{"id":13447,"date":"2023-03-15T10:15:00","date_gmt":"2023-03-15T03:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=13447"},"modified":"2023-03-15T13:23:18","modified_gmt":"2023-03-15T06:23:18","slug":"apa-itu-use-case-diagram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-use-case-diagram\/","title":{"rendered":"Apa Itu Use Case Diagram, Fungsi, Contoh, dan Cara Membuatnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Use case diagram merupakan diagram yang menghubungkan interaksi pengguna dengan sistem atau aplikasi. Nah, selain menggambarkan <em>flow<\/em>, membuat use case diagram ini juga mampu menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks agar lebih mudah untuk dipahami oleh berbagai pihak yang membutuhkan. Okay, tak usah lama-lama, langsung simak yuk <strong>Apa Itu Use Case Diagram, Fungsi, Contoh, dan Cara Membuatnya.<\/strong> Check it out!<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Use Case Diagram?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Use case diagram adalah salah satu bagian dari <em>Unified Modeling Language<\/em> (UML). sedangkan UML itu sendiri adalah bahasa pemodelan dalam rekayasa <em>software <\/em>yang dimaksudkan untuk menyediakan cara standar memvisualisasi desain dari sebuah sistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, dari pengertian <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/mengenal-unified-modeling-language-uml\/\">UML <\/a>itu sendiri maka use case diagram adalah bahasa pemodelan yang memberikan cara standar untuk memvisualisasikan hubungan interaksi antara pengguna dengan sistem atau aplikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, yang butuh visualisasi terkait desain dari sebuah sistem, siapa saja? Jika tim dalam pengembangan <em>software <\/em>atau sistem cukup besar maka sebenarnya seluruh <em>stakeholder <\/em>dalam tim tersebut butuh visualisasi tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Terus, kapan menggunakan use case diagram yang tepat? Pada dasarnya, semua sistem yang dikembangkan sebaiknya selalu ada dokumentasi terkait use case diagram. Jika tidak memungkinkan karena terbatas waktu dan <em>resource<\/em> maka secara wajar use case diagram merupakan dokumentasi yang tepat dibuat saat membangun sistem yang kompleks.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Fungsi Use Case Diagram<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa fungsi dari use case diagram:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Memungkinkan untuk mengembangkan struktur dan behaviour dari sebuah sistem<\/li><li>Membantu memvisualisasikan sistem secara menyeluruh hingga detail<\/li><li>Mampu mewakili kompleksitas sistem sehingga terlihat menjadi mudah untuk dipahami<\/li><li>Desain sistem terdokumentasi dengan baik&nbsp;<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Simbol Use Case Diagram<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Simbol use case diagram adalah hal yang wajib kalian ketahui sebelum mulai membuat use case diagram. Tabel dibawah ini akan merangkum simbol use case diagram dan memudahkan untuk mengingat simbol use case diagram.&nbsp;<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1152\" height=\"864\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-1.png\" alt=\"apa itu use case diagram\" class=\"wp-image-13449\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-1.png 1152w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-1-800x600.png 800w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-1-320x240.png 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 1152px) 100vw, 1152px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Use Case Diagram<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini contoh use case diagram yang bisa dijadikan referensi dalam belajar:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Assosiation Antara Actor dan Use Case<\/strong><\/h3>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-2.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"708\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-2.png\" alt=\"use case diagram\" class=\"wp-image-13450\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Contoh use case diagram&nbsp;ini mudah dan ada di setiap diagram use case. Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan adalah:&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Seorang actor harus diasosiasikan dengan setidaknya satu use case.&nbsp;<\/li><li>Seorang actor dapat diasosiasikan dengan beberapa use case.&nbsp;<\/li><li>Beberapa actor dapat diasosiasikan dengan satu use case.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Generalization dari Actor<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Generalisasi suatu actor artinya satu actor dapat mewarisi peran actor lainnya. Keturunan mewarisi semua use case \u201cleluhur\u201d. Keturunan memiliki satu atau beberapa use case yang khusus untuk peran tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"708\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-3.png\" alt=\"Generalization dari Actor\" class=\"wp-image-13451\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-3.png 708w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-3-320x240.png 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 708px) 100vw, 708px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Hubungan Extend antara Dua Use Case<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Seperti namanya, poin ini berkaitan dengan memperluas use case dasar dan menambahkan lebih banyak fungsionalitas ke sistem.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan hubungan &lt;&lt;extend&gt;&gt;.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Use case yang diperluas bergantung pada use case yang diperluas (basis). Dalam diagram di bawah, use case \u201cHitung Bonus\u201d tidak masuk akal tanpa use case \u201cDeposit Dana\u201d.&nbsp;<\/li><li>Use case yang diperluas biasanya bersifat opsional dan dapat dipicu secara kondisional. Dalam diagram, Anda dapat melihat bahwa use case yang diperpanjang dipicu hanya untuk deposit di atas 10.000 atau saat usia di atas 55 tahun.&nbsp;<\/li><li>Use case yang diperluas (basis) harus bermakna dengan sendirinya. Ini berarti harus independen dan tidak boleh bergantung pada perilaku use case yang diperluas. Mari perhatikan contoh di bawah ini untuk menunjukkan hubungan &lt;&lt;extend&gt;&gt;.<\/li><\/ul>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-4.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"899\" height=\"533\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-4.png\" alt=\"hubungan extend\" class=\"wp-image-13452\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-4.png 899w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-4-800x474.png 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 899px) 100vw, 899px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Hubungan Include antara Dua Use Case<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Hubungan ini menunjukkan bahwa perilaku use case yang disertakan adalah bagian dari use case (dasar) yang disertakan. Alasan utamanya adalah untuk menggunakan kembali tindakan umum di berbagai use case.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, dalam beberapa situasi, hal ini dilakukan untuk menyederhanakan perilaku kompleks. Poin yang perlu dipertimbangkan saat menggunakan hubungan &lt;&lt;include&gt;&gt; adalah bahwa use case dasar tidak lengkap tanpa use case yang disertakan. Use case yang disertakan bersifat wajib dan bukan opsional<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-5.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"899\" height=\"685\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-5.png\" alt=\"hubungan include\" class=\"wp-image-13453\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-5.png 899w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2023\/03\/Apa-Itu-Use-Case-Diagram-5-800x610.png 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 899px) 100vw, 899px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Cara Membuat Use Case Diagram<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Santuy, cara membuat use case diagram bisa dibilang cukup mudah. Setelah memahami simbol dan flow dari sistem yang akan dibuat, ya kalian tinggal eksekusi membuat use case diagram melalui <em>tools <\/em>yang tersedia<\/p>\n\n\n\n<p>Cara membuat use case diagram dapat menggunakan <em>tools<\/em>, seperti <a href=\"https:\/\/www.lucidchart.com\/pages\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Lucidchart<\/a>, <a href=\"https:\/\/creately.com\/diagram-type\/use-case\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Creately<\/a>, <a href=\"https:\/\/online.visual-paradigm.com\/diagrams\/solutions\/free-use-case-diagram-tool\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Visual Paradigm<\/a>, <a href=\"https:\/\/app.diagrams.net\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Draw.io<\/a>, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Yuk, Mulai Kembangkan Aplikasi Kalian!<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Jadi, bisa disimpulkan bahwa use case diagram merupakan hal penting dalam pengembangan aplikasi atau sistem. Kalian perlu mempertimbangkannya saat membuat sistem, terutama sistem dengan kompleksitas tinggi. Dan ternyata, use case diagram ini merupakan salah satu bagian dari <em>Unified Modeling Language<\/em> (UML).<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga bermanfaat dan tunggu info-info menarik lainnya dari kami, ya \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Use case diagram merupakan diagram yang menghubungkan interaksi pengguna dengan sistem atau aplikasi. Nah, selain menggambarkan flow, membuat use case diagram ini juga mampu menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks agar lebih mudah untuk dipahami oleh berbagai pihak yang membutuhkan. Okay, tak usah lama-lama, langsung simak yuk Apa Itu Use Case Diagram, Fungsi, Contoh, dan Cara &#8230; <a title=\"Apa Itu Use Case Diagram, Fungsi, Contoh, dan Cara Membuatnya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/apa-itu-use-case-diagram\/\" aria-label=\"Read more about Apa Itu Use Case Diagram, Fungsi, Contoh, dan Cara Membuatnya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13448,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[4476,4480,283,4478,7,4479,4477],"class_list":["post-13447","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-use-case-diagram","tag-contoh-use-case-diagram","tag-domain-murah","tag-fungsi-use-case-diagram","tag-hosting-murah","tag-simbol-use-case-diagram","tag-use-case-diagram-adalah","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13447","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13447"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13447\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13489,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13447\/revisions\/13489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13448"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13447"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13447"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13447"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}