{"id":13953,"date":"2023-05-29T01:53:00","date_gmt":"2023-05-28T18:53:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=13953"},"modified":"2023-05-25T14:14:17","modified_gmt":"2023-05-25T07:14:17","slug":"apa-itu-prototype","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-prototype\/","title":{"rendered":"Apa Itu Prototype, Manfaat, dan Langkah Membuatnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada yang belum paham tentang <em>prototype<\/em>? Eitss, itu langkah penting loh dalam menciptakan produk yang suksess, baik produk fisik dan digital. Wah, kalau ada yang belum tahu sama sekali tentang <em>prototype<\/em>, langsung simak saja yuk <strong>Apa Itu Prototype, Manfaat, dan Langkah Membuatnya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Prototype?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Prototype <\/em>adalah model awal produk yang dibuat untuk menguji fungsionalitas, desain, dan kinerjanya sebelum diproduksi dalam skala besar. Tujuannya adalah menguji ide produk dan melakukan perbaikan sebelum merilis ke pasar.<\/p>\n\n\n\n<p>Bentuk prototipe bisa fisik maupun digital, sesuai jenis produk yang akan diuji. Bahan yang digunakan juga bermacam-macam loh, mulai dari kertas, kayu, plastik, hingga printer 3D.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Jenis Prototype<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini jenis-jenis <em>prototype<\/em>:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Paper Prototype<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Paper prototype<\/em> adalah jenis prototipe yang paling sederhana dan murah. Sesuai namanya, <em>paper prototype<\/em> dibuat menggunakan kertas, pensil, atau alat tulis lainnya. Oia, contoh dari <em>paper prototype<\/em> adalah sketsa tampilan web dan kemasan kertas.<\/p>\n\n\n\n<p>Biasanya, prototipe kertas digunakan untuk menguji ide desain pada tahap awal pengembangan produk. Namun, jenis <em>prototype <\/em>ini terbatas pada produk yang sederhana dan tak bisa terlalu menunjukkan kekuatan fisik produk.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Low-fidelity Prototype<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Low-fidelity prototype<\/em> adalah <em>prototype <\/em>versi lebih detail dibanding <em>paper prototype<\/em>. Umumnya terbuat dari karton, <em>software<\/em>, hingga cetakan 3D. Jenis <em>prototype <\/em>ini digunakan untuk mengetes fungsionalitas dan <em>user experience<\/em> produk.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. High-fidelity Prototype<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>High-fidelity prototype<\/em> adalah jenis yang memiliki model paling canggih dan sangat mirip dengan produk final, baik dalam sisi tampilan sampai fungsionalitas. Tujuan dari&nbsp; <em>prototype <\/em>jenis ini digunakan menjelang pengembangan produk final.<\/p>\n\n\n\n<p>Dibandingkan jenis prototipe lainnya, <em>high-fidelity prototype<\/em> dibuat untuk menguji tampilan, fungsi, hingga <em>user experience<\/em> yang lebih akurat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Manfaat Prototype Bagi Bisnis<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini peran <em>prototype <\/em>dalam langkah pengembangan produk:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Membantu kolaborasi antartim dengan presentasi produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>FYI, <em>prototype <\/em>adalah salah satu alat bantu agar komunikasi dan kolaborasi tim lebih kuat. Sebab, <em>prototype <\/em>mampu menampilkan visualisasi produk yang bisa dilihat dan disentuh langsung oleh para anggota tim.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Menghemat waktu dan menekan biaya produksi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Meski memang butuh sejumlah biaya, membuat <em>prototype <\/em>justru akan menghindarkan dari potensi kehilangan waktu dan biaya pengembangan produk yang lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Mengidentifikasi masalah pada produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Manfaat prototipe berikutnya adalah mengidentifikasi masalah pada produk.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui <em>prototype<\/em>, bisa lebih mudah mengetahui kekurangan produk. Mulai dari kesalahan desain, kegagalan fungsi, hingga kebutuhan konsumen yang tidak disadari. Dengan begitu, kalian bisa memaksimalkan fitur dan fungsi produk secara lebih efektif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Menyempurnakan pengembangan produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Prototype <\/em>membantu untuk mengetahui kebutuhan pengguna dengan lebih akurat. Nah, kalian bisa menyempurnakan proses pengembangan dan fungsionalitas produk agar lebih menjawab kebutuhan pengguna.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Mengurangi risiko kegagalan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kalian bisa menemukan kekurangan pada produk dan mengatasinya sebelum merilisnya ke pasar dengan membuat prototipe. Sehingga, kalian dapat segera memperbaiki produk dan menghindari risiko kegagalan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh-Contoh Prototype<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Okay, kita simak yuk contoh dari <em>prototype <\/em>sesuai masing-masing jenisnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Sketsa<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sketsa bisa dibilang termasuk jenis <em>paper prototype<\/em>. Fungsi sketsa sebagai <em>prototype <\/em>adalah untuk memberi visualisasi konsep ide secara kasar dan cepat. Sehingga, detailnya pun tak terlalu tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Hmmm, contoh yang mungkin pernah kalian temui adalah sketsa tata letak dan bangunan, <em>storyboard<\/em>, dan sketsa tampilan depan produk elektronik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Wireframe Website<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Wireframe <\/em>website adalah kerangka dasar halaman website untuk menunjukkan desain yang ingin ditampilkan. Contoh prototype ini bisa termasuk <em>paper <\/em>atau <em>low-fidelity prototype<\/em>, ya tergantung membuatnya seperti apa sih.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/Apa-Itu-Prototype-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"643\" height=\"479\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/Apa-Itu-Prototype-1.png\" alt=\"apa itu Prototype\" class=\"wp-image-13955\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Nah, kalian bisa membuat <em>wireframe <\/em>website dengan sketsa atau memanfaatkan berbagai <em>software, <\/em>seperti <a href=\"https:\/\/www.figma.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Figma<\/a>, Sketch, hingga Adobe XD.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Model 3D Cetakan Produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Bisnis manufaktur sering menggunakan 3D model sebagai <em>prototype<\/em>. Sebab, 3D model mampu menggambarkan detail fisik, fungsionalitas hingga kekuatan produk yang cukup akurat.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh produk yang biasanya menggunakan 3D <em>print <\/em>adalah produk mainan, otomotif, hingga prostetik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>6 Langkah Cara Membuat Prototype<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini cara membuat <em>prototype <\/em>secara umum:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Tentukan tujuan dan target pengguna<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tentukan tujuan pembuatan <em>prototype <\/em>dan target pengguna. Maksudnya, kalian mesti tahu apakah kalian ingin melihat desain produk? Atau, ingin memastikan fitur produk berjalan sesuai dengan kebutuhan?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, tentukan pula target pengguna <em>prototype <\/em>agar data yang diperoleh nantinya sesuai dengan gambaran kebutuhan target pasar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Buat sketsa atau gambaran kasar produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Oia, sebelum melakukan proses pembuatan <em>prototype<\/em>, buat dulu sketsa atau gambaran awal produk. Kalian bisa memanfaatkan alat tulis, seperti kertas dan pensil atau <em>tool <\/em>digital untuk membuat rancangan awal.<\/p>\n\n\n\n<p>Rancangan produk juga lebih tervisualisasikan dengan jelas dengan membuat sketsa. Tentu memudahkan dalam mempresentasikan produk kepada tim dan memberi tahu ke mereka terkait gambaran produk yang lebih jelas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Pilih jenis prototipe yang sesuai dengan kebutuhan&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, silakan pilih jenis <em>prototype <\/em>sesuai kebutuhan pengujian. <em>Wait<\/em>, perlu diingat ya bahwa setiap tujuan <em>prototype <\/em>itu berbeda-beda sehingga tidak bisa sembarangan memilih.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai pengingat nih, tujuan dibuat <em>paper prototype<\/em> adalah untuk melihat desain produk dengan biaya yang cukup hemat. Sedangkan <em>low-fidelity prototype <\/em>cocok untuk menguji fitur dasar produk.<\/p>\n\n\n\n<p>Oia, jika ingin menguji desain akhir dan fungsi produk dalam situasi nyata, <em>high-fidelity prototype<\/em> merupakan pilihan yang tepat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Buat prototype produk dengan alat dan bahan yang tersedia<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Okay, saatnya memulai proses pembuatan <em>prototype <\/em>dengan alat dan bahan yang sesuai dengan jenis <em>prototype <\/em>pilihan kalian.!<\/p>\n\n\n\n<p>Oia, kalian bisa menggunakan kertas untuk <em>paper prototype<\/em>, maket, dan <em>software <\/em>untuk <em>low-fidelity prototype<\/em>, atau alat yang lebih canggih untuk <em>high-fidelity prototype<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Uji prototype<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Nah, setelah <em>prototype <\/em>jadi, tentu harus diuji. Metode pengujian <em>prototype <\/em>tergantung pada jenis prototipe dan kebutuhan produk, ya.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa contoh cara menguji <em>prototype <\/em>adalah melalui <em>survey<\/em>, <em>user testing<\/em>, A\/B <em>testing<\/em>, <em>peer review<\/em>, hingga <em>cognitive walkthrough<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Evaluasi prototype dan perbaiki produk<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Setelah langkah pengujian, jangan lupa evaluasi <em>prototype <\/em>dan perbaiki produk kalian, ya. Dalam prosesnya, bisa jadi loh butuh berkali-kali pembuatan <em>prototype <\/em>demi mendapatkan produk final terbaik.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Sudah Paham kan tentang Apa Itu Prototype?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Okay, jadi bisa kalian pahami ya sekarang bahwa <em>prototype <\/em>adalah kunci kesuksesan pengembangan produk. Sebab, fungsi <em>prototype <\/em>kan membantu untuk mengetahui dan memperbaiki kekurangan produk sebelum dirilis.<\/p>\n\n\n\n<p>Oia Guys, agar <em>brand <\/em>kalian lebih tepercaya lagi, kalian perlu membuat email dengan domain sendiri karena sekarang lebih mudah, aman, dan keren! Gunakan layanan<a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/email-hosting\/\"> &nbsp;email hosting<\/a> dari<a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/\"> Jetorbit<\/a> yuk agar bisa kirim email dengan @namadomainkamu.com menjadikan kesan tepercaya dalam bisnis.&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada yang belum paham tentang prototype? Eitss, itu langkah penting loh dalam menciptakan produk yang suksess, baik produk fisik dan digital. Wah, kalau ada yang belum tahu sama sekali tentang prototype, langsung simak saja yuk Apa Itu Prototype, Manfaat, dan Langkah Membuatnya Apa Itu Prototype? Prototype adalah model awal produk yang dibuat untuk menguji fungsionalitas, &#8230; <a title=\"Apa Itu Prototype, Manfaat, dan Langkah Membuatnya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-prototype\/\" aria-label=\"Read more about Apa Itu Prototype, Manfaat, dan Langkah Membuatnya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13960,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[4801,4807,4806,283,7,4803,4805,4804,4808,4802],"class_list":["post-13953","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-prototype","tag-cara-membuat-prototype","tag-contoh-prototype","tag-domain-murah","tag-hosting-murah","tag-jenis-prototype","tag-manfaat-prototype","tag-manfaat-prototype-bagi-bisnis","tag-membuat-prototype","tag-prototype-adalah","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13953"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13953\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13989,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13953\/revisions\/13989"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13960"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}