{"id":11237,"date":"2022-08-01T08:08:00","date_gmt":"2022-08-01T01:08:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=11237"},"modified":"2022-07-22T09:04:57","modified_gmt":"2022-07-22T02:04:57","slug":"pengertian-microservices-dan-kelebihannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/pengertian-microservices-dan-kelebihannya\/","title":{"rendered":"Pengertian Microservices, Karakteristik, dan Kelebihannya"},"content":{"rendered":"\n<p>Pernah dengar istilah <em>microservices<\/em>? Wah, apaan tuh? Ada hubungan apa nih ama <em>microchip<\/em>? Santuy, kali ini kami akan membahas tentang <em>microservices <\/em>spesial untuk kalian. Makanya, simak terus yuk sampai tuntas <strong>Pengertian Microservices, Karakteristik, dan Kelebihannya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Microservices?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Microservices <\/em>adalah desain arsitektur untuk membuat sebuah aplikasi yang terdiri dari berbagai unit layanan tersendiri tapi tetap saling terhubung.<\/p>\n\n\n\n<p>Setiap unit layanan dalam aplikasi tersebut menjalankan fungsi berbeda tapi tetap mendukung satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Bisa dibilang <em>microservices <\/em>sama dengan membangun aplikasi dalam aplikasi. Misal, penerapan <em>microservices architecture<\/em> pada <em>super-app<\/em>, seperti Gojek. Dalam satu aplikasi, Gojek menggunakan beberapa <em>microservice <\/em>untuk berbagai jenis <em>service<\/em>-nya, seperti GoRide, GoPay, GoFood, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Biasanya <em>developer <\/em>menggunakan API agar setiap fitur dalam aplikasi tersebut saling terhubung.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Pengertian-Microservices-dan-Kelebihannya-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"757\" height=\"380\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Pengertian-Microservices-dan-Kelebihannya-1.png\" alt=\"microservices adalah \" class=\"wp-image-11239\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Sebenarnya istilah <em>microservices <\/em>muncul sejak tahun 2005. Tepatnya ketika Dr. Peter Rodgers membahas<strong> micro-web-services<\/strong> pada konferensi tentang <em>cloud computing<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini sekitar 85% perusahaan telah mengadopsi <em>microservices architecture<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Riset lain menunjukkan bahwa <em>microservices <\/em>berhasil meningkatkan efisiensi karyawan, <em>customer experience<\/em>, serta menghemat biaya pengembangan pada 63% perusahaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebab dengan arsitektur ini, setiap tim punya kewenangan sendiri sehingga lebih cekatan saat mengeksekusi rencana. Selain itu, karena perusahaan bisa mengembangkan sebagian layanan saja, biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih hemat tapi rilisnya lebih cepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan layanan yang bisa segera dipakai konsumen, maka mengumpulkan <em>feedback <\/em>untuk peningkatan <em>service <\/em>pun lebih cepat. Selain itu, <em>web\/apps<\/em> yang dibangun dengan <em>microservices <\/em>juga punya performa lebih ringan dibanding jika dibangun dengan sistem <em>monolith<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Monolith vs Microservices<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Kebalikan dari <em>microservices <\/em>adalah <em>monolith<\/em>. <em>Monolith <\/em>sendiri adalah pendekatan yang mana seluruh komponen atau fitur dijadikan satu dalam sebuah server aplikasi.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Pengertian-Microservices-dan-Kelebihannya-2.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"749\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Pengertian-Microservices-dan-Kelebihannya-2.png\" alt=\"monolith adalah\" class=\"wp-image-11240\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Dibandingkan <em>microservices<\/em>, <em>monolith <\/em>memang lebih sederhana. Seluruh sistemnya memakai server, logika, <em>database<\/em>, hingga <em>user interface<\/em> yang sama.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Risikonya adalah sistem <em>monolith <\/em>tidak fleksibel terhadap perubahan. Ketika kalian mau mengubah satu fitur, seluruh bagian dalam sistem akan terdampak. <em>Deployment <\/em>juga akan lebih lama karena harus dilakukan secara keseluruhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, untuk proyek kecil <em>monolith<\/em> masih cocok, kok. Okay, mari kita lihat perbedaan <em>monolith vs microservices<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td><\/td><td><strong>Microservices<\/strong><\/td><td><strong>Monolith<\/strong><\/td><\/tr><tr><td><strong>Biaya sewa server<\/strong><\/td><td>Lebih mahal, apalagi setiap komponen membutuhkan resource yang berbeda<\/td><td>Lebih murah karena hanya mengandalkan satu server<\/td><\/tr><tr><td><strong>Maintenance<\/strong><\/td><td>Bisa menyesuaikan kebutuhan masing-masing module, tidak harus maintenance total<\/td><td>Saat server bermasalah seluruh layanan akan terdampak<\/td><\/tr><tr><td><strong>Kecepatan memproses permintaan<\/strong><\/td><td>Lebih cepat&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/td><td>Lambat karena resource digunakan bersama<\/td><\/tr><tr><td><strong>Deployment<\/strong><\/td><td>Tidak mengganggu proses dan module lainnya<\/td><td>Lebih mudah dan cepat<\/td><\/tr><tr><td><strong>Fleksibilitas pengembangan<\/strong><\/td><td>Lebih fleksibel<\/td><td>Lebih rumit karena harus merombak seluruh aplikasi utama<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Bisa dilihat ya, <em>monolith <\/em>memang cocok untuk kebutuhan yang sederhana. Jika proyek kalian besar, serius, dan potensi berkembangnya tinggi maka <em>microservices <\/em>tentu lebih cocok.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Karakteristik Microservices<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini karakteristik <em>microservices<\/em>:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Terdiri dari Beberapa Komponen<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Microservices <\/em>membagi aplikasi utama menjadi lebih kecil. Artinya, <em>web\/apps <\/em>yang mengadopsi arsitektur ini sudah pasti terdiri dari banyak komponen. Bisa layanan\/produk, server, <em>database<\/em>, dan banyak lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, biasanya aplikasi dengan <em>microservices <\/em>membutuhkan REST API agar setiap unitnya tetap saling terhubung.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Ditujukan untuk Kebutuhan Bisnis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Penggunaan <em>microservices <\/em>membantu perusahaan mencapai kebutuhan bisnisnya, termasuk menyediakan berbagai jasa dengan pelayanan yang sama-sama optimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan hanya di bagian teknis dan pengembangan produk tapi juga lewat pembagian tim dengan fokus yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Okay, kita ambil contoh <em>startup <\/em>A punya misi memudahkan transaksi properti di Indonesia. <em>Startup <\/em>A menyediakan berbagai layanan, seperti jual-beli rumah, sewa apartemen, hingga jasa kebersihan. Nah, agar lebih efektif, tentunya setiap layanan ini dikembangkan secara terpisah dengan tim khusus, kan. Tujuannya ya agar pengerjaannya lebih fokus.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hasilnya pun akan lebih cepat dan bagus. Jika dibandingkan dengan satu tim besar yang mengurus seluruh <em>project<\/em>, ya tentu berbeda. Komunikasinya pasti tidak efektif dan progres pengerjaan juga relatif lambat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Proses Routing Sederhana<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Karakteristik selanjutnya adalah menyederhanakan proses dalam <em>web\/apps<\/em>. Sebuah fitur dapat memproses permintaan tanpa harus berkoordinasi dengan fitur lainnya karena terdiri dari komponen-komponen kecil.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi ketika pengembang merilis fitur baru, potensi gangguan pada fitur lama pun lebih kecil.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Dapat Berjalan Sendiri (Desentralisasi)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Microservices <\/em>memungkinkan sebuah fitur berjalan tanpa perlu sinkronisasi dengan fitur lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Singkatnya, pendekatan ini memungkinkan tiap layanan mampu berjalan sendiri. Dengan begitu, setiap tim <em>developer <\/em>dalam perusahaan bisa mengembangkan fitur sesuai kebutuhan layanan mereka. Misal, tim <em>developer <\/em>X memakai Java untuk membuat halaman <em>login <\/em>sedangkan tim lainnya menggunakan C++ untuk membangun menu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Mengurangi Risiko Kegagalan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Microservices <\/em>mampu mengurangi risiko kegagalan karena setiap komponen dalam <em>web\/apps <\/em>dapat berjalan sendiri. Saat terjadi kerusakan pada sebuah fitur, komponen lain kemungkinan besar tidak terpengaruh.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Selalu Berkembang (Evolusioner)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Microservices <\/em>memberikan fleksibilitas pengembangan yang lebih longgar. Makanya, fitur-fitur dalam setiap komponen lebih mudah untuk berevolusi sesuai kebutuhan konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/8-tips-seo-youtube-sederhana-supaya-bisa-memberi-peringkat-video-lebih-tinggi-dalam-pencarian\/\">YouTube<\/a>. Dulu YouTube hanya menyediakan tayangan video. Namun, YouTube ingin memperlebar peluang monetisasi penggunanya. Oleh karena itu, YouTube merilis fitur YouTube Shorts.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanpa adanya <em>microservices<\/em>, pengembangan fitur-fitur seperti itu tentu saja merepotkan. Ongkos pengembangannya pun pasti juga mahal. Iya, kan?<\/p>\n\n\n\n<p>Simpulannya <em>microservices <\/em>memungkinkan untuk menambah fungsi penting pada <em>web\/apps<\/em>, tanpa kalian kudu mengubah fungsi utama aplikasi. Jadi, proses <em>development <\/em>pun juga lebih efisien.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kelebihan Microservices<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini kelebihan <em>microservices<\/em>:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Bebas Memilih Teknologi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Setiap fitur dalam layanan perusahaan dibangun dengan teknologi yang berbeda. Entah itu dari poin <em>framework<\/em>, seperti Kubernetes, Laravel, Docker. Ataupun bahasa pemrograman yang berbeda, seperti Java, Phyton, Objective-C, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, <em>microservices <\/em>memungkinkan itu terjadi sehingga <em>developer <\/em>perusahaan di masing-masing layanan bisa mengembangkan fitur dengan pendekatan teknologi yang lebih cocok.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Leluasa untuk Upgrade&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dengan <em>microservices<\/em>, kalian atau perusahaan akan lebih leluasa untuk meng-<em>upgrade<\/em> sistem, terutama untuk menambahkan sumber daya.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, dengan begitu kalian bisa meng-<em>upgrade<\/em> layanan tertentu saja. Misalnya, menambah <em>resource web server <\/em>untuk layanan X yang memang sedang diminati <em>user<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain mengoptimalkan penggunaan <em>resource<\/em>, perusahaan juga bisa lebih berhemat. Penyebabnya adalah hanya layanan yang memang perlu saja yang <em>resource<\/em>-nya bisa ditambah, gak semuanya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Memudahkan Error Isolation<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam sistem <em>monolith<\/em>, saat satu layanan bermasalah yang lain akan ikut terpengaruh. Lain halnya dengan <em>microservices<\/em>, yang mana kalian bisa melakukan <em>error isolation<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Error isolation<\/em> berarti kalian mengurung masalah dalam area ataupun kontainer tertentu saja. Dengan begitu, fitur lain tidak akan kecipratan dampaknya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Maintenance Lebih Mudah<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jadi, aplikasi utama kan dipecah menjadi beberapa layanan maka <em>maintenance<\/em> pun lebih mudah. Sebab, tim <em>developer <\/em>tidak harus memelihara seluruh bagian aplikasi. Cukup di layanan yang mereka pegang.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Kekurangan Microservices<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Kekurangan <em>microservices <\/em>antara lain:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Sistem Menjadi Kompleks<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Saat memutuskan menggunakan <em>microservices architecture<\/em>, kalian kudu bersiap-siap sistem menjadi kompleks, ya. Sebab akan ada lebih banyak bahasa pemrograman, <em>framework<\/em>, hingga <em>module <\/em>yang dibutuhkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga saat kalian mau melakukan <em>maintenance <\/em>ataupun <em>update<\/em>, kemungkinan tak bisa dilakukan secara bersamaan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Koordinasi Antarlayanan Lebih Rumit<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Akibat dari sistem yang menjadi kompleks, koordinasi antarlayanan mungkin agak lebih rumit sebab setiap layanan berjalan sendiri-sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, ketika <em>developer <\/em>melakukan <em>testing <\/em>tertentu, mereka perlu bekerja keras untuk mengurangi potensi masalah latensi jaringan ataupun <em>error <\/em>lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Biaya Lebih Mahal<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Microservices <\/em>membutuhkan biaya lebih mahal karena setiap <em>database <\/em>butuh server tersendiri dan kalian juga memiliki lebih banyak tim untuk dikelola.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk <em>project <\/em>besar, memang <em>microservices <\/em>mampu meningkatkan efisiensi berbagai proses bisnis dan membantu perusahaan mendapatkan untung lebih besar.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun untuk <em>project <\/em>kecil, <em>microservices <\/em>justru bisa membuat kalian mengeluarkan lebih banyak modal dan kerumitan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Penggunaan Microservices<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Oia, berikut ini ada beberapa contoh <em>microservices <\/em>di berbagai perusahaan:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Spotify<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/open.spotify.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Spotify <\/a>menggunakan <em>microservices <\/em>agar bisa mengikuti persaingan dengan layanan <em>streaming <\/em>lainnya. Karena membutuhkan inovasi yang cepat dan perkembangan terus menerus maka <em>microservices <\/em>adalah arsitektur yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak heran, Spotify pun punya tim khusus untuk mengelola fitur-fitur tertentu. Contohnya saja fitur sugesti pencarian kepada pengguna punya tim pengembang tersendiri.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Netflix<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.netflix.com\/id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Netflix <\/a>memulai perjalanannya di tahun 1998 sebagai tempat persewaan DVD. Pada tahun 2008, Netflix baru menawarkan layanan <em>live streaming<\/em> film.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Pengertian-Microservices-dan-Kelebihannya-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"687\" height=\"245\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Pengertian-Microservices-dan-Kelebihannya-3.png\" alt=\"contoh microservices\" class=\"wp-image-11241\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Memulai dengan arsitektur <em>monolith<\/em>, di tahun yang sama pun Netflix berhadapan dengan masalah serius. <em>Database<\/em>-nya rusak sehingga Netflix terpaksa menutup operasional bisnis hingga empat hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah mengapa Netflix mulai memanfaatkan <em>cloud <\/em>untuk distribusi produk yang lebih baik. Sejak&nbsp; tahun 2009, Netflix menggunakan <em>microservices <\/em>secara bertahap, mulai dari pengembangan CMS, logs, tombol play, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menerapkan <em>microservices<\/em>, Netflix berhasil memenuhi <em>demand <\/em>layanan <em>live streamin<\/em>g yang tinggi dengan lancar. Itu semua dilakukan sambil memotong ongkos pengembangan dan <em>maintenance <\/em>secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, bisa disimpulkan manfaat <em>microservices, <\/em>yaitu untuk mengoptimalkan berbagai proses bisnis sekaligus meningkatkan <em>customer experience<\/em>. Tak heran, arsitektur ini cocok untuk perusahaan yang mau atau sedang bertumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Eitss, ada satu hal yang perlu kalian ingat, untuk mengeksekusi <em>microservices<\/em>, kalian membutuhkan sarana seperti VPS. Tenang, Jetorbit juga menyediakan<a href=\"https:\/\/www.jetvm.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> produk VPS<\/a>, yang tentunya bisa kalian pilih paketnya sesuai kebutuhan.&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah dengar istilah microservices? Wah, apaan tuh? Ada hubungan apa nih ama microchip? Santuy, kali ini kami akan membahas tentang microservices spesial untuk kalian. Makanya, simak terus yuk sampai tuntas Pengertian Microservices, Karakteristik, dan Kelebihannya Apa Itu Microservices? Microservices adalah desain arsitektur untuk membuat sebuah aplikasi yang terdiri dari berbagai unit layanan tersendiri tapi tetap &#8230; <a title=\"Pengertian Microservices, Karakteristik, dan Kelebihannya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/pengertian-microservices-dan-kelebihannya\/\" aria-label=\"Read more about Pengertian Microservices, Karakteristik, dan Kelebihannya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11238,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[3471,3478,283,7,3475,3477,3476,3472,3473,3474],"class_list":["post-11237","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-microservices","tag-contoh-microservices","tag-domain-murah","tag-hosting-murah","tag-karakteristik-microservices","tag-kekurangan-microservices","tag-kelebihan-microservices","tag-microservices","tag-monolith","tag-monolith-adalah","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11237"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11256,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11237\/revisions\/11256"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}