{"id":14927,"date":"2023-11-07T08:52:48","date_gmt":"2023-11-07T01:52:48","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=14927"},"modified":"2023-10-23T15:52:02","modified_gmt":"2023-10-23T08:52:02","slug":"apa-itu-flask","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-flask\/","title":{"rendered":"Apa Itu Flask, Kelebihan, dan Cara Setup Flask Python di cPanel"},"content":{"rendered":"<p>Meski telah menjadi <em>framework <\/em>Python namun masih sedikit pemula yang belum memahami tentang apa itu Flask. Apakah kalian juga termasuk orang yang belum paham? Santuy. Kalau begitu langsung simak saja yuk <strong>Apa Itu Flask, Kelebihan, dan Cara Setup Flask Python di cPanel<\/strong><\/p>\n<h2><strong>Apa Itu Flask?\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p><a href=\"https:\/\/flask.palletsprojects.com\/en\/3.0.x\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Flask<\/a> adalah framework web yang ditulis menggunakan bahasa pemrograman Python. Seperti\u00a0framework lain, Flask memudahkan developer membuat aplikasi, karena menyediakan template script yang bisa dipakai oleh developer kapan saja.<\/p>\n<p>Secara kategori, Flask termasuk dalam micro framework. Artinya, Flask adalah framework minimalis yang fiturnya tidak selengkap full stack framework. Namun, karena ukuran framework Python ini cukup ringan, kinerja Flask menjadi cenderung lebih gesit.<\/p>\n<p>Selain itu, Flask sangat cocok dengan berbagai macam extensions yang bisa dimanfaatkan oleh developer untuk menambah fitur-fiturnya. Salah satu contoh extensions untuk Flask adalah Google App Engine.<\/p>\n<p>Tidak mengherankan apabila framework Flask kerap digunakan untuk membangun aplikasi web, baik berskala kecil maupun besar. Misalnya System as a Service (SaaS), Progressive Web App (PWA), atau Microservice.<\/p>\n<h2><strong>Fungsi Flask\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p>Flask adalah <em>framework <\/em>yang berfungsi untuk memudahkan developer dalam membuat aplikasi dan tampilan sebuah website. Hal ini bisa terjadi karena Flask memiliki template script yang bisa dipakai oleh developer. Web yang terstruktur dan behaviour yang teratur dapat dikembangkan menggunakan Flask dan bahasa Python.<\/p>\n<p>Mayoritas fungsi dan komponen umum, seperti database, validasi form, dan lain-lain bukanlah fungsi bawaan Flask. Hal ini karena fungsi dari komponen-komponen tersebut telah disediakan oleh pihak ketiga. Flask dapat memakai ekstensi yang membuat fitur serta komponen-komponen tersebut seolah-olah diterapkan oleh Flask sendiri.<\/p>\n<p>Karena termasuk micro framework, Flask dapat membuat core aplikasi sesederhana mungkin sehingga tetap dapat dengan mudah ditambahkan. Hasilnya, fleksibilitas dan skalabilitas Flask cukup tinggi jika\u00a0 dibandingkan dengan framework lain.<\/p>\n<h2><strong>Kelebihan Flask<\/strong><\/h2>\n<p>Berikut ini beberapa kelebihan bila diterapkan dalam sebuah aplikasi web, antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h3><strong> Sederhana\u00a0<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Flask adalah framework yang cocok digunakan untuk pemula. Selain mudah dipahami, Flask juga memiliki tampilan yang cukup sederhana. Sebagai developer, Anda akan dimudahkan dalam membuat navigasi serta aplikasi. Flask memberi Anda kendali penuh dalam pengembengan web. Inilah yang membedakan Flask dengan framework yang lain.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<h3><strong> Fleksibel\u00a0\u00a0<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Berbeda dengan framework lain, Flask adalah framework minimalis yang setiap bagiannya dapat dibuka dan diubah. Flask juga menawarkan template yang memungkinkan Anda memakai user interface yang sama untuk halaman berbeda.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>\n<h3><strong> Testing <\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan Flask, Anda dapat melakukan pengujian unit melalui dukungan terintegrasi, debugger cepat, server pengembangan bawaaan dan permintaan RESTful. Selain itu, Anda juga bisa transit ke kerangka web secara mudah, cukup dengan beberapa ekstensi. Hal ini dapat terjadi karena Flask yang sangat ringan.<\/p>\n<h2><strong>Kekurangan Flask<\/strong><\/h2>\n<p>Beberapa kekurangan Flask adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h3><strong> Sumber Tunggal\u00a0\u00a0<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Sebagai sumber tunggal, Flask akan menangani perintah satu per satu, alias bergilir. Sehingga, Anda harus melayani lebih dari satu permintaan yang tentu saja memakan banyak waktu.\u00a0 Jadi jika Anda hanya memiliki sedikit alat, Anda perlu menginstal modul lebih banyak. Namun, hal ini bisa diminimalisasi apabila dengan menggunakan hosting khusus Python.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<h3><strong> Penggunaan Modul\u00a0\u00a0<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keterlibatan pihak ketiga ketika menggunakan modul sebenarnya memiliki potensi mendatangkan bahaya. Bagaimana tidak? Keterlibatan modul ini membuat proses dan pengembangan bukan lagi urusan antara web framework dan developer saja. Dampaknya, risiko keamanan akan meningkat apabila ternyata ada modul berbahaya yang disertakan.<\/p>\n<h2><strong>Perbedaan Flask dan Django<\/strong><\/h2>\n<p>Keduanya sama-sama punya komunitas pengguna yang matang, mapan, masyhur serta didukung secara luas.<\/p>\n<h3><strong>Tabel Perbedaan\u00a0<\/strong><\/h3>\n<p>Berikut ini rangkuman perbedaan antara kedua <em>framework <\/em>tersebut:<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>No<\/strong><\/td>\n<td><strong>Flask<\/strong><\/td>\n<td><strong>Django<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>1.<\/td>\n<td>Micro framework<\/td>\n<td>Full-stack framework<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>2.<\/td>\n<td>Dengan Flask, developer dapat menjelajah dan menjaga kontrol dari inti aplikasi.<\/td>\n<td>Dengan Django, developer mempunyai akses ke banyak fitur umum.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>3.<\/td>\n<td>Flask adalah framework yang tidak mempunyai banyak fitur untuk menangani tugas administrasi.<\/td>\n<td>Django memiliki fitur admin framework yang siap pakai dan bisa disesuaikan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>4.<\/td>\n<td>Template Flask Jinja 2 didasari oleh template Django.<\/td>\n<td>Django hadir dengan template built-in, sehingga waktu pengembangan bisa lebih cepat.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>5.<\/td>\n<td>Setiap proyek yang dikerjakan pada Flask dapat menjadi sebuah single application, sehingga bermacam-macam model serta tampilan bisa ditambahkan pada single application.<\/td>\n<td>Dengan Django, Anda dapat membagi satu proyek menjadi beberapa aplikasi kecil yang membuatnya lebih mudah untuk dikembangkan.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>6.<\/td>\n<td>Dengan Flask, developer dapat menggunakan database yang berbeda dengan sistem ORM untuk Python dan SQLAlchemy sebagai SQL toolkit. Kueri SQL harus ditulis untuk tugas umum.<\/td>\n<td>berbeda dengan sistem ORM untuk Python dan SQLAlchemy sebagai SQL toolkit. Kueri SQL harus ditulis untuk tugas umum. Berbeda dengan Django, di mana sistem built-in ORM memungkinkan developer untuk memakai beragam database dan melakukan tugas DB umum tanpa harus menulis kueri yang panjang.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>7.<\/td>\n<td>Pada Flask, aplikasi sederhana bisa diubah untuk menambah fungsionalitas dan membuatnya kompleks.<\/td>\n<td>Sementara Django lebih cocok digunakan untuk project yang membutuhkan perubahan dinamis.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>8.<\/td>\n<td>Flask adalah aplikasi simpel yang dapat dibangun dengan mudah, serta tidak terlalu membutuhkan banyak coding.<\/td>\n<td>Django lebih cocok digunakan untuk proyek besar yang membutuhkan banyak fungsi.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>9.<\/td>\n<td>Flask lebih terbuka, tetapi developer belum tentu dapat melakukannya dengan baik.<\/td>\n<td>Django memastikan bahwa developer dapat melakukan pekerjaan dengan baik karena semuanya mempunyai template.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>10.<\/td>\n<td>Flask adalah framework yang memerlukan lebih sedikit baris kode untuk tugas sederhana.<\/td>\n<td>Django butuh lebih dari 2 kali lebih banyak baris kode dibanding Flask, untuk fungsionalitas yang sama.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>Mana yang lebih baik di antara keduanya? Jawabannya tentu tergantung kebutuhan. Jika ingin membuat aplikasi atau website sederhana, Flask adalah pilihan yang tepat. Namun, bagi yang butuh banyak fitur untuk website atau aplikasi maka Django dapat menjadi pilihan yang lebih pas.<\/p>\n<h2><strong>Cara Setup Flask Python di cPanel<\/strong><\/h2>\n<p>Tutorial\u00a0kali ini menggunakan Python versi 3.7.3. Cara ini dapat digunakan pada Python versi 3.x lainnya. Namun, cara ini tidak bisa dipakai untuk versi yang lebih rendah, seperti 2.x. Langkah-langkah setup Flask adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p><strong>Step 1. Setup Python Application\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Login ke <strong>cPanel <\/strong>hosting =&gt; cari menu \u201c<strong>Setup Python App<\/strong>\u201d.<\/li>\n<li>Klik <strong>Create Application<\/strong> di bagian kanan.<\/li>\n<li>Akan muncul tampilan seperti di bawah ini: <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-14941 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-1-800x420.png\" alt=\"apa itu flask\" width=\"800\" height=\"420\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-1-800x420.png 800w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-1.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/a><\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"4\">\n<li>Lengkapi data dengan panduan berikut:<\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li><strong>Python version:<\/strong> Pilih versi python terbaru.<\/li>\n<li><strong>Application root: <\/strong>isi folder root yang akan jadi tempat Flask diinstal. Sebagai contoh, di panduan kami menggunakan \u201c<strong>myapp<\/strong>\u201d .<\/li>\n<li><strong>Application URL:<\/strong> pilih domain\/subdomain yang akan memakai Flask. Dalam panduan ini, kami menggunakan domain utama.<\/li>\n<li>Kalian dapat mengosongkan bagian <strong>Application startup file<\/strong> dan <strong>Application Entry Point<\/strong>.<\/li>\n<li>Klik <strong>CREATE <\/strong>di pojok kanan atas.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sebelum melanjutkan ke Step 2, pilih <strong>copy command virtual environment<\/strong> di bagian atas.<\/p>\n<p><strong>Step 2. Setup Flask<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Login SSH<\/strong> ke akun hosting atau akses menu <strong>Terminal <\/strong>di cPanel.<\/li>\n<li>Aktifkan <strong>virtual environment <\/strong>dengan cara <strong>Copy-Paste command<\/strong> yang diperoleh pada tahap sebelumnya.<\/li>\n<li>Untuk menginstal Flask, jalankan command di bawah ini:<\/li>\n<\/ol>\n<p>pip install flask<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Masuk ke folder di mana project di instal. Dalam panduan ini memakai folder \u201c<strong>myapp<\/strong>\u201d.<\/li>\n<li><strong>Buat file dengan ekstensi .py<\/strong> (contoh:\u201c<strong>py<\/strong>\u201d). <strong>Isi dengan script<\/strong> berikut:<\/li>\n<\/ol>\n<p>from flask import Flask<\/p>\n<p>app = Flask(__name__)<\/p>\n<p>@app.route(&#8216;\/&#8217;)<\/p>\n<p>def hello_world():<\/p>\n<p>return &#8216;INI HOME DARI FLASK\u2026\u2026\u2026\u2026\u2019<\/p>\n<p>Lalu klik <strong>SAVE<\/strong>.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li>Masih di dalam folder project Flask, <strong>cari dan edit file dengan nama passenger_wsgi.py =&gt; hapus script default<\/strong> <strong>=&gt; isikan script <\/strong>di bawah ini:<\/li>\n<\/ol>\n<p>from myfl import app as application<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li><strong>Sesuaikan bagian myfl dengan nama file .py<\/strong> yang dibikin sebelumnya.<\/li>\n<li><strong>Restart application <\/strong>pada \u201c<strong>Setup Python App<\/strong>\u201d di cPanel.<a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-2.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-14942 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-2.png\" alt=\"apa itu flask\" width=\"740\" height=\"389\" \/><\/a><\/li>\n<li>Terakhir, <strong>akses domain\/subdomain yang dipakai<\/strong> untuk instalasi python. Berikut contoh hasil akses yang telah dibuat. <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-14943 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-3-800x420.png\" alt=\"flask\" width=\"800\" height=\"420\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-3-800x420.png 800w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Apa-Itu-Flask-3.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/a><\/li>\n<\/ol>\n<h2><strong>Simpulan <\/strong><\/h2>\n<p>Flask adalah <em>framework <\/em>yang cocok digunakan oleh pemula. Salah satunya karena Flask mudah dipahami, cukup sederhana, dan minimalis karena setiap bagiannya bisa dibuka serta diubah.<\/p>\n<p>Semoga bermanfaat dan selamat mencoba \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski telah menjadi framework Python namun masih sedikit pemula yang belum memahami tentang apa itu Flask. Apakah kalian juga termasuk orang yang belum paham? Santuy. Kalau begitu langsung simak saja yuk Apa Itu Flask, Kelebihan, dan Cara Setup Flask Python di cPanel Apa Itu Flask?\u00a0 Flask adalah framework web yang ditulis menggunakan bahasa pemrograman Python. &#8230; <a title=\"Apa Itu Flask, Kelebihan, dan Cara Setup Flask Python di cPanel\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-flask\/\" aria-label=\"Read more about Apa Itu Flask, Kelebihan, dan Cara Setup Flask Python di cPanel\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14945,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[5475,283,5476,5477,2863,7,5479,5478,5480,5481],"class_list":["post-14927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-flask","tag-domain-murah","tag-flask-adalah","tag-fungsi-flask","tag-hosting-domain","tag-hosting-murah","tag-kekurangan-flask","tag-kelebihan-flask","tag-perbedaan-flask-dan-django","tag-setup-flask-python","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14927"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14927\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14946,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14927\/revisions\/14946"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14945"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}