{"id":12716,"date":"2022-12-06T08:45:00","date_gmt":"2022-12-06T01:45:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=12716"},"modified":"2022-12-01T13:35:23","modified_gmt":"2022-12-01T06:35:23","slug":"pengertian-headless-cms-fungsi-dan-contoh-penggunaannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/pengertian-headless-cms-fungsi-dan-contoh-penggunaannya\/","title":{"rendered":"Pengertian Headless CMS, Fungsi, dan Contoh Penggunaannya"},"content":{"rendered":"\n<p>Headless CMS memungkinkan tim marketing merilis konten di berbagai channel, mulai dari halaman landing hingga aplikasi mobile, website mobile, dan perangkat \u201cinternet of things\u201d (IoT) melalui API. Ketahui detailnya yuk <strong>Pengertian Headless CMS, Fungsi, dan Contoh Penggunaannya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Pengertian Headless CMS<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Sistem manajemen konten <em>headless <\/em>sering disebut sebagai infrastruktur konten atau API konten. Sistem ini berbasis cloud dan berfungsi untuk memisahkan repositori konten back-end dengan area penyajian konten (<em>presentation layer<\/em>) di bagian <em>front-end<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Headless CMS menawarkan CaaS (<em>Content as a Service<\/em>) sehingga proses pembuatan dan pengeditan konten bisa dilakukan di dalam infrastruktur CMS, sementara konten mentahnya bisa disediakan untuk sistem lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Cara Kerja Headless CMS<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Cara kerja headless CMS adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" type=\"1\"><li>Editor konten membuat dan mengelola konten pada antarmuka back-end.<\/li><li>Tim developer front-end akan membuat \u201chead\u201d (tempat konten disajikan) dan mengelola distribusi konten. Developer bisa memanfaatkan tool front-end dan framework pilihan mereka untuk mengembangkan aplikasi atau meluncurkan channel baru.<\/li><li>GraphQL API atau RESTful API akan terhubung ke setiap endpoint API untuk menyediakan konten di website, aplikasi mobile, perangkat IoT, dan platform digital lainnya.<\/li><li>Dengan sistem ini, konten yang sama dari satu repositori bisa disajikan dalam beberapa jenis, misalnya postingan blog di halaman web, feed di media sosial, atau konten native pada smartwatch.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Beberapa contoh headless CMS terbaik di antaranya adalah <a href=\"https:\/\/www.sanity.io\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Sanity.io<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.contentstack.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Contentstack<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.contentful.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Contentful<\/a>, dan <a href=\"https:\/\/hygraph.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">GraphCMS<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Perbedaan Headless CMS dan Traditional CMS<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Perbedaan <em>headless <\/em>CMS dan <em>traditional <\/em>CMS adalah <em>headless <\/em>CMS hanya menawarkan fungsionalitas <em>back-end<\/em>, sedangkan traditional CMS menyediakan solusi yang menyeluruh untuk pengelolaan dan penyajian konten.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Traditional <\/em>CMS yang juga dikenal sebagai sistem manajemen konten <em>\u2018monolithic\u2019<\/em>, hanya memungkinkan konten dirender pada satu<em> front-end<\/em>, yaitu halaman web. Oleh karena itu, para <em>marketer <\/em>harus mengubah konten mereka jika ingin menampilkannya di <em>platform <\/em>lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa contoh monolithic CMS terbaik di antaranya adalah WordPress, Wix, dan Magento. Biasanya, CMS seperti ini terdiri dari:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><em>Database <\/em>untuk menyimpan, membaca, dan menulis konten.<\/li><li>Halaman admin untuk segala hal yang berkaitan dengan pembuatan konten.<\/li><li>Area penyajian untuk menyediakan konten.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Sementara itu, arsitektur <em>headless <\/em>menggunakan <em>framework <\/em>model konten. Arsitektur ini mengurai konten menjadi beberapa bagian terpisah sesuai dengan tujuannya masing-masing sehingga menghasilkan konten yang lebih terstruktur.<\/p>\n\n\n\n<p>Silakan lihat lebih detailnya perbedaan <em>headless <\/em>CMS dan <em>traditional <\/em>CMS:<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Fungsi Headless CMS<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Arsitektur <em>traditional <\/em>CMS mungkin sangat terbatas meskipun lebih familiar. <em>Layout <\/em>dan desain yang dihasilkan seringkali terlalu biasa dan <em>user <\/em>perlu melakukan banyak proses <em>copy-paste<\/em> yang merepotkan apabila perlu menggunakan bagian konten yang sama. Nah, dengan <em>headless <\/em>CMS, para <em>marketer <\/em>tidak perlu berurusan dengan keterbatasan ini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan sistem <em>headless<\/em>:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Fleksibilitas Front-End<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Sistem ini memungkinkan proses yang lebih fleksibel untuk mengoptimalkan penerbitan <em>omnichannel<\/em>. Keterbatasan komponen siap pakai, seperti <em>template<\/em>, <em>layout<\/em>, dan format bisa diminimalkan, sementara konsistensi dan relevansi konten tetap terjaga.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai repositori konten, <em>headless <\/em>CMS menjadi hub konten pusat yang bisa difungsikan untuk mengambil data. Struktur konten digitalnya memudahkan proses penyesuaian konten bagi para <em>marketer <\/em>untuk berbagai <em>platform digital<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kompatibilitas dengan Berbagai Perangkat<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu hal yang menjadi masalah saat menyajikan konten di beberapa perangkat adalah konten yang harus disesuaikan untuk setiap sistem operasi (OS). Nah, menggunakan CMS yang memprioritaskan API, masalah ini pun bisa diatasi, loh.<\/p>\n\n\n\n<p>Arsitektur <em>headless <\/em>memungkinkan <em>developer <\/em>menggunakan API milik CMS untuk membuat <em>query <\/em>bagi beberapa OS, termasuk Windows, Linux, Android, macOS, dan <em>embedded <\/em>OS di perangkat IoT.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kemampuan Adaptasi (Agility)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kerangka kerja <em>content model<\/em> pada infrastruktur <em>headless <\/em>mendukung alur kerja <em>agile<\/em>, memungkinkan tim <em>marketing <\/em>bekerja secara bersamaan dengan tim <em>developer<\/em>. Infrastruktur ini akan turut mendorong produktivitas dan peningkatan yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Alur kerja <em>agile <\/em>tidak bergantung pada urutan sehingga <em>marketer <\/em>bisa meninjau kembali fase tertentu apabila harus melakukan penyesuaian. Setelah konten dibuat, <em>developer <\/em>bisa memprosesnya untuk ditampilkan di <em>presentation layer <\/em>apapun.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Skalabilitas dan Keamanan yang Lebih Baik<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Penggunaan <em>channel marketing<\/em> yang beragam berarti ada lebih banyak <em>resource <\/em>dan data yang perlu diolah. Untungnya, sebagian besar opsi <em>headless <\/em>CMS sangat mudah diskalakan. Hampir tak ada <em>downtime <\/em>selama <em>maintenance<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, jika keamanan adalah prioritas kalian, opsi <em>headless <\/em>CMS adalah pilihan yang tepat. Dengannya, <em>platform <\/em>penerbitan konten tak bisa diakses dari <em>database <\/em>CMS karena terpisah di berbagai web server dan domain.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, konten yang disajikan melalui API seringkali bersifat<em> read-only<\/em>, yang tentu akan turut meningkatkan keamanan. Hal ini juga membantu meningkatkan protokol keamanan toko online dan melindungi kalian dari potensi ancaman <em>cyber<\/em>, seperti DDoS dan akses yang tidak sah.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Penggunaan Headless CMS<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Meski punya banyak manfaat untuk manajemen konten, arsitektur ini mungkin tidak selalu sesuai untuk semua jenis proyek. Berikut ini adalah tiga contoh penggunaan <em>headless <\/em>CMS yang bisa dijadikan inspirasi:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Website eCommerce<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Beberapa sistem manajemen konten <em>headless <\/em>bisa digunakan untuk <em>back-end<\/em> website <em>eCommerce<\/em>. Jika punya toko online, kalian bisa memindahkan website kalian ke <em>environment headless<\/em> untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Meningkatkan pengalaman pelanggan.<\/strong> <em>Headless <\/em>CMS menawarkan waktu <em>loading <\/em>yang lebih cepat daripada sistem manajemen konten biasa, yang bisa dibandingkan menggunakan <em>tool <\/em>cek kecepatan website. Bagi <em>retailer<\/em>, <em>platform <\/em>ini akan turut meningkatkan angka kepuasan pengunjung.<\/li><li><strong>Menawarkan personalisasi.<\/strong> Dengan arsitektur <em>headless<\/em>, konten pemasaran dan konten produk bisa dikaitkan tanpa masalah dengan riwayat pembelian dan aktivitas <em>browsing <\/em>pelanggan, untuk menyediakan pengalaman belanja yang lebih personal.<\/li><li><strong>Lebih unggul dari kompetitor.<\/strong> <em>Headless <\/em>CMS memungkinkan para <em>developer <\/em>meluncurkan <em>update <\/em>dengan cepat tanpa mengganggu sistem <em>back-end<\/em>.&nbsp;<\/li><li><strong>Memastikan keamanan yang lebih ketat.<\/strong> Website toko online seringkali jadi sasaran utama para <em>hacker <\/em>karena banyaknya informasi sensitif yang dikirim dan diterima selama transaksi.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Website dan Aplikasi Web<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Website dan aplikasi web yang dibangun berdasarkan <em>framework <\/em>JavaScript, seperti React, Ember.js, Vue.js, dan Angular bisa memanfaatkan <em>headless <\/em>CMS, yang berfungsi baik dengan sebagian besar API.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Headless <\/em>CMS juga bisa memudahkan pengelolaan konten di website <a href=\"https:\/\/jamstack.org\/what-is-jamstack\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Jamstack <\/a>yang dibuat dengan generator website statis, seperti Gatsby, Hugo, Pelican, dan 11ty. Sebab, generator website statis tidak menggunakan <em>database <\/em>sebagai repositori sehingga metode API-first pada <em>headless <\/em>CMS sangat cocok dalam hal ini.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.elastic.co\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Elastic <\/a>adalah contoh website yang menggunakan <em>environment headless<\/em>. Website ini memanfaatkan <em>headless <\/em>CMS Built.io sehingga tim <em>marketing <\/em>bisa memindahkan konten dengan mudah dari berbagai <em>platform <\/em>ke satu <em>single content hub<\/em>.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Pengertian-Headless-CMS-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"400\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/Pengertian-Headless-CMS-1.png\" alt=\"pengertian headless CMS\" class=\"wp-image-12719\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Atau, pemilik website bisa menyiapkan sistem <em>headless <\/em>WordPress untuk menggunakan <em>back-end<\/em> CMS tersebut dan tetap bisa menyesuaikan area <em>front-end <\/em>dengan bebas. Untuk menerapkannya, ada dua cara yang bisa dilakukan, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Menerapkan <em>framework <\/em>JavaScript modern seperti React.<\/li><li>Menggunakan <em>plugin, <\/em>seperti WPGraphQL atau Headless WooCommerce Powered by CoCard.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kekurangan Headless CMS<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>FYI, penggunaannya juga memiliki beberapa kekurangan, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Cukup kompleks. <\/strong>Tak seperti <em>monolithic <\/em>CMS atau <em>page builder drag-and-drop<\/em>, arsitektur <em>headless <\/em>mengharuskan <em>marketer <\/em>membangun aplikasi dan menyesuaikan desainnya dari nol.<\/li><li><strong>Masalah formatting. <\/strong><em>Developer <\/em>tak selalu bisa melihat <em>preview <\/em>kontennya di <em>presentation layer<\/em>.<\/li><li><strong>Ketergantungan pada developer.<\/strong> <em>Headless <\/em>CMS membutuhkan banyak coding. Oleh karena itu, tim <em>marketing <\/em>harus selalu siap berkolaborasi dengan <em>developer <\/em>untuk menyesuaikan konten secara rutin.<\/li><li><strong>Biaya tinggi.<\/strong> Dengan <em>environment headless<\/em>, <em>budget <\/em>yang harus disiapkan juga lebih banyak karena ada biaya tersendiri bagi CMS, <em>developer<\/em>, dan infrastruktur untuk menghosting aplikasi. Mudahnya, prosesnya akan lebih efisien apabila kalian sudah punya sumber daya pengembangan untuk mendukung peralihan ke sistem <em>headless<\/em>.&nbsp;<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Jadi Guys, di tengah pertumbuhan World Wide Web saat ini, <em>headless <\/em>CMS merupakan solusi tepat untuk <em>marketing omnichannel<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Gimana, kalian tertarik untuk menghadirkan pengalaman digital lintas <em>platform<\/em>? Silakan pertimbangkan untuk beralih ke <em>headless <\/em>CMS. Eitss, ingat ya, selalu rencanakan <em>resource <\/em>pengembangan dan strategi <em>marketing <\/em>dengan cermat untuk migrasi yang efektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Selamat mencoba dan tunggu info-info menarik lainnya dari kami, ya \ud83d\ude42<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Headless CMS memungkinkan tim marketing merilis konten di berbagai channel, mulai dari halaman landing hingga aplikasi mobile, website mobile, dan perangkat \u201cinternet of things\u201d (IoT) melalui API. Ketahui detailnya yuk Pengertian Headless CMS, Fungsi, dan Contoh Penggunaannya Pengertian Headless CMS Sistem manajemen konten headless sering disebut sebagai infrastruktur konten atau API konten. Sistem ini berbasis &#8230; <a title=\"Pengertian Headless CMS, Fungsi, dan Contoh Penggunaannya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/pengertian-headless-cms-fungsi-dan-contoh-penggunaannya\/\" aria-label=\"Read more about Pengertian Headless CMS, Fungsi, dan Contoh Penggunaannya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12746,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[4061,283,4063,7,4065,4060,4064,4062],"class_list":["post-12716","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-cara-kerja-headless-cms","tag-domain-murah","tag-fungsi-headless-cms","tag-hosting-murah","tag-kekurangan-headless-cms","tag-pengertian-headless-cms","tag-penggunaan-headless-cms","tag-traditional-cms","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12716","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12716"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12716\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12720,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12716\/revisions\/12720"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}