{"id":8211,"date":"2021-11-23T09:45:00","date_gmt":"2021-11-23T02:45:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=8211"},"modified":"2022-04-04T10:46:28","modified_gmt":"2022-04-04T03:46:28","slug":"mengenal-emotional-marketing-dalam-rangka-mensukseskan-bisnis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/mengenal-emotional-marketing-dalam-rangka-mensukseskan-bisnis\/","title":{"rendered":"Mengenal Emotional Marketing dalam Rangka Mensukseskan Bisnis"},"content":{"rendered":"\r\n<p>Strategi <em>emotional marketing<\/em> merupakan salah satu pendekatan yang ampuh untuk menarik perhatian konsumen. Tak heran banyak <em>brand <\/em>menerapkan strategi ini dalam iklan maupun <em>campaign <\/em>mereka. Alasannya adalah dorongan emosional lebih efektif untuk membuat target konsumen mengambil keputusan pembelian dibandingkan logika. Okay, ketahui detailnya yuk di artikel <strong>Mengenal Emotional Marketing dalam Rangka Mensukseskan Bisnis<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pengertian Emotional Marketing <\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><em>Emotional marketing<\/em> adalah strategi pemasaran yang bertujuan untuk membangkitkan emosi pasarnya yang dijadikan penerima pesan dan target pemasaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Tujuannya untuk membangkitkan emosi positif terkait dengan suatu <em>brand <\/em>atau perusahaan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Namun, dalam beberapa kasus yang akhir-akhir ini kerap terjadi justru pesannya sengaja untuk menimbulkan emosi yang kurang menyenangkan atau negatif (pesan pemasaran seperti ini biasanya yang terkait dengan hal-hal kemanusiaan atau sosial).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Alasan Harus Mengaplikasikan Emotional Marketing <\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Sebuah <a href=\"http:\/\/pages.system1research.com\/s1r-par-how-emotional-tugs-trump-rational-pushes\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">jurnal emotional marketing pada tahun 2012 dari Brain Juicer Labs<\/a> menunjukkan sejumlah studi psikologis dan data survei tentang tanggapan emosional orang-orang terhadap berbagai jenis iklan dari Institute of Practitioners in Advertising (IPA).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Simpulannya adalah untuk memahami kekuatan dari pemasaran, kita perlu memahami cara kerja otak kita dalam membuat keputusan berdasarkan sejumlah stimulus yang diberikan. Psikolog perilaku telah memecah proses ini menjadi dua sistem yang berbeda sebagai berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Sistem Cepat <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Sistem cepat ini berarti pengambilan keputusan bersifat intuitif, perspektif, dan sangat cepat. Hal ini juga terjadi di bawah alam sadar, yang berarti sepenuhnya tidak sadar.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Sistem Lambat <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Sistem lambat yaitu bagian yang analitis dan diatur dari pengambilan keputusan seseorang dan apa yang seseorang itu pikir harus digunakan secara eksklusif. Ini adalah yang rasional dari otak manusia yang mana bisa membantu untuk memahami dan mengatasi masalah sehari-hari serta dilema dunia di sekitar kita.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Kedua sistem tersebutlah yang mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang, termasuk audiens pemasaran kalian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tips Emotional Marketing agar Branding dan Selling Meningkat <\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Disarankan kepada kalian untuk memahami psikologi dasar manusia, terutama yang terkait dengan emotional marketing seperti berikut ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Manusia pada dasarnya memiliki 5 emosi dasar, yakni:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<ul class=\"wp-block-list\">\r\n<li>Perasaan Jijik<\/li>\r\n<li>Perasaan Takut<\/li>\r\n<li>Perasaan Senang<\/li>\r\n<li>Perasaan Sedih<\/li>\r\n<li>Perasaan Marah<\/li>\r\n<\/ul>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Emosi-emosi tersebut tak hanya sekadar ekspresi\/perasaan tapi dapat juga mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang. <em>Emotional marketing<\/em> bisa berjalan dengan memancing perasaan audiens kalian dengan memilih jenis emosi mana yang ingin diasosiasikan dengan pesan <em>marketing <\/em>kalian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Setelah membaca artikel yang dipublikasikan oleh Hubspot yang berjudul <a href=\"https:\/\/blog.hubspot.com\/marketing\/emotions-in-advertising-examples\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Emotional Advertising: How Brands Use Feelings to Get People to Buy<\/a> , dapat diketahui beberapa koneksi antara perasaan tertentu dan reaksi audiens di platform online.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Rasa senang bisa picu orang untuk lebih banyak share <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Orang yang merasa senang setelah menerima pesan emotional marketing kalian, cenderung terdorong untuk membagikan kesenangan tersebut. Rasa senang juga tentunya mengimplikasikan pelanggan berbahagia atau merasa puas terhadap <em>brand <\/em>atau perusahaan kalian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Konten pemasaran yang menyedihkan picu orang untuk lebih banyak klik <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Konten yang menimbulkan emosi negatif cenderung menarik perhatian orang-orang. Dalam kasus <em>emotional marketing<\/em> satu ini, belum tentu orang mau melakukan share ke orang lain yang mereka kenal di media sosial atau <em>platform <\/em>digital lainnya yang mereka punya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Perasaan takut atau kaget yang ditimbulkan memberi urgensi untuk melakukan sesuatu\/bertindak <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><em>Case <\/em>satu ini bermanfaat untuk menyampaikan pesan layanan masyarakat atau hal-hal yang sifatnya nirlaba\/sosial\/aktivisme. Konten menakutkan memang sangat cepat untuk viral. Eitss,\u00a0 kalian perlu hati-hati, nih! Jangan sampai terlalu kontroversial hingga membuat orang membenci <em>brand <\/em>atau perusahaan kalian.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Konten yang membuat marah atau jijik bisa mengundang banyak komentar <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Kedua emosi ini bisa dikatakan susah dipacu karena butuh pesan yang sangat kuat dari <em>emotional marketing<\/em> kalian.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Meski begitu, perlu diingat bahwa daya tarik emosional dalam pemasaran bisnis sebenarnya menghadirkan risiko dan inilah yang mungkin jadi alasan mengapa beberapa <em>brand <\/em>masih menjauhi strategi kreatif ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Berlebihan dalam penerapan daya tarik emosional bisa menjadi bumerang dan terasa bagai manipulasi bagi audiens, yang bisa saja mengikis rasa <em>trust <\/em>dan kehandalan yang awalnya ingin kalian hadirkan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Bisnis yang Menerapkan Strategi Emotional Marketing <\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><em>Anyway<\/em>, bagi kalian yang menjalankan bisnis dan ingin menerapkan strategi <em>emotional marketing<\/em> dalam konten pemasaran, bisa belajar nih dari 5 <em>brand <\/em>berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>GoPay <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\">\r\n<div class=\"wp-block-embed__wrapper\">https:\/\/youtu.be\/mpLpkUFIoqc<\/div>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>GoPay menggunakan pendekatan aspirasional pada iklan akhir tahunnya. Jadi, pada iklan tersebut, GoPay menampilkan momen-momen menyenangkan, seperti <em>diving<\/em>, <em>travelling<\/em>, bermain game, dan menonton drama. Iklan tersebut mengaitkan GoPay dengan aktivitas dan gaya hidup yang menggembirakan. Selain itu, iklan tersebut juga mengajak penonton untuk menikmati liburan akhir tahun mereka dan menyampaikan bahwa konsumen bisa mendapatkan hal itu dengan GoPay.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tokopedia <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\">\r\n<div class=\"wp-block-embed__wrapper\">https:\/\/youtu.be\/goOk1VNLw-w<\/div>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Pada video di atas, Tokopedia menyoroti <em>merchant<\/em>-nya dengan mengangkat kisah inspiratif terkait kisah perjalanan mereka sebagai <em>seller <\/em>di Tokopedia dan bagaimana hal tersebut membantu <em>seller <\/em>mengatasi masalahnya. Selain itu, Tokopedia juga menggunakan pendekatan <em>storytelling <\/em>untuk menyampaikan kisah <em>seller<\/em>, membangkitkan rasa haru dan inspiratif pada penontonnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Traveloka <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\">\r\n<div class=\"wp-block-embed__wrapper\">https:\/\/youtu.be\/JKIgyiqpnzQ<\/div>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Pada video tersebut, Traveloka mengangkat tema selebrasi bersama kawan, membangkitkan rasa semangat dan kegembiraan menyambut Tahun Baru bagi penontonnya dengan menunjukkan perayaan Tahun Baru di berbagai negara. Nah, pada video tersebut, Traveloka juga menunjukkan bagaimana aplikasinya dapat membantu <em>customer <\/em>memesan tiket untuk liburan dan bersenang-senang saat Tahun Baru dengan mudah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apple <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\">\r\n<div class=\"wp-block-embed__wrapper\">https:\/\/youtu.be\/Rx0om7rWhl0<\/div>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Video Apple di atas menggunakan pendekatan <em>storytelling <\/em>untuk menyoroti produknya. Pada video ditunjukkan kisah mengenai perayaan Natal suatu keluarga mulai dari perjalanan untuk berkunjung ke rumah kakek, melihat-lihat foto dan menonton video lama, hingga makan keluarga.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Pada akhir video, ditunjukkan bahwa sang nenek pada cerita sudah meninggal tetapi mereka tetap bisa melihat video nenek mereka dan mengeditnya menjadi foto keluarga. Bagian ini juga membangkitkan rasa haru pada penonton, ditambah dengan alunan musik yang tepat.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Melalui video tersebut, Apple membangkitkan rasa kekeluargaan menjelang hari raya dan menunjukkan bagaimana produknya dapat membantu <em>customer <\/em>mengabadikan momen-momen penting bersama keluarga.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>BMW <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\">\r\n<div class=\"wp-block-embed__wrapper\">https:\/\/youtu.be\/bkho0RB0zz0<\/div>\r\n<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Pada video tersebut, BMW menunjukkan bagaimana mobilnya telah menjadi bagian dari sejarah penting, yaitu membantu beberapa orang untuk melarikan diri ke Jerman Barat. Ini sekaligus menunjukkan sepak terjang BMW sebagai <em>brand <\/em>mobil yang kuat dari dulu hingga sekarang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Selain itu, video tersebut juga menggunakan pendekatan <em>storytelling <\/em>pada ceritanya. Mulai dari membangkitkan rasa penasaran di awal, rasa tegang lalu rasa haru di akhir video. Melalui video ini, BMW menunjukkan perannya dalam kisah seseorang menuju kemerdekaan, diakhiri dengan kata-kata \u2018Freedom and independence. For all generations.\u2019, mengaitkan <em>brand<\/em>-nya dengan kebebasan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Guys, bisa dikatakan memang ada begitu banyak iklan dan konten menarik dari beragam <em>brand <\/em>yang menggunakan strategi <em>emotional marketing<\/em> untuk menarik perhatian <em>customer<\/em>. Yang terpenting adalah mengetahui siapa target konsumen brand kalian, emosi seperti apa yang ingin dibangkitkan pada strategi pemasaran tersebut, dan aspek atau fitur produk apa yang ingin diangkat agar konten atau iklan bisa memiliki fokus dan mendorong ketertarikan <em>customer<\/em>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><em>Emotional marketing<\/em> dapat juga dipraktikkan oleh <em>brand <\/em>retail untuk memasarkan produk dan meningkatkan <em>brand awareness<\/em> di berbagai platform penjualan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Oia, Jetorbit punya <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/jasa-website-toko-online\/\">Paket Website Toko Online<\/a>, lho. Kalian bisa menjual apa saja dengan toko online milik kalian sendiri! Mudah digunakan oleh siapa saja yang tentunya disertai dengan dukungan bantuan terbaik yang kalian dapatkan. Tenang, kami juga menyediakan VPS yang bisa kalian cek<a href=\"https:\/\/www.jetvm.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> di sini<\/a>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Selamat mencoba!<\/p>\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Strategi emotional marketing merupakan salah satu pendekatan yang ampuh untuk menarik perhatian konsumen. Tak heran banyak brand menerapkan strategi ini dalam iklan maupun campaign mereka. Alasannya adalah dorongan emosional lebih efektif untuk membuat target konsumen mengambil keputusan pembelian dibandingkan logika. Okay, ketahui detailnya yuk di artikel Mengenal Emotional Marketing dalam Rangka Mensukseskan Bisnis Pengertian Emotional &#8230; <a title=\"Mengenal Emotional Marketing dalam Rangka Mensukseskan Bisnis\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/mengenal-emotional-marketing-dalam-rangka-mensukseskan-bisnis\/\" aria-label=\"Read more about Mengenal Emotional Marketing dalam Rangka Mensukseskan Bisnis\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9500,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[2423,283,2419,2420,7,2421,2422],"class_list":["post-8211","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-contoh-emotional-marketing","tag-domain-murah","tag-emotional-marketing","tag-emotional-marketing-adalah","tag-hosting-murah","tag-mengaplikasikan-emotional-marketing","tag-tips-emotional-marketing","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8211","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8211"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8211\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9501,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8211\/revisions\/9501"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8211"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8211"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8211"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}