{"id":16884,"date":"2024-09-30T03:05:00","date_gmt":"2024-09-29T20:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=16884"},"modified":"2024-09-24T15:37:57","modified_gmt":"2024-09-24T08:37:57","slug":"apa-itu-metode-waterfall","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-metode-waterfall\/","title":{"rendered":"Apa Itu Metode Waterfall, Kelebihan, dan Contoh Penggunaannya"},"content":{"rendered":"\n<p>Dalam pembuatan aplikasi atau sistem informasi digital, butuh riset dulu untuk mendapatkan pendekatan yang tepat. Model SDLC (<em>Software Development Life Cycle<\/em>) <em>waterfall <\/em>dipilih karena memiliki alur kerja yang jelas dan dokumentasi yang baik. Okay deh, tanpa pakai lama, langsung simak saja yuk mengenai <strong>Apa Itu Metode Waterfall, Kelebihan, dan Contoh Penggunaannya&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Metode Waterfall?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Di dalam dunia informasi, metode <em>waterfall <\/em>adalah metode yang digunakan untuk membuat dan mengembangkan <em>software <\/em>yang prosesnya berjalan satu arah, berurutan dari atas ke bawah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya, setiap tahapan dilakukan secara berurutan, tidak bisa melompat ke tahapan setelahnya apabila tahapan sebelumnya belum dikerjakan. Metode <em>waterfall <\/em>diperkenalkan pertama kali pada tahun 1970 oleh seorang berkebangsaan Amerika Serikat yang bernama Winston W. Royce melalui makalah yang dibuatnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tahapan Metode Waterfall&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berdasarkan gambar diatas, tahapan metode waterfall ada 5.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Requirement&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sebelum mulai melakukan pengembangan sistem, <em>developer <\/em>perlu melakukan <em>survey <\/em>untuk menganalisis permasalahan dan kebutuhan dari sistem. Untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, beberapa cara yang sering dilakukan, antara lain melakukan wawancara, observasi, diskusi, dan sebagainya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Design&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tahap selanjutnya adalah merancang sistem yang sesuai dengan membuat desain. Pada tahap ini <em>developer <\/em>membuat gambaran tentang langkah-langkah yang harus dikerjakan. Tahap ini,&nbsp; membantu <em>developer <\/em>mengetahui jenis <em>hardware <\/em>yang dibutuhkan untuk digunakan dalam membangun sistem.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Implementation&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Di tahap ini <em>developer <\/em>mulai melakukan pembuatan program. Pembuatan program dilakukan dengan membuat modul-modul yang kecil. Nantinya semua modul akan digabung pada tahapan yang selanjutnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Verification&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pada tahap ini, program dilakukan uji testing. Seluruh modul yang telah dibuat, digabungkan untuk dapat saling terintegrasi. Setelah itu, dilakukan pengujian untuk memastikan sistem dapat berjalan sebagaimana mestinya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Maintenance&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tahap terakhir adalah <em>operation <\/em>dan <em>maintenance<\/em>. Pada tahap ini, sistem sudah jadi dan siap digunakan oleh pengguna. Di tahap ini, dilakukan juga pemeliharaan sistem serta perbaikan <em>bug <\/em>apabila terjadi <em>error <\/em>atau kesalahan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kelebihan Metode Waterfall<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa kelebihan dari metode <em>waterfall<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Memiliki struktur yang jelas dan sistematis&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Metode <em>waterfall <\/em>memiliki beberapa tahapan, yang mana setiap tahapan harus diselesaikan secara berurutan. Hal ini yang membuat metode <em>waterfall <\/em>mudah dalam pengelolaan dan pengawasan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Dokumentasi yang lengkap&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dokumentasi menjadi tolok ukur pertimbangan saat pemilihan metode. Menggunakan metode <em>waterfall <\/em>membuat pencatatan saat pengerjaan dapat terdokumentasi dengan baik. Sebab, setiap tahapan menghasilkan dokumentasi yang detail. Dokumentasi dibutuhkan sebagai aset saat ke depannya digunakan untuk aset dan perbaikan sistem.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Menghemat biaya&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Metode <em>waterfall <\/em>dikenal lebih hemat biaya operasional dibandingkan dengan metode SDLC lain. Sebagai pembandingnya adalah metode Agile. Metode Agile lebih fleksibel dan efisien karena metode ini terbuka dengan masukan klien sehingga tak jarang masukan-masukan yang diterima bisa mengubah alur kerja yang sudah direncanakan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Metode <em>waterfall <\/em>memiliki tahapan yang jelas sehingga memudahkan dalam memperkirakan waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Cocok untuk pengembangan <em>software <\/em>dalam skala menengah hingga besar. Alur kerja yang bertahap dan berurutan, memudahkan tim dalam pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam menyelesaikan proyek skala menengah hingga skala besar.&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kekurangan Metode Waterfall<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Anyway<\/em>, metode ini juga memiliki kekurangan, antara lain:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Perlu kerjasama&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk menyelesaikan proyek dibutuhkan koordinasi dan kerjasama yang baik pada setiap anggota tim. Perlu transparansi dalam menghadapi hambatan dalam proses pengembangannya.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Kurang Fleksibel&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Metode ini harus dikerjakan sesuai tahapan yang telah disiapkan. Apabila ada perubahan yang terjadi disaat proses pengembangan, hal ini akan berpengaruh pada tahapan yang dikerjakan sebelumnya. Metode <em>waterfall <\/em>tidak cocok untuk pengerjaan proyek yang dinamis dengan perubahan yang fleksibel.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Membutuhkan waktu yang lebih lama&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Proses pengerjaan metode ini butuh waktu lebih lama dibanding metode yang lain. Hal ini dikarenakan setiap tahapan harus dikerjakan secara berurutan dengan dokumentasi yang rinci. Kesalahan dokumentasi dapat menyebabkan kesalahan pada tahapan yang selanjutnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Gambar Metode Waterfall&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini gambar dari metode <em>waterfall<\/em>.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Apa-Itu-Metode-Waterfall-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"740\" height=\"324\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Apa-Itu-Metode-Waterfall-1.png\" alt=\"metode waterfall\" class=\"wp-image-16890\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Contoh Penggunaan Metodenya&nbsp;<\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini contoh pengembangan sistem informasi perpustakaan menggunakan Metode waterfall.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Requirement Analysis&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Mengumpulkan data kebutuhan pustakawan dan pengunjung <a href=\"https:\/\/www.perpusnas.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perpustakaan<\/a>. Melakukan analisis terkait peminjaman buku, pengembalian buku, mengelola keanggotaan, dan mengelola daftar buku.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. System Design&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Merancang <em>database <\/em>untuk menyimpan informasi data buku, transaksi, keanggotaan, serta merancang <em>interface <\/em>untuk pengguna dan pustakawan.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Implementation dan Unit Testing&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tahap pembuatan program untuk melakukan fungsi, seperti pencatatan data buku, pencatatan peminjaman dan pengembalian buku, daftar buku, serta informasi anggota.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Verifications&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Mengintegrasikan semua modul dan melakukan uji sistem untuk memastikan sistem informasi perpustakaan sudah dapat digunakan dengan baik dan benar.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Maintenance&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Menginstall sistem informasi perpustakaan dan memberikan pelatihan cara menggunakan bagi para penggunanya. Selain itu, melakukan perbaikan bila terjadi <em>bug<\/em> serta menambahkan fitur baru sesuai kebutuhan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa metode <em>waterfall <\/em>cocok digunakan untuk membuat proyek yang tidak berubah-ubah dan memiliki dokumentasi yang baik. Semoga bermanfaat ya \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pembuatan aplikasi atau sistem informasi digital, butuh riset dulu untuk mendapatkan pendekatan yang tepat. Model SDLC (Software Development Life Cycle) waterfall dipilih karena memiliki alur kerja yang jelas dan dokumentasi yang baik. Okay deh, tanpa pakai lama, langsung simak saja yuk mengenai Apa Itu Metode Waterfall, Kelebihan, dan Contoh Penggunaannya&nbsp;&nbsp; Apa Itu Metode Waterfall? &#8230; <a title=\"Apa Itu Metode Waterfall, Kelebihan, dan Contoh Penggunaannya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-metode-waterfall\/\" aria-label=\"Read more about Apa Itu Metode Waterfall, Kelebihan, dan Contoh Penggunaannya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16896,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[6658,283,7,6663,6662,6660,6659,5213,6664,5209,6661],"class_list":["post-16884","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-metode-waterfall","tag-domain-murah","tag-hosting-murah","tag-kekurangan-metode-waterfall","tag-kelebihan-metode-waterfall","tag-metode-waterfall","tag-metode-waterfall-adalah","tag-model-sdlc","tag-penggunaan-metode-waterfall","tag-software-development-life-cycle","tag-tahapan-metode-waterfall","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16884","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16884"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16884\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16939,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16884\/revisions\/16939"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16884"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16884"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16884"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}