Apa Itu W3 Total Cache, Fitur, dan Cara Instalasinya

Kalian sudah tahukah bahwa W3 Total Cache adalah sebuah plugin caching WordPress yang berfungsi meningkatkan kinerja dan optimasi website? Bentar, kalau masih ada yang belum paham sama sekali mengenai W3 Total Cache, kalian simak selengkapnya saja yuk mengenai Apa Itu W3 Total Cache, Fitur, dan Cara Instalasinya 

Apa Itu W3 Total Cache?

W3 Total Cache adalah plugin WordPress yang berfungsi mengoptimalkan kinerja website melalui teknik caching. Plugin ini membantu meningkatkan kecepatan loading website dengan meminimalkan jumlah permintaan sumber daya yang harus diproses oleh server.

Plugin ini pertama kali dibuat oleh Frederick Townes, CTO dan Senior Technical Advisor Mashable. Lalu dimaintain dan didukung oleh agensi milik Frederick, W3 Edge. Sampai saat ini, W3 Total Cache telah digunakan oleh 1.049.955 website yang aktif. 

Data tersebut menunjukkan bahwa plugin ini sangat populer dan banyak digunakan oleh pengembang website WordPress di seluruh dunia, termasuk 6.074 website di Indonesia dan menjadikannya sebagai salah satu plugin paling banyak digunakan di WordPress Plugin Directory. 

Plugin cache memiliki 16 halaman opsi konfigurasi sehingga pengguna dapat menentukan solusi caching apa yang dibutuhkan dan mengatur plugin ini sesuai dengan kebutuhan mereka. 

W3TC mengoptimalkan sumber daya HTML, CSS, dan JavaScript dengan meminimalkan, mengkombinasikan, dan mengompresnya. Selain itu, W3TC juga menciptakan dan menyimpan sumber daya website statis untuk mengurangi beban di server dan mempercepat pengiriman website. Hal itulah yang akhirnya dapat membantu website dalam mempercepat loading halaman web.

Fitur W3 Total Cache

Plugin W3 Total Cache menawarkan berbagai fitur utama yang dapat membantu dalam mengoptimalkan kinerja website dari segi caching, antara lain:

1. Caching

Plugin W3 Total Cache membuat salinan HTML statis yang disimpan di server. Saat pengunjung pertama kali mengakses halaman, WordPress harus membangun halaman secara dinamis dari database dan sebagainya ini butuh banyak sumber daya server. 

Namun, untuk pengunjung berikutnya yang mengakses halaman yang sama, plugin akan mengirimkan salinan HTML yang sudah dibuat sebelumnya. Hal ini lebih cepat daripada membangun halaman dinamis dari awal. Makanya akan mengurangi beban server dan mempercepat waktu pemuatan halaman.

2. Minifikasi

W3 Total Cache dapat meminimalkan ukuran file CSS, JavaScript, dan HTML dengan menghapus karakter yang tidak perlu, seperti spasi, komentar, dan tanda baca yang tidak dibutuhkan. 

Proses ini dikenal sebagai minifikasi, yang memperkecil ukuran file sehingga dapat ditransfer lebih cepat dari server ke browser pengunjung. Semakin kecil ukuran file maka semakin cepat waktu pemuatan halaman website.

3. Integrasi dengan Content Delivery Network (CDN)

Layanan Content Delivery Network (CDN) menyimpan salinan file-file website di berbagai server di seluruh dunia. 

Dengan mengintegrasikan W3 Total Cache dengan CDN, file-file website dapat dikirimkan dari server terdekat dengan lokasi pengunjung, mengurangi jarak dan waktu tunda (latency) dalam pengiriman data. Integrasi dengan CDN sangat membantu meningkatkan kecepatan akses website bagi pengunjung dari lokasi geografis yang berbeda-beda.

4. Database Caching

Setiap kali halaman web dimuat, WordPress perlu melakukan query ke database untuk mengambil konten yang dibutuhkan. 

W3 Total Cache menyediakan opsi untuk menyimpan hasil query database dalam cache sehingga query yang sama tidak perlu dijalankan lagi untuk permintaan berikutnya. Hal tersebut dapat mengurangi beban pada server database dan mempercepat waktu pemuatan halaman karena data dapat diambil langsung dari cache yang ada di memori server web.

Cara Instalasi W3 Total Cache

Berikut ini langkah instalasi W3 Total Cache pada WordPres.

1. Login WordPress

Pertama, silakan login ke dashboard WordPress yang akan dipasang plugin W3 Total Cache. Masukkan username dan password akun WordPress kalian.

2. Tambahkan Plugin W3 Total Cache

Setelah itu, silakan tambahkan plugin W3 Total Cache pada WordPress dengan cara pilih Plugins => Add New

3. Install Plugin W3 Total Cache

Setelah muncul tampilan di bawah ini, lakukan pencarian plugin W3 Total Cache. Jika sudah, klik tombol Install Now.

Setelah di install, klik Activate untuk memulai aktivasi plugin.

4. Aktifkan Fitur Cache

Setelah instalasi W3 Total Cache berhasil, kalian akan menemukan menu Performance pada sidebar sebelah kiri. Plugin ini menawarkan berbagai fitur caching namun tiga fitur utama yang perlu diaktifkan adalah Database Cache, Object Cache, dan Page Cache.

Berikut ini langkah-langkah mengaktifkannya:

  • Klik menu Performance lalu pilih General Settings.
  • Cari bagian Page Cache dan centang opsi Enable
  • Pada Page Cache Method, pilih Memcached.
  • Setelah selesai, klik tombol “Save all settings”.

Setelah itu, silakan scroll ke bawah hingga menemukan bagian Object Cache dan Database Cache, lalu ubah pengaturannya seperti pada Page Cache dengan memilih Memcached sebagai metode caching.

Memcached adalah sistem caching yang dapat mempercepat waktu pemuatan halaman dengan menyimpan salinan halaman dalam memori.

5. Kelola database cache

Salah satu fitur utama W3 Total Cache adalah kemampuannya untuk meringankan beban pada database melalui teknik caching. Nah, dengan menggunakan Database Cache, kalian dapat meningkatkan performa website secara signifikan. Berikut ini langkah mengoptimalkannya:

  • Klik menu Performance kemudian pilih sub-menu Database Cache.
  • Pada bagian Memcached hostname:port/IP:port:, masukkan alamat URL atau IP beserta nomor port yang digunakan untuk menjalankan layanan Memcached pada server kalian.
  • Klik tombol Test untuk memverifikasi koneksi antara W3 Total Cache dengan Memcached.
  • Jika muncul pesan Test Passed dengan warna hijau, artinya Database Cache berhasil terhubung dengan Memcached.
  • Klik tombol Save all settings agar pengaturan tersimpan.

Dengan mengintegrasikan Database Cache dengan Memcached, W3 Total Cache akan menyimpan hasil query database dalam cache sistem. Saat pengunjung mengakses halaman yang butuh data dari database, plugin akan mengambil data dari cache dulu daripada melakukan query langsung ke database

6. Kelola page cache dan W3 Total Cache

Selanjutnya kalian juga perlu mengaktifkan fitur page cache melalui langkah-langkah berikut ini:

  • Klik menu Performance => Page Cache
  • Pada bagian Memcached hostname:port /IP:port, masukkan URL yang ditampilkan saat menjalankan Memcached sebelumnya.
  • Klik tombol Test untuk memverifikasi koneksi.
  • Jika muncul pesan Test Passed  dengan warna hijau, artinya Page Cache berhasil diaktifkan.
  • Klik tombol Save all settings agar pengaturan tersimpan.

7. Kelola object cache

Object cache berfungsi untuk menyimpan data objek seperti hasil query database dalam memori sementara agar dapat diakses lebih cepat pada permintaan berikutnya. Hal tersebut dapat meningkatkan performa website dengan mengurangi beban pada server database. Berikut ini langkah-langkahnya:

  • Klik menu Performance => Object Cache.
  • Pada bagian Memcached hostname:port /IP:port, masukkan URL yang ditampilkan saat menjalankan Memcached sebelumnya. URL ini sama dengan yang digunakan untuk mengaktifkan Page Cache.
  • Klik tombol Test untuk memverifikasi koneksi.
  • Jika muncul pesan Test Passed dengan warna hijau, artinya Object Cache berhasil diaktifkan.

8. Pengecekan memcached

Nah, terakhir, perlu mengecek apakah fitur memcached berjalan atau tidak dengan langkah-langkah berikut ini:

  • Buka situs WordPress kalian.
  • Klik kanan pada halaman lalu pilih opsi View Page Source.
  • Scroll ke bagian bawah sumber halaman.
  • Akan terlihat informasi seperti pada gambar yang disertakan.

Jika melihat informasi tersebut pada sumber halaman, itu menandakan bahwa plugin W3 Total Cache yang terintegrasi dengan Memcached telah berhasil diinstal dan berfungsi pada situs kalian, ya.

Simpulan 

Jadi, bisa disimpulkan bahwa W3 Total Cache adalah plugin caching populer untuk WordPress yang membantu meningkatkan kinerja dan mengoptimalkan website. 

Nah, plugin ini menggunakan teknik caching dengan cara permintaan sumber daya ke server, seperti membuat salinan HTML statis, meminifikasi file CSS/JS, mengintegrasikan CDN, dan menyimpan hasil query database dalam cache agar dapat diakses lebih cepat.

Semoga bermanfaat 🙂

Bermanfaatkah Artikel Ini?

Klik bintang 5 untuk rating!

Rata rata rating 5 / 5. Jumlah rate 2

Yuk Rate 5 Artikel Ini!

We are sorry that this post was not useful for you!

Let us improve this post!

Tell us how we can improve this post?

Bagikan:

Leave a Comment