{"id":16758,"date":"2024-08-22T11:10:13","date_gmt":"2024-08-22T04:10:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=16758"},"modified":"2024-08-14T11:40:35","modified_gmt":"2024-08-14T04:40:35","slug":"rekomendasi-framework-php-terbaik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/rekomendasi-framework-php-terbaik\/","title":{"rendered":"8+ Rekomendasi Framework PHP Terbaik untuk Developer Tahun 2024"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Framework <\/em>adalah kerangka kerja yang dibuat agar proses <em>developing <\/em>menjadi lebih praktis. Ada banyak pilihan <em>framework <\/em>PHP yang bisa dipakai, loh. Okay, tak usah pakai lama, langsung simak saja yuk mengenai <strong>8+ Rekomendasi Framework PHP Terbaik untuk Developer Tahun 2024<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Framework PHP Terbaik yang Sering Digunakan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa <em>framework <\/em>PHP terbaik dan paling populer bagi para <em>developer<\/em>. Yuk simak!<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Laravel<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika mencari <em>framework <\/em>PHP paling mudah pengoperasiannya namun tetap berkualitas luar biasa maka laravel merupakan solusi! Kalian bisa mendesain website semenawan mungkin sesuai dengan apa yang diinginkan&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya perkara visual namun laravel juga memiliki fitur-fitur bawaan yang akan menunjang pengembangan website dengan fungsional yang berkompetensi tinggi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, developernya sendiri sudah menyediakan materi yang lengkap maka mempelajari <em>framework <\/em>PHP juga terasa semakin mudah karena dukungan komunitas yang besar.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Symfony<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Symfony merupakan <em>framework <\/em>PHP untuk <em>web development<\/em> garapan SensioLabs yang sudah memiliki komunitas yang terdiri dari 300.000 <em>developer<\/em>. Meski mungkin masih kurang familiar dengan yang satu ini namun jangan merugikan kualitasnya karena hal-hal berikut ini:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Untuk memudahkan orang dari negara manapun untuk belajar, <em>developer <\/em>sudah menyediakan berbagai versi bahasa.<\/li>\n\n\n\n<li>Tetap rutin melakukan <em>update <\/em>untuk meningkatkan kompetensi <em>framework<\/em>. Selain itu, berfungsi juga untuk menjaga komunitasnya aktif.\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Memiliki fitur pengujian yang komprehensif dan dokumentasi yang sempurna.\u00a0<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><em>Anyway<\/em>, ada kekurangan yang perlu diperhatikan, seperti:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Memakan memori yang cukup banyak sehingga butuh perangkat berspesifikasi cukup tinggi. Alasannya adalah sangat bergantung pada menghasilkan kode dalam jumlah besar sehingga basis kodenya juga akan lebih banyak.<\/li>\n\n\n\n<li>Usaha yang dibutuhkan untuk mempelajari <em>framework <\/em>PHP ini dari dasar cukup besar.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Yii 2<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Apabila menilik dari waktu rilis, Yii 2 merupakan framework PHP yang tertua. Dalam sisi positifnya, Yii 2 dikenal dengan alasan sebagai berikut:&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Developernya yang begitu suportif pada komunitas.<\/li>\n\n\n\n<li>Mampu mengakomodasi secara efisien pengembangan website yang modern dan berskala besar.<\/li>\n\n\n\n<li>Jika dibandingkan dengan symfony maka Yii relatif lebih mudah untuk dipelajari.<\/li>\n\n\n\n<li>Mampu menyederhanakan operasi <em>database <\/em>dengan memberi keleluasaan developernya untuk membuat model data menjadi suatu objek. Penyederhanaan dilakukan dengan mengeliminasi keharusan untuk pengulangan SQL queries.\u00a0\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Fitur proteksi keamanan website yang terjamin.<\/li>\n\n\n\n<li>Komunitas yang juga aktif dan dokumentasi yang tersusun rapi supaya pembelajaran lebih sistematis.<\/li>\n\n\n\n<li>Mampu menangani <em>error <\/em>dengan efisien.<\/li>\n\n\n\n<li>Integrasi yang mulus dengan <em>software-software<\/em> pihak ketiga lainnya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Eitss, jangan langsung terpesona dengan kelebihannya, pertimbangkan juga kekurangan Yii 2 sebagai <em>framework <\/em>PHP karena:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kustomisasi yang cukup kompleks.<\/li>\n\n\n\n<li>Fitur yang terbatas.<\/li>\n\n\n\n<li>Tergantung pada menghasilkan kode.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. CakePHP<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Semenjak awal rilisnya di tahun 2005 di bawah lisensi MIT, <em>framework <\/em>PHP dengan nama <a href=\"https:\/\/cakephp.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CakePHP <\/a>tetap didistribusikan secara gratis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi pilihan yang sangat fleksibel untuk website kebutuhan personal maupun profesional. Tak heran perusahaan besar seperti BMW dan Hyundai mengaplikasikan salah satu&nbsp; <em>framework <\/em>PHP terbaik berikut dalam website resminya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kelebihan lain yang tidak kalah mantap dari CakePHP adalah:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Tata coding yang rapi karena adanya MVC <em>pattern<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li>Proteksi keamanan yang kuat.<\/li>\n\n\n\n<li>Memudahkan pembelajaran lewat komunitas aktif dan dokumentasi yang lengkap.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Sedangkan kekurangannya adalah:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ekosistem yang lebih kecil jika dibandingkan laravel maupun symfony.<\/li>\n\n\n\n<li>Dukungan yang terbatas pada database NoSQL.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. CodeIgniter<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika membicarakan <em>framework <\/em>PHP performa tinggi maka CodeIgniter tidak boleh dilewatkan begitu saja. CodeIgniter dipandang sebagai <em>framework <\/em>berfitur cukup canggih dan mampu mengembangkan suatu <em>project <\/em>dengan cepat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kemampuan tersebut karena kelebihannya untuk:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menjadi <em>framework <\/em>PHP yang mudah pemula pahami sehingga dapat menyelesaikan <em>project<\/em>. Terlihat dari dokumentasinya yang <em>user friendly<\/em> dan struktur <em>coding <\/em>yang intuitif.<\/li>\n\n\n\n<li>Bisa membuat <em>developer <\/em>mengembangkan kreativitasnya tanpa harus pusing berurusan dengan rangkaian <em>coding <\/em>yang bertumpuk-tumpuk.<\/li>\n\n\n\n<li>Fleksibilitas tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Ukurannya ringan sehingga pengoperasiannya pun cepat.\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Pengaturan rangkaian <em>coding <\/em>sesuai pola MVC.<\/li>\n\n\n\n<li>Efisien menangani permintaan HTTP\/<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Sayangnya masih ada kekurangan yang terdapat di sini seperti :&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fitur yang jumlahnya relatif terbatas.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Update <\/em>yang cenderung lebih lambat.<\/li>\n\n\n\n<li>Ekosistem yang kecil pada ekstensi dan <em>plugin<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Laminas&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Framework <\/em>PHP yang awalnya bernama Zend Framework merupakan <em>software <\/em>yang <em>open source<\/em> dan dikenal karena:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Memiliki komponen yang bisa dipakai di <em>platform <\/em>manapun.<\/li>\n\n\n\n<li>Skalabilitas yang fleksibel.<\/li>\n\n\n\n<li>Dokumentasi yang lengkap sehingga opsi <em>coding <\/em>yang bisa dipakai lebih luas.<\/li>\n\n\n\n<li>Mampu mengoptimasi performa.\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Menjamin keamanan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Untuk kekurangannya sebagai berikut :&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kurang cocok untuk <em>project <\/em>kecil.<\/li>\n\n\n\n<li>Komunitas yang masih tergolong kecil.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>7. Phalcon<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Phalcon bisa dibilang sebagai <em>framework <\/em>dengan gaya rangkaian <em>coding <\/em>yang unik terinspirasi oleh bahasa pemrograman C dan C++.&nbsp;<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Rekomendasi-Framework-PHP-Terbaik-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"574\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Rekomendasi-Framework-PHP-Terbaik-1.png\" alt=\"framework php\" class=\"wp-image-16759\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Rekomendasi-Framework-PHP-Terbaik-1.png 1024w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/Rekomendasi-Framework-PHP-Terbaik-1-800x448.png 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Akan tetapi, jelas tidak berhenti pada keunikan tapi Phalcon turut menawarkan:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fitur yang canggih mencakup manajemen aset, <em>caching<\/em>, dan <em>autoloader <\/em>universal untuk mewujudkan website yang mulus.<\/li>\n\n\n\n<li>Interface yang <em>user friendly<\/em> dan dokumentasi komprehensif.\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Penyederhanaan pengembangan PHP.\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Kebutuhan sumber daya server yang kecil.<\/li>\n\n\n\n<li>Integrasi mulus dengan framework PHP lain.<\/li>\n\n\n\n<li>Komunitas yang aktif dan terdedikasi.\u00a0<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, phalcon juga memiliki kekurangan seperti :&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Dukungan hosting yang terbatas.<\/li>\n\n\n\n<li>Ekosistem yang sempit.<\/li>\n\n\n\n<li>Fleksibilitas terbatas untuk kustomisasi dan ekstensi.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>8. Slim Framework<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam pemakaiannya, Slim begitu ideal untuk pengembangan website ataupun aplikasi berskala kecil. Kalian bisa menikmati berbagai hal ini saat memakainya:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Kompatibel untuk membangun sistem berbasis RESTful API dan layanan website lainnya.\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Fitur yang bagus, seperti URL routing, sesi manajemen, enkripsi <em>cookie encryption<\/em>, dan sebagainya.<\/li>\n\n\n\n<li>Fondasi yang solid menangani respon dan permintaan HTTP.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Sebagaimana <em>framework <\/em>lainnya, Slim pun tidak lepas dari kekurangan, seperti:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Fitur yang terbatas, tidak sebanyak <em>framework <\/em>lainnya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ekosistem yang terbatas.\u00a0<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>9. FuelPHP<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam membantu penggunanya mengembangkan aplikasi atau website dengan maksimal, inilah manfaat yang <em>framework <\/em>PHP sajikan:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sistem pemetaan objek yang kuat.<\/li>\n\n\n\n<li>Fitur keamanan yang tangguh.<\/li>\n\n\n\n<li>Pola <em>Model-View-Controller<\/em> (HMVC) yang tersistematis dengan baik.<\/li>\n\n\n\n<li>Sistem konfigurasi yang fleksibel.<\/li>\n\n\n\n<li>Mekanisme <em>caching<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>10. PHPPixie<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Performa tinggi untuk program<em> full stack<\/em> yang memang cocok untuk pendesainan aplikasi ataupun website, deskripsi yang tepat menggambarkan PHPPixie. Pernyataan ini tidaklah berlebihan karena:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Sistemnya yang mengikuti pola <em>Hierarchical Model-View-Controller<\/em> (HMVC) dengan komponen yang terinstal secara independen.<\/li>\n\n\n\n<li>Ringan dan berperforma cepat.<\/li>\n\n\n\n<li>Integrasi yang mulus dengan pemetaan berbasis objek.<\/li>\n\n\n\n<li>Fitur mengoptimasi performa.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Sedangkan kekurangannya adalah:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ekosistem yang masih kecil.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Update <\/em>frekuensi relatif lambat.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>11. Fat-Free&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Fat-Free merupakan PHP <em>framework <\/em>yang juga dikenal sebagai F3. Fat-Free merupakan <em>framework <\/em>berbasis <em>open source<\/em> yang difokuskan membangun aplikasi atau website berkompetensi tinggi. Kemampuan yang timbul disebabkan oleh:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menyediakan ORM (<em>Object-Relational Mapping<\/em>).<\/li>\n\n\n\n<li>Basis kode yang ringan.<\/li>\n\n\n\n<li>Menyediakan alat untuk validasi data dan fitur keamanan.<\/li>\n\n\n\n<li><em>Routing <\/em>URL berperforma tinggi.<\/li>\n\n\n\n<li>Mesin <em>cache <\/em>multiprotokol.<\/li>\n\n\n\n<li>Penyorotan kode bawaan.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p>Di balik itu, ia memiliki kekurangan dalam hal:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ekosistem yang masih kecil.<\/li>\n\n\n\n<li>Kurang dapat diperluas skalabilitasnya.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Fungsi Framework PHP<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa fungsi <em>framework <\/em>PHP:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Kode lebih terstruktur<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Terstruktur disini maksudnya adalah program yang dibuat akan dimasukkan ke dalam setiap komponen sesuai dengan fungsi masing-masing. Salah satu contohnya adalah Laravel yang menggunakan konsep MVC.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Model berfungsi untuk wadah kode program berupa algoritma pemrograman dan penghubung <em>database <\/em>aplikasi. <em>View <\/em>berfungsi sebagai tempat menampung kode program untuk membuat tampilan yang akan ditampilkan. Sedangkan <em>controller <\/em>berfungsi untuk menghubungkan model dan <em>view <\/em>menjadi sebuah website utuh.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Membantu kinerja developer<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kalian sudah pasti berpikir bahwa sebenarnya dalam membuat sebuah aplikasi dapat dilakukan tanpa menggunakan bantuan <em>framework<\/em>. Ya tentu bisa namun jika proyek masih dalam lingkup kecil. Sebabnya adalah agar dapat efisien dalam segi waktu makanya <em>framework <\/em>memang pilihan yang tepat untuk hal tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Mempercepat pembuatan website&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Bukan berarti pembuatan website yang baik dilakukan dengan cepat saja namun juga dilakukan dengan lebih cepat untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan <em>customer<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pengembang aplikasi hanya perlu menggunakan komponen yang sudah tersedia dalam <em>framework <\/em>sehingga tidak perlu lagi menyusun ulang kode dari awal.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Simpulan<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Okay, jadi itulah pembahasan mengenai framework PHP terbaik yang bisa kalian gunakan di tahun 2024 ini. Semua opsi <em>framework <\/em>PHP tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Poin utamanya sih semuanya kembali pada kebutuhan kalian.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga bermanfaat ya \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Framework adalah kerangka kerja yang dibuat agar proses developing menjadi lebih praktis. Ada banyak pilihan framework PHP yang bisa dipakai, loh. Okay, tak usah pakai lama, langsung simak saja yuk mengenai 8+ Rekomendasi Framework PHP Terbaik untuk Developer Tahun 2024 Framework PHP Terbaik yang Sering Digunakan Berikut ini beberapa framework PHP terbaik dan paling populer &#8230; <a title=\"8+ Rekomendasi Framework PHP Terbaik untuk Developer Tahun 2024\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/rekomendasi-framework-php-terbaik\/\" aria-label=\"Read more about 8+ Rekomendasi Framework PHP Terbaik untuk Developer Tahun 2024\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16770,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[283,6506,6505,6507,7],"class_list":["post-16758","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-domain-murah","tag-framework-php","tag-framework-php-terbaik","tag-fungsi-framework-php","tag-hosting-murah","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16758"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16760,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16758\/revisions\/16760"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16770"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}