{"id":16329,"date":"2024-04-25T02:05:00","date_gmt":"2024-04-24T19:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=16329"},"modified":"2024-04-23T15:33:14","modified_gmt":"2024-04-23T08:33:14","slug":"rekomendasi-framework-backend","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/rekomendasi-framework-backend\/","title":{"rendered":"7+ Rekomendasi Framework Backend 2024 dan Tips Memilihnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Dalam dunia pemrograman, ada banyak sekali istilah khusus yang digunakan, salah satunya adalah <em>framework backend<\/em>. Salah satu fungsinya adalah menyederhanakan integrasi pemakainya. Okay, tanpa pakai lama, langsung simak detail ulasannya yuk mengenai <strong>7+ Rekomendasi Framework Backend 2024 dan Tips Memilihnya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Rekomendasi Framework Backend di Tahun 2024<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Framework backend memudahkan pekerjaan <em>back-end developer<\/em>, terutama untuk menciptakan <em>software<\/em>, aplikasi HP, atau website. Yuk simak selengkapnya berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Node js<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Node js memungkinkan untuk mengolah dan mengembangkan website dengan cara yang sederhana. Sudah tahukah kalian bahwa <em>backend framework<\/em> ini diciptakan oleh mesin Google V8 JavaScript?<\/p>\n\n\n\n<p>Para pengembang biasanya memanfaatkan Node js guna membangun aplikasi <em>real-time<\/em>, contohnya aplikasi <em>chatting<\/em>, <em>game online<\/em>, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Perusahaan dunia yang menggunakan <em>backend framework<\/em> ini adalah Netflix dan Walmart. Alasan memilih Node.js karena cara kerjanya juara dan skalabilitasnya jauh lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Ruby on Rails (ROR)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Framework backend<\/em> ini juga bisa dijadikan sebagai pilihan sebab ROR memiliki kemampuan pengembangan yang cepat dan teruji.<\/p>\n\n\n\n<p>Perusahaan dunia yang telah menggunakan ROR antara lain Airbnb, Shopify serta GitHub. Apabila perusahaan kalian tipikal yang sering mendapatkan proyek cepat dengan <em>deadline <\/em>yang mepet maka silakan gunakan <em>backend framework<\/em> ini.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. ASP.NET<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pada tahun 2002, Microsoft memperkenalkan produk terbaru mereka, yakni ASP. NET sebagai <em>software framework<\/em>. Nah, bagi kalian yang sejak awal memang cenderung menggunakan produk Microsoft, bisa sekali nih mencoba untuk memakai ASP. NET.<\/p>\n\n\n\n<p>ASP. NET menawarkan berbagai fitur menarik yang memungkinkan untuk membuat aplikasi seluler maupun aplikasi website dengan mudah. ASP. NET juga cocok loh untuk pembuatan <em>game<\/em>, IoT, atau <em>cloud<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. CakePHP<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Backend framework<\/em> ini paling banyak dipakai loh dan berfungsi untuk menjaga stabilitas aplikasi agar data-datanya tidak bocor keluar.<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah tahukah kalian bahwa pemilik lisensi dari CakePHP adalah MIT? Jadi, bisa dibayangkan ya betapa berkualitasnya <em>backend framework <\/em>ini untuk membangun aplikasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Laravel<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Laravel pertama kali rilis pada tahun 2011 dan hingga saat ini website Laravel telah berkembang semakin pesat hingga jumlahnya melebihi ribuan. Oia, <em>backend framework<\/em> ini terkenal memiliki sistem yang sederhana dengan tampilan elegan, loh.<\/p>\n\n\n\n<p>Laravel sangat memungkinkan untuk membuat aplikasi web yang memiliki kinerja level dewa. Makanya perusahaan sekelas MasterCard dan Bitpanda mempercayakan pengelolaan aplikasi web kepada Laravel.<\/p>\n\n\n\n<p>Kelebihan memakai Laravel adalah memiliki otorisasi dan otentikasi pengguna yang sempurna. Hal tersebut memungkinkan untuk mengakses sumber daya dengan mudah, cepat, dan aman.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Express.js<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Express.js merupakan <em>framework backend<\/em> yang cara kerjanya sederhana dan mudah sehingga siapa saja bisa menguasainya dengan cepat. Bahkan bagi yang tidak memiliki latar belakang IT sekalipun.<\/p>\n\n\n\n<p>Express.js telah didukung dengan mesin V8 Google yang mampu meningkatkan proses pengembangan aplikasi web sehingga dapat bekerja dengan baik dan tanpa kendala.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa perusahaan yang menggunakan Express.jas sebagai <em>backend framework <\/em>adalah MySpace, Geeklist, Countly, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>7. Django<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Django termasuk <em>backend framework<\/em> senior karena dirilis pertama kali pada Juli 2005. FYI, <em>backend framework<\/em> ini merupakan kerangka kerja berbasis Python yang efektif untuk mendorong pembangunan web yang super cepat.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Anyway<\/em>, melalui Django inilah kamu akan menemui kemudahan untuk membagi proyek menjadi sejumlah aplikasi. Sehingga, proses <em>coding <\/em>juga lebih sederhana dan efisien. Oia, Django juga menawarkan sistem keamanan terbaik dan profesional, ya.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa perusahaan yang menggunakan Django adalah Instagram, Mozilla, Spotify hingga National Geographic.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>8. Flask<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Framework backend<\/em> ini dirilis atas prakarsa dari Armin Ronacher. Uniknya, popularitas Flask mengalami lonjakan tinggi setelah muncul candaan April Mop. Perusahaan yang bermitra dengan Flask antara lain Samsung dan Trivago.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/flask.palletsprojects.com\/en\/3.0.x\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Flask <\/a>banyak disukai oleh <em>programmer <\/em>karena memiliki desain sederhana yang ringan sehingga mudah untuk dikuasai. Proses pembangunan aplikasi juga sangat sederhana dan cepat. Flask juga menyediakan fitur ekstensi yang memungkinkan pengguna untuk mendapatkan fitur yang lebih baik dan lengkap.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>9. Codeigniter<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Codeigniter adalah salah satu <em>framework <\/em><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/panduan\/cara-mengaktifkan-ekstensi-php-di-directadmin\/\">PHP <\/a>yang telah membantu <em>developer <\/em>menjalankan aplikasi web sejak tahun 2006. <em>Backend framework<\/em> ini populer karena dapat membangun aplikasi web secara menyeluruh dengan cara sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p>Codeigniter memberikan kebebasan sepenuhnya pada pengguna untuk menjalankan pemrograman web sesuai dengan keinginannya, loh. Perusahaan yang bekerja sama dengan <em>backend framework<\/em> ini adalah Ola, Buffer, Accenture, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tips Memilih Framework untuk Backend&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Nah, supaya kalian tidak kebingungan dalam memilih<em> backend framework<\/em>, yuk perhatikan beberapa tips atau parameter pemilihannya berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Cek Performa dan Kecepatannya<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Langkah awal adalah bagaimana performa dan kecepatan dari <em>backend framework <\/em>tersebut. Coba gunakan sumber daya lainnya untuk mengecek performa, seperti menginput disk atau kartu memori.<\/p>\n\n\n\n<p>Oia, kalian perhatikan juga ya apakah <em>backend framework <\/em>tersebut mampu menjalankan lebih dari satu tugas dengan mudah dan cepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi terbaik bagi yang bekerja dalam bidang perhotelan adalah silakan gunakan Django atau Laravel. Sebab, keduanya menghadirkan sistem keamanan dan performa kerja yang baik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Konfigurasi vs Konvensi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sederhananya, apabila ingin mengimplementasikan fungsionalitas yang ringan dan standar seperti otentikasi, koneksi <em>database <\/em>dan lainnya maka silakan pilih <em>backend framework<\/em> yang memiliki konvensi sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, perangkatnya apa saja nih? Kalian bisa memilih Django, ROR, ASP.NET hingga Laravel. Namun, kebalikannya, apabila kalian lebih suka <em>backend framework<\/em> yang fungsionalitasnya lebih spesifik dan perlu <em>upgrade <\/em>cepat maka silakan pilih konfigurasi. Sistem konfigurasi akan ditemukan pada <em>backend framework<\/em>, seperti Express.js.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Bahasa Pemgrograman<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tips terakhir adalah silakan pilih<em> backend framework<\/em> yang bahasa pemrogramannya sesuai dengan harapan kalian, ya. Setiap orang tentunya memiliki standar pemrograman yang berbeda, semahir, dan secerdas apapun mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak sedikit loh yang memilih <em>backend framework<\/em> dengan bahasa pemrograman level rendah hingga sedang karena masih belajar dunia pemrograman. Namun, banyak juga yang lebih suka bahasa pemrograman level tinggi. Alasannya adalah fitur dan kualitas yang diberikan <em>backend framework<\/em> tersebut juga jauh lebih lengkap.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi bagaimana, kalian sudah punya rencana mau menggunakan framework backend yang mana, nih? Atau, justru kalian sudah menggunakan salah satu dari yang sudah disebutkan di atas? Sharing yuk, siapa tahu ada yang sedang butuh insight nih dari kalian \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam dunia pemrograman, ada banyak sekali istilah khusus yang digunakan, salah satunya adalah framework backend. Salah satu fungsinya adalah menyederhanakan integrasi pemakainya. Okay, tanpa pakai lama, langsung simak detail ulasannya yuk mengenai 7+ Rekomendasi Framework Backend 2024 dan Tips Memilihnya Rekomendasi Framework Backend di Tahun 2024 Framework backend memudahkan pekerjaan back-end developer, terutama untuk menciptakan &#8230; <a title=\"7+ Rekomendasi Framework Backend 2024 dan Tips Memilihnya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/rekomendasi-framework-backend\/\" aria-label=\"Read more about 7+ Rekomendasi Framework Backend 2024 dan Tips Memilihnya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16330,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[283,7,6058,6056,6057],"class_list":["post-16329","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-domain-murah","tag-hosting-murah","tag-memilih-framework","tag-rekomendasi-framework-backend","tag-tips-memilih-framework","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16329","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16329"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16329\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16331,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16329\/revisions\/16331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16330"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16329"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16329"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16329"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}