berisi IP, lalu nama domain:
203.0.113.10 contoh.com www.contoh.com. Ganti IP dan domainnya dengan milik kalian. - Simpan, tutup browser sepenuhnya, lalu buka situs kalian. Komputer ini sekarang membaca server baru, sedangkan pengunjung lain tetap ke server lama.
- Coba fungsi pentingnya: login, formulir, keranjang dan pembayaran, unggah berkas, kiriman email dari situs, dan halaman yang paling sering dikunjungi.
Kalau SSL belum terpasang di server baru, browser bisa memperingatkan sertifikat selama pengujian. Itu wajar dan dibahas di bagian SSL. Data uji seperti pesanan percobaan ikut tersimpan di database baru, jadi hapus atau timpa lewat sinkron terakhir.
Bekukan perubahan, lalu sinkron terakhir
Antara salinan pertama dan hari pindah hosting, situs lama terus menerima data baru: komentar, pesanan, pendaftaran, unggahan. Pilih jam paling sepi pengunjung, lalu hentikan sementara aktivitas menulis di situs lama, seperti checkout, pendaftaran, dan komentar, sementara halaman tetap bisa dibaca. Sebagian aplikasi punya mode baca-saja untuk ini.
Setelah itu ekspor database sekali lagi, impor ke server baru, dan sinkronkan berkas yang berubah. Uji ulang lewat berkas hosts. Pembekuan ini yang menjaga tidak ada data tertinggal di server lama, dan lamanya hanya sepanjang proses sinkron.
Ganti A record atau nameserver
Dua cara ini berbeda jangkauannya saat pindah hosting. A record memetakan nama domain ke alamat IPv4, dan AAAA ke IPv6. Mengubahnya hanya mengganti alamat tujuan: DNS tetap dikelola di tempat sekarang, dan record lain seperti MX dan TXT tidak tersentuh. Ganti A record untuk domain, www, dan subdomain yang ikut pindah.
NS record menunjuk server mana yang menjadi otoritas DNS untuk domain. Mengganti nameserver berarti memindahkan seluruh pengelolaan zona DNS ke penyedia lain, dan record yang tidak ikut disalin ke zona baru hilang dari jawaban DNS. Cloudflare mengingatkan bahwa pemindaian otomatis tidak dijamin menemukan semua record, jadi cocokkan daftar inventaris satu per satu sebelum nameserver diganti.
Kalau DNS kalian dikelola di tempat yang tidak ikut pindah, seperti registrar atau Cloudflare, ganti A record saja. Kalau nameserver domain masih milik hosting lama, kalian bisa tetap memakainya dan mengubah A record di sana, dengan syarat hosting lama tidak dibatalkan. Atau pindahkan nameserver setelah semua record disalin. Berapa lama peralihan sampai ke semua pengunjung mengikuti TTL yang kalian atur sebelumnya, bukan satu angka tetap.
Email dan record MX
Record MX menentukan ke server mana email untuk domain kalian dikirim. Cloudflare menyebut MX diperlukan agar email sampai ke mail server, dan menurut RFC 5321 pengirim mencoba tujuan dengan angka preferensi paling kecil lebih dulu.
Kalau email kalian dikelola layanan lain seperti Google Workspace, MX tidak perlu diubah ketika kalian pindah hosting. Pastikan saja record MX dan TXT-nya ikut utuh, terutama bila yang diganti adalah nameserver. Kalau email ada di hosting lama, buat akun yang sama di hosting baru, salin isi kotak suratnya, baru ubah MX ke server baru.
Selama TTL MX berjalan, email baru bisa mendarat di server lama maupun baru, jadi periksa kotak surat lama sampai kalian yakin tidak ada lagi email masuk ke sana. Periksa juga record TXT untuk SPF dan DKIM. SPF mendaftar IP dan domain yang berhak mengirim email atas nama domain kalian, jadi alamat server pengirim yang baru perlu masuk ke sana.
SSL di hosting baru
Penerbit sertifikat gratis seperti Let’s Encrypt memeriksa kendali domain, salah satunya dengan meminta sebuah berkas dari web server lewat nama domain (tantangan HTTP-01). Selama domain masih mengarah ke server lama, permintaan itu sampai ke server lama, jadi sertifikat di server baru biasanya baru bisa terbit setelah DNS berpindah. Cek HTTPS di server baru segera setelah A record diganti, dan minta sertifikat diterbitkan dari panel hosting kalau browser masih memperingatkan.
Ada jalan lain: validasi lewat record TXT (tantangan DNS-01) tidak membutuhkan web server, sehingga bisa dikerjakan sebelum DNS berpindah, selama panel atau penyedia DNS kalian mendukungnya.
Pantau setelah DNS diganti
Setelah pindah hosting, hapus baris di berkas hosts tadi supaya komputer kalian ikut DNS yang sebenarnya, lalu buka situs dari jaringan lain, misalnya HP dengan data seluler. Kalau komputer masih menampilkan server lama, bersihkan cache DNS lokal dengan cara flush DNS. Lihat log akses di kedua server: selama server lama masih menerima pengunjung, peralihan belum selesai. Pesanan atau data tulis yang masuk ke server lama pada masa ini perlu dipindahkan manual ke server baru.
Rencana mundur saat pindah hosting
Selama server lama tidak kalian ubah, rencana mundurnya sederhana: kembalikan A record ke IP lama, dan pengunjung kembali ke sana secepat peralihan tadi, yaitu mengikuti TTL. Karena itu TTL tetap rendah sampai kalian yakin. Dengan begitu, downtime akibat server baru yang bermasalah umumnya berakhir dalam rentang TTL itu setelah A record dikembalikan. Setelah situs baru stabil, kembalikan TTL ke nilai awal. Cloudflare mencatat bahwa TTL yang lebih panjang mempercepat pencarian DNS karena hasilnya lebih sering diambil dari cache.
Batalkan hosting lama hanya setelah ini semua terpenuhi:
- log akses server lama sudah sepi;
- email masuk dan keluar sudah dicoba di server baru, dan kotak surat lama tidak menerima email lagi;
- cron job dan layanan lain sudah berjalan di server baru;
- backup terakhir hosting lama sudah tersimpan di luar server itu;
- nameserver sudah dipindah kalau sebelumnya masih milik hosting lama.
Kalau tujuan pindah hosting kalian adalah Jetorbit
Untuk situs di hosting, Jetorbit membantu pindah hosting dari tempat lain ke Cloud Hosting: beli paketnya, lalu hubungi tim support yang akan memindahkan website kalian. SSL gratis ikut selama paket aktif. Kalau yang dipindahkan adalah VPS, Migrasi VPS di Managed Service memindahkan website, database, dan email ke Cloud VPS Jetorbit, menguji server baru lebih dulu, lalu mengubah DNS setelah pengujian. Server lama tetap melayani pengunjung selama proses. Siapkan akses ke VPS lama dan DNS domain, daftar aplikasi, database, akun email, serta cron job yang aktif, dan jam trafik paling sepi.
Artikel lain di Hosting & Server
Semua artikel Hosting & Server
6 menit baca
2 menit baca
6 menit baca