Definisi Conversion Rate Optimization dan Cara Optimasinya

Definisi Conversion Rate Optimization dan Cara Optimasinya

Sharing is caring!

Hi, Orbiters! Semoga selalu sehat ya dan rejeki kalian dilancarkan. Apakah ada di antara kalian yang memiliki website toko online trus merasa website kalian ramai tapi penjualannya sepi? Nah, kalau itu menjadi pertanyaan kalian saat ini, mulailah menerapkan Conversion Rate Optimization (CRO) dengan lebih baik. Tak usah berlama-lama, mari simak sampai selesai Definisi Conversion Rate Optimization dan Cara Optimasinya

Definisi CRO (Conversion Rate Optimization)

Conversion rate optimization adalah upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung yang melakukan konversi. Konversi adalah tindakan pengunjung yang sesuai dengan harapan dari pemilik website. 

Nah, contoh dari konversi adalah pengunjung membuat akun di website, berlangganan newsletter dengan memberikan data diri lengkap, hingga membeli layanan yang ditawarkan.

Sebelum menerapkan optimasi CRO, tentu harus tahu seberapa besar pengunjung yang sudah melakukan konversi (conversion rate). 

Cara menghitungnya adalah membagi jumlah pengunjung yang melakukan konversi dengan total pengunjung di sebuah halaman website, lalu dikali 100.

definisi conversion rate optimization 1

Manfaat Conversion Rate Optimization

Berikut ini ada lima manfaat CRO, yaitu:

1. Meningkatkan Keuntungan

Manfaat conversion rate optimization adalah menambah keuntungan. Tapi, seberapa besar keuntungan tambahan yang bisa Anda dapatkan? Supaya punya  gambaran, mari simak contoh berikut ini:

Sebuah produk misal kalian jual dengan harga Rp 50.000,-. Dari seratus pengunjung website, lima di antaranya membeli produk tersebut. Jika laba tiap produk Rp 25.000,- maka keuntungan penjualan adalah Rp 125.000,- dengan conversion ratenya 5%.

Jika berhasil menaikkan conversion rate menjadi 10% saja, artinya akan ada 10 orang yang membeli produk dengan total laba bisnis menjadi Rp 250.000,-. Waow, luar biasa, ya.

2. Memudahkan dalam Memahami Konsumen

Kira-kira nih, kenapa pengunjung website kalian banyak tapi hanya sedikit yang membeli? Apa karena deskripsi produk kalian kurang menarik bahkan kurang lengkap? Atau proses checkout belanjaan rumit? 

Jadi, silakan temukan bagaimana pengunjung berinteraksi dengan website kalian dan apa yang mereka harapkan darinya.

Ketika alur website bisa lebih baik, funnel marketing website tentu akan lebih efektif untuk meningkatkan konversi.

3. Mengurangi Cost per Acquisition (CPA)

Mendatangkan pengunjung website dengan menerapkan strategi marketing itu memang penting. Namun, ada yang lebih penting lho, yakni membuat mereka mau bertransaksi. Sebab, cost per acquisition (CPA) akan jadi lebih rendah

Kok bisa?

Contoh nih, kalian mengeluarkan biaya Rp 1.000.000,- untuk mendatangkan 10.000 pengunjung ke halaman sebuah produk. Hasilnya ada 1.000 orang yang akhirnya membeli produk. 

Artinya, dengan conversion rate 10%, biaya mendapatkan konsumen (CPA) tersebut Rp 1.000,-.

Misal conversion rate ditingkatkan menjadi 15%, CPA-nya menjadi Rp 1.000.000,- : 1.500 = Rp 667,-.  Lebih rendah, kan.

4. Berdampak Positif Terhadap SEO

SEO (Search Engine Optimization) adalah upaya mengoptimalkan website agar mendapatkan peringkat teratas di hasil pencarian Google. Nah, SEO dan CRO ternyata saling memberikan dampak positif.

Penerapan SEO yang baik membuat website dapat banyak pengunjung yang sesuai dengan bisnis kalian, lho.

Dengan melakukan CRO, pengunjung akan betah karena isi website sesuai kebutuhan mereka dan pengalaman mereka di website juga memuaskan.

Google mempertimbangkan kesesuaian isi dan kualitas pengalaman pengunjung dalam menentukan peringkat website. Makanya, peringkat website bisa meningkat.

5. Menghasilkan Pelanggan Tetap

Conversion rate optimization tidak hanya bisa meningkatkan pembelian tetapi juga jumlah pelanggan tetap.

Contohnya, setelah melakukan pembelian pertama nih, konsumen bisa kalian tawarkan promo produk yang relevan. Jika produknya berupa layanan, kirimkan saja panduan penggunaannya ke mereka.

Cara “memanjakan” pelanggan seperti ini penting tapi perlu disesuaikan dengan hasil riset dalam proses CRO.

Persiapan sebelum Melakukan Conversion Rate Optimization

Kalian juga harus tahu nih terkait persiapan apa saja yang dibutuhkan untuk CRO, yaitu:

1. Tools Optimasi

Hal pertama yang dibutuhkan untuk conversion rate optimization adalah tools analytics dan platform untuk testing.

Tools analytics adalah tools yang terhubung ke website dan digunakan untuk memantau data pengunjung website. Bisa berupa jumlah pengunjung, asalnya, dan aktivitas di website kalian.

Data yang ditampilkan tools analytics bisa memberi tahu conversion rate halaman-halaman website kalian. Otomatis, kalian juga bisa mengidentifikasi halaman apa saja yang konversinya sedikit. 

Sudah banyak tools analytics yang tersedia, termasuk Google Analytics yang gratis.

Oia, kalian wajib menggunakan platform testing. Ini adalah software untuk melakukan A/B test (eksperimen beberapa desain website yang berbeda). Umumnya, platform testing sifatnya berbayar, contohnya Optimizely dan VWO. ada juga yang bisa digunakan secara gratis, seperti Google Optimize.

2. Tim Optimasi

Setelah menyiapkan tools analytics dan platform testing, hal lainnya yang dibutuhkan dalam conversion rate optimization adalah tim yang sesuai. Tim ini meliputi:

  • Conversion rate optimization manager: merancang strategi CRO dan memantau pelaksanaannya.
  • Data analyst: memantau data pengunjung website dan A/B test serta menggunakan hasil analisisnya untuk mengambil keputusan.
  • Web designer: membuat desain website untuk A/B test.
  • Copywriter: membuat tulisan (copy) untuk website.
  • Web developer: melakukan koding untuk website.

9+ Langkah Conversion Rate Optimization

Jika bisnis kalian masih kecil dan belum memiliki tim di atas, tetap bisa melakukan conversion rate optimization, kok. Untuk menjalankan conversion rate optimization, kalian mesti menerapkan langkah-langkah berikut ini:

Langkah 1: Tentukan Fokus Kalian

Dalam melakukan CRO, kalian tak bisa mengoptimalkan semua hal sekaligus. Kalian harus menentukan masalah yang ingin diatasi terlebih dulu, misalnya:

  • Homepage tidak menciptakan kesan pertama yang baik pada pengunjung website
  • Informasi di halaman produk kurang menjelaskan produk dengan baik, atau tidak menampilkan ulasan
  • Tombol call to action untuk mengajak pengunjung membeli, berlangganan, atau membuat akun, tidak terlihat jelas
  • Konten blog tidak sesuai untuk pengunjung website, misalnya Anda membagikan tips perawatan rambut, padahal tidak menjual produk nya.
  • Tulisan dan desain landing page gagal mendorong pengunjung untuk membeli atau berlangganan

idealnya sih kalian fokus di penyebab utama website kurang menghasilkan konversi. Untuk bisa menentukannya, kalian bisa mengajukan pertanyaan:

  • Mengapa jumlah pengunjung website saya tidak meningkat?
  • Mengapa jumlah pengunjung yang buru-buru pergi setelah mengakses homepage banyak?
  • Mengapa halaman produk saya dikunjungi banyak orang tapi minim pembeli?

Agar bisa menjawab pertanyaan itu, perlu tahu apa yang terjadi saat konsumen akan bertransaksi dengan cara memahami funnel marketing.

Langkah 2: Pahami Funnel Marketing Bisnis

Funnel marketing adalah tahapan yang dilalui konsumen ketika berinteraksi dengan bisnis kalian, mulai dari mengenal bisnis kalian hingga menjadi pelanggan.

Setiap bisnis memiliki panjang funnel marketing yang berbeda. Ada yang tahapannya banyak tapi ada juga yang sedikit.

Contoh funnel marketing yang sederhana biasanya terdiri dari tiga tahap, yaitu:

Awareness: konsumen baru mengenal bisnis Anda

Consideration: konsumen mulai menimbang-nimbang produk Anda

Decision: konsumen siap untuk membeli produk Anda

definisi conversion rate optimization 2
definisi conversion rate optimization 3

Kalian harus memahami funnel marketing dalam melakukan CRO karena kalian menjadi tahu hal-hal yang menghambat konversi di tiap tahap. Maka, kalian bisa menentukan strategi marketing yang lebih tepat untuk mendorong konsumen ke tahap selanjutnya.

Langkah 3: Pahami Metrik Penting yang Berhubungan

Agar conversion rate optimization lebih optimal, silakan gunakan metrik untuk memantau performa strategi pemasaran kalian secara keseluruhan.

Beberapa jenis metrik yang bisa digunakan adalah:

  • Website traffic metric: mengukur performa kunjungan website.
  • Engagement metric: mengukur interaksi audiens di kanal pemasaran yang kalian gunakan.
  • Conversion metric: mengukur banyaknya konversi.
  • Revenue metric: menganalisis jumlah pendapatan dari penjualan produk kalian.

Tools seperti Google Analytics cukup bermanfaat untuk memberikan informasi secara otomatis untuk mengetahui metrik-metrik tersebut.

Langkah 4: Lakukan Benchmarking Data

Benchmarking data adalah proses membandingkan skor metrik kalian dengan milik beberapa perusahaan lain. Tujuannya untuk mencari tahu posisi bisnis kalian di dalam persaingan.

Untuk melakukan benchmarking data, kalian butuh riset pasar, lho. Contohnya dengan membaca statistik pasar dan melakukan survey lapangan.

Setelah itu, kalian bisa mengumpulkan hasil riset dalam sebuah tabel seperti di bawah ini:

MetricPerusahaan SayaPerusahaan XPerusahaan Y
Website Traffic MetricOverall Traffic
Channel Metric
New Visitor vs Returning Visitor 
Exit Rate         
Engagement Traffic            Bounce Rate   
Average Time on Page
Pageviews per Session           
Impression     

Contoh tabel di atas memudahkan untuk membandingkan skor metrik-metrik kalian dengan milik kompetitor. Makanya, kalian mengetahui metrik apa saja yang perlu ditingkatkan agar menghasilkan lebih banyak konversi.

Misal, penjualan kompetitor di industri tersebut ternyata 10% lebih banyak. Artinya, masih ada perbaikan yang bisa dilakukan, seperti:

  • Merapikan informasi produk agar konsumen paham manfaatnya
  • Menampilkan ulasan pelanggan sebagai testimoni
  • Memperjelas tombol call to action agar konsumen tidak kebingungan
  • Meningkatkan kecepatan loading halaman supaya konsumen tidak perlu menunggu

Langkah 5: Tentukan Target Sesuai Benchmark

Setelah membandingkan skor metrik kalian dengan milik kompetitor, kalian menjadi tahu poin apa saja yang bisa ditingkatkan. Hal itu akan membantu dalam menentukan target conversion rate optimization.

Agar target kalian jelas, perlu merumuskannya ke dalam poin-poin seperti berikut ini:

  • Tujuan utama: meningkatkan jumlah pembelian di halaman produk.
  • Definisi kesuksesan: semua engagement metric lebih unggul dari kompetitor.
  • Metrik kesuksesan: Bounce Rate 2%, Average Time on Page 52s, Pageviews per Session 2 pages/session, Impression 1.2M.
  • Target: meningkatkan jumlah pembelian di halaman produk sebesar 15% dengan memberikan engagement yang lebih baik dari kompetitor.

Langkah 6: Jalankan Solusi Terbaik

Conversion rate optimization adalah upaya jangka panjang. Tenang, kalian tetap bisa menerapkan solusi terbaik saat ini untuk menaklukkan hambatan konversi, seperti: 

  • Mengoptimalkan kecepatan loading website agar pengunjung bisa memilih produk dengan lancar.
  • Menerapkan copywriting yang baik agar pengunjung semakin tertarik dengan penawarannya.
  • Memperjelas tombol call to action sehingga pengunjung tahu harus klik di mana untuk membeli.
  • Membuat panduan checkout untuk menghindari kebingungan saat pembelian.
  • Memberikan promo untuk mendorong pembelian.
  • Menampilkan testimoni, review, atau trust signal lainnya untuk meningkatkan rasa percaya konsumen.

Langkah 7: Pantau dan Tingkatkan Performa Website Sesuai Metrik yang Ditentukan

Bagaimana cara mengetahui efektivitas saat sudah melakukan solusi terbaik? Jawabannya adalah dengan melakukan conversion tracking, yaitu mengukur kinerja pemasaran secara umum.

Untuk melakukan conversion tracking, kalian membutuhkan Google Analytics untuk menampilkan metric, seperti overall traffic dan bounce rate.

definisi conversion rate optimization 4

Setelah melakukan conversion tracking, silakan bandingkan skor kalian dengan metrik kesuksesan yang sitentukan di langkah nomor 5. 

Langkah 8: Lakukan Riset untuk Mendapatkan Insight Lebih Dalam

Conversion tracking tidak cukup karena kalian juga harus melakukan riset perilaku pengguna di website agar tahu mengapa jumlah konversi tidak sesuai target. 

Ada beberapa cara riset yang bisa diterapkan, termasuk:

  • Heatmap

Visualisasi tindakan pengunjung di halaman website, misalnya klik, scroll, dan gerakan kursor. Cara ini cocok untuk mengetahui elemen-elemen halaman website yang menarik perhatian pengunjung. 

  • Scroll map

Cara ini mirip dengan heatmap tapi fokus pada seberapa jauh pengunjung menyimak halaman website. Dengan begitu, kalian jadi tahu jika ada elemen penting yang letaknya terlalu jauh di bawah halaman.

  • Visitor recordings

Ini adalah versi lebih canggih dari heatmap sebab cara ini merekam seluruh kegiatan pengunjung website dalam bentuk video.

  • Form analysis

Cara ini digunakan untuk memantau efektivitas formulir. Jika konversi yang diinginkan berupa pengumpulan formulir atau pembuatan akun, form analysis adalah cara riset yang tepat.

  • Website survey

Cara ini menggunakan pendekatan personal, yaitu meminta feedback langsung ke pengunjung website. Untuk melakukannya, kalian bisa menampilkan pop-up atau halaman berisi kolom feedback.

Agar bisa menerapkan metode-metode riset seperti di atas, kalian membutuhkan tools yang menawarkan fiturnya. Beberapa contohnya adalah:

  • VWO
  • Hotjar
  • FullSession
  • HubSpot

Semua tools tersebut berbayar tapi kalian bisa mendapatkan demonya atau mencoba gratis.

Langkah 9: Tentukan Hipotesis

Anda bisa membuat hipotesis atau dugaan sementara dengan data dari semua langkah di atas tentang upaya CRO.

Untuk membuat hipotesis, kalian bisa menggunakan formula: “saya percaya X akan berdampak pada X karena X”. Contohnya:

  • Saya percaya bahwa pengunjung lebih tertarik mengklik tombol call to action dengan teks perintah karena unsur ajakannya lebih kuat.
  • Saya percaya bahwa meningkatkan kecepatan situs akan mengurangi bounce rate karena informasi tampil lebih cepat.

Setelah mendapatkan beberapa hipotesis dan perlu mengujinya semuanya sekaligus, tentu akan butuh banyak waktu dan tenaga. Oleh karenanya, kalian harus memprioritaskan hipotesis yang berdampak paling besar terhadap konversi. 

Caranya, kalian perlu membuat sistem skor dengan tiga faktor, yaitu:

  • Potensi dampak: halaman atau komponen website yang terburuk dan jika diperbaiki akan berdampak besar
  • Level kepentingan: halaman website yang paling sering dikunjungi
  • Kemudahan: seberapa mungkin halaman website tersebut dirombak atau menerapkan solusi yang ada

Langkah 10: Lakukan Testing

Setelah memiliki dua atau beberapa hipotesis, saatnya kalian menguji performanya masing-masing. Ada dua jenis tes yang bisa digunakan untuk melakukannya, yaitu A/B test dan multivariate test.

A/B test atau split test, adalah pengujian beberapa variasi sebuah halaman website secara bersamaan. Tujuannya untuk melihat variasi mana yang menghasilkan lebih banyak konversi.

Sedangkan multivariate test, kalian menentukan beberapa elemen halaman website dan membuat variasinya. Misalnya, ingin mengubah header dan footer halaman. Lalu variasi-variasi itu diuji untuk mencari kombinasi elemen yang paling efektif.

Contoh, kalian melakukan A/B test untuk halaman produk. Versi A menggunakan tombol CTA bertuliskan “Beli”, sedangkan Versi B bertuliskan “Tambahkan ke Keranjang”.

Setelah menjalankan testing, ternyata versi A menghasilkan pembelian 10% lebih banyak dari versi B. oleh sebab itu, kalian patut menggunakan versi A.

Apa yang Perlu Dilakukan Setelah Mendapatkan Hasil Testing?

Langkah conversion rate optimization tidak berhenti di pengujian hipotesis saja. Setelah mendapatkan hasil tes, kalian wajib melakukan pengelolaan website. Tujuannya agar pengalaman pengunjung di website tetap memuaskan.

Ada tiga jenis pengelolaan website yang bisa Anda terapkan, yaitu:

Pengelolaan mingguan:

  • Cek dan pastikan semua halaman dan link bisa diakses
  • Pastikan komponen-komponen website selalu update agar aman dan kinerjanya optimal
  • Jika memiliki blog, hapus komentar-komentar spam

Pengelolaan bulanan:

  • Pantau performa SEO website agar ranking website di Google tidak turun drastis
  • Review konten website agar informasinya tidak ketinggalan zaman
  • Cek kecepatan loading website agar pengunjung betah

Pengelolaan tiap kuartal:

  • Pastikan semua informasi kontak di website masih aktif agar pengunjung selalu bisa menghubungi Anda
  • Update desain website agar selalu sesuai dengan tren kebutuhan pengunjung
  • Periksa masa aktif domain website

Selain macam-macam pengelolaan tersebut, lakukan juga usability testing untuk mengevaluasi pengalaman pengunjung di website kalian. Poin penting lainnya adalah pantau dan evaluasi terus conversion rate kalian.

Okay, sekarang kalian sudah tahu bahwa conversion rate optimization adalah upaya untuk menambah jumlah transaksi dan jenis konversi supaya bisnis kalian lebih laris manis. Caranya dengan meningkatkan pengalaman pengunjung website agar lebih nyaman. Jangan lupa memperhatikan aspek-aspek teknis, seperti kecepatan loading dan keamanan website. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Siapa nih yang mau dapat uang jajan tambahan? Wah, kalian mesti  gabung ke Afiliasi Jetorbit. Kalian bisa memiliki peluang mendapatkan jutaan rupiah setiap bulan! Asik, kan. Mudah kok pendaftaran dan cara kerjanya. Kalian bisa melakukannya kapanpun, di manapun, dan ke siapapun. Tenang, kami juga menyediakan VPS yang tentu bisa kalian pilih sesuai kebutuhan kalian.

Bermanfaatkah Artikel Ini?

Klik bintang 5 untuk rating!

Rata rata rating 0 / 5. Jumlah rate 0

Yuk Rate 5 Artikel Ini!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Tutorial dan Informasi Teknologi - Jetorbit Blog
Definisi Conversion Rate Optimization
Artikel
Definisi Conversion Rate Optimization
Informasi mengenai teknologi dan panduan menggunakan hosting, website dan domain
Tak usah berlama-lama, mari simak sampai selesai Definisi Conversion Rate Optimization dan Cara Optimasinya agar penjualan di website rame
Author Name
Publisher Name
Jetorbit
Publisher Logo
You might also like