{"id":10836,"date":"2022-07-09T06:00:11","date_gmt":"2022-07-08T23:00:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=10836"},"modified":"2022-07-18T13:29:03","modified_gmt":"2022-07-18T06:29:03","slug":"pengertian-intrapreneur-dan-perbedaan-dengan-entrepreneur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/pengertian-intrapreneur-dan-perbedaan-dengan-entrepreneur\/","title":{"rendered":"Pengertian Intrapreneur, Manfaat, dan Perbedaan dengan Entrepreneur"},"content":{"rendered":"<p>Dalam perkembangannya, muncul istilah baru dalam dunia usaha, yaitu <em>intrapreneur<\/em>. Apa itu <em>intrapreneur<\/em>? Apa saja perbedaannya dengan <em>entrepreneur<\/em>? <em>Intrapreneur <\/em>juga dapat dipahami sebagai orang yang memiliki jiwa pengusaha tetapi tidak memiliki atau memimpin usaha sendiri. Tak usah lama-lama, langsung simak yuk <strong>Pengertian Intrapreneur, Manfaat, dan Perbedaan dengan Entrepreneur<\/strong><\/p>\n<h2><strong>Apa Itu Intrapreneurship?<\/strong><\/h2>\n<p><em>Intrapreneurship <\/em>adalah sistem dan proses yang memungkinkan karyawannya mengembangkan <em>skill <\/em>dan <em>mindset <\/em>kewirausahaan dalam dirinya serta bertindak seperti&nbsp; seorang wirausaha saat bekerja di dalam perusahaan.<\/p>\n<p><em>Intrapreneurship <\/em>sangat dekat dengan kewirausahaan yang mana orang dapat belajar dan mengasah ketrampilannya dengan bekerja di dalam perusahaan lalu mereka dapat memulai usaha sendiri nantinya.<\/p>\n<p><em>Intrapreneur <\/em>biasanya adalah individu yang proaktif dan memiliki motivasi diri yang memiliki keterampilan dan pola pikir untuk menjadi pemimpin.<\/p>\n<p>Jadi, <em>intrapreneurship <\/em>merupakan proses menciptakan seorang wirausahawan (<em>entreprenur<\/em>) di dalam perusahaan, tanpa perlu si wirausahawan baru itu membuat perusahaan sendiri. Keuntungan bagi perusahaan adalah mendapatkan ide dan inovasi baru dari si karyawan dengan idenya tersebut.<\/p>\n<h2><strong>Mengapa Perusahaan Membutuhkan Intrapreneurship?<\/strong><\/h2>\n<p>Perusahaan akan mendapatkan manfaat yang signifikan apabila menjalankan <em>intrapreneurship<\/em>. Berikut ini manfaat-manfaatnya:<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h3><strong> Mudah mengeluarkan inovasi terbaru<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Perusahaan yang baik adalah yang mampu melahirkan inovasi baru untuk berkembang karena dunia juga ikut berubah. Selera orang pun bisa berbeda, kan. Persaingan dengan kompetitor juga akan selalu ada.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, perusahaan butuh <em>intrapreneurship <\/em>untuk menunjang kegiatan bisnis yang lebih dinamis. Dengan begitu, ide-ide dari karyawan juga dapat tersalurkan secara tepat demi kemajuan perusahaan. Ide juga jadi mudah dipilih karena tersedia cukup banyak.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<h3><strong> Berpotensi meraih laba&nbsp;<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Bisnis berdiri untuk meraih laba setinggi-tingginya. Dengan <em>intrapreneurship<\/em>, peluang meraih laba itu akan selalu ada karena perusahaan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>\n<h3><strong> Memaksimalkan potensi sumber daya manusia<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Intrapreneurship <\/em>memacu setiap sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan mengeluarkan potensi yang dimilikinya. Diberi kepercayaan seperti itu tentunya karyawan juga akan bekerja secara maksimal.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>\n<h3><strong> Sebagai cara untuk menghadapi ketidakstabilan ekonomi<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Intrapreneurship <\/em>adalah salah satu cara yang bisa diandalkan untuk menghadapi ketidakstabilan ekonomi. Hal itu karena <em>intrapreneurship <\/em>memacu tersedianya inovasi dalam waktu yang cepat.<\/p>\n<h2><strong>Karakteristik Intrapreneurship<\/strong><\/h2>\n<p>Untuk lebih mengenal intrapreneurship, inilah karakteristiknya yang perlu Anda ketahui.<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h3><strong> Siapa pun bisa terlibat<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Sistem <em>intrapreneurship <\/em>memungkinkan untuk setiap orang yang ditunjuk di dalam perusahaan terlibat dalam proses bisnis. Tidak hanya eksekusi tapi dimulai dari pencarian ide terbaru.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<h3><strong> Menjadi wadah untuk karyawan menyalurkan ide-idenya<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Karyawan diberikan kesempatan berkembang demi memajukan perusahaan. Karyawan pasti akan merasa dihargai karena dipercaya untuk mengemban tugas ini.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>\n<h3><strong> Semua pihak yang ada di perusahaan akan terkena dampak positifnya<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keberhasilan proyek <em>intrapreneurship <\/em>tak hanya akan membawa dampak positif bagi <em>intrapreneur <\/em>yang menjalankannya tapi juga semua sumber daya manusia yang ada di perusahaan itu.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>\n<h3><strong> Modal disediakan perusahaan<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Intrapreneur <\/em>tak perlu khawatir soal <em>budget <\/em>yang digunakan dalam proyeknya karena perusahaan pasti bersedia mengeluarkan. Apalagi jika perusahaan menilai bahwa proyek yang dibuat itu berpotensial meraih kesuksesan, perusahaan pasti mendukung seratus persen.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li>\n<h3><strong> Apresiasi terhadap karyawan<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ketika perusahaan berhasil dengan proyek <em>intrapreneurship<\/em>-nya, perusahaan wajib memberikan apresiasi kepada karyawan. Biasanya berupa bonus atau kenaikan pangkat.<\/p>\n<h2><strong>Perbedaan Entrepreneur dan Intrapreneur<\/strong><\/h2>\n<p>Pada prinsipnya, <em>entrepreneur <\/em>dengan <em>intrapreneur <\/em>memiliki kualitas yang sama dalam hal kepemimpinan, inovasi, keyakinan, kreativitas, semangat, dan wawasan. Lantas, apa perbedaan antara keduanya? Perbedaan antara <em>entrepreneur <\/em>dengan <em>intrapreneur <\/em>dapat ditunjukkan dalam beberapa aspek berikut ini:<\/p>\n<h3><strong>Aspek status<\/strong><\/h3>\n<p>Dari aspek status, <em>entrepreneur <\/em>adalah orang yang memulai bisnisnya sendiri dengan ide atau konsep baru. <em>Entrepreneur <\/em>bukan hanya sekadar orang yang memiliki jiwa pengusaha tetapi juga merealisasikan ide-idenya dengan membangun usahanya sendiri.<\/p>\n<p>Sementara itu, <em>intrapreneur <\/em>merupakan orang yang hanya memiliki jiwa pengusaha saja tetapi tidak merealisasikan ide-idenya dengan membangun usaha sendiri. Seorang <em>intrapreneur <\/em>adalah karyawan pada suatu perusahaan yang mempromosikan inovasi dan memperoleh renumerasi sesuai dengan kesuksesan unit bisnis yang menjadi tanggung jawabnya.<\/p>\n<p>Sederhananya, <em>entrepreneur <\/em>berstatus sebagai pemilik bisnis atau usaha sedangkan <em>intrapreneur <\/em>statusnya adalah sebagai karyawan suatu perusahaan.<\/p>\n<h3><strong>Aspek wilayah kerja<\/strong><\/h3>\n<p>Baik <em>entrepreneur <\/em>maupun intrapreneur sama-sama bekerja tapi pada wilayah yang berbeda. Seorang <em>entrepreneur <\/em>memiliki lebih banyak kebebasan dalam membangun bisnisnya berdasarkan ide-ide dan inovasi yang muncul dalam benaknya.<\/p>\n<p>Wilayah kerja seorang <em>entrepreneur <\/em>adalah di luar lingkup perusahaan. Artinya, <em>entrepreneur <\/em>tidak terikat dan bernaung pada perusahaan lain tetapi pada perusahaannya sendiri.<\/p>\n<p>Berbeda ya dengan <em>intrapreneur <\/em>yang bekerja di dalam lingkup perusahaan yang terikat dengan aturan perusahaan yang menaunginya. Seorang <em>intrapreneur <\/em>bekerja dengan keterampilan kewirausahaannya guna mendorong inovasi di perusahaan tempatnya bekerja.<\/p>\n<h3><strong>Aspek tujuan<\/strong><\/h3>\n<p><em>Entrepreneur <\/em>dan <em>intrapreneur <\/em>berbeda dari aspek tujuan. Seorang <em>entrepreneur <\/em>bekerja dengan tujuan untuk berinovasi dan menciptakan sesuatu yang baru dari nilai sosio-ekonomi.<\/p>\n<p>Lain halnya dengan <em>intrapreneur <\/em>yang bekerja dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan kompetitif dan pengakuan pasar terhadap perusahaan tempatnya bernaung. Singkatnya, tujuan dari <em>entrepreneur <\/em>muncul dari keinginan dalam diri untuk mewujudkan usaha yang inovatif dan kompetitif sedangkan <em>intrapreneur <\/em>hanya berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.<\/p>\n<h3><strong>Aspek risiko<\/strong><\/h3>\n<p>Berbicara tentang risiko, manakah yang lebih berisiko, <em>entrepreneur <\/em>atau <em>intrapreneur<\/em>? Sebagai pemilik usaha, <em>entrepreneur <\/em>jelas memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan dengan <em>intrapreneur<\/em>.<\/p>\n<p>Dalam setiap langkah dan keputusan yang diambil berkenaan dengan upaya merealisasikan ide ke dalam bentuk suatu produk yang inovatif, <em>entrepreneur <\/em>memikul tanggung jawab dan menanggung risiko penuh atas setiap kegagalan atau kesuksesan yang dihasilkan.<\/p>\n<p><em>Intrapreneur <\/em>bekerja menggunakan kreativitas dan keterampilan kewirausahaannya untuk menghasilkan suatu inovasi yang bermanfaat bagi perusahaan tanpa menanggung risiko atas aktivitas yang dilakukan. Risiko atas aktivitas kerja yang dilakukan ditanggung oleh perusahaan. Jadi, dari aspek risiko, <em>entrepreneur <\/em>menanggung risiko yang lebih besar dibandingkan dengan <em>intrapreneur<\/em>.<\/p>\n<h3><strong>Aspek pengambilan keputusan<\/strong><\/h3>\n<p>Sebagai pemilik usaha, <em>entrepreneur <\/em>memiliki kebebasan yang lebih besar dalam mengambil keputusan dibandingkan dengan <em>intrapreneur<\/em>. Segala keputusan terkait dengan jalannya usaha berada di tangan <em>entrepreneur <\/em>sendiri karena memiliki independensi untuk mengeksekusi mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.<\/p>\n<p>Berbeda dengan <em>intrapreneur <\/em>yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri atas setiap aktivitas kerja yang dilakukannya meski ia memiliki kebebasan untuk menuangkan ide dan kreativitasnya. Keputusan diambil oleh pemimpin perusahaan atau upaya kolaborasi tim kerja.<\/p>\n<h3><strong>Aspek orientasi layanan<\/strong><\/h3>\n<p>Aspek orientasi layanan ini terkait dengan untuk siapa <em>entrepreneur <\/em>dan <em>intrapreneur <\/em>bekerja? Sebagai pemilik dari bisnis yang dijalankan, <em>entrepreneur <\/em>bekerja untuk diri sendiri dan berupaya memberikan yang terbaik kepada para pelanggannya. Lain halnya dengan <em>intrapreneur<\/em>.<\/p>\n<p>Selain bekerja dan melayani dirinya sendiri, seorang <em>intrapreneur <\/em>juga bekerja untuk perusahaan yang menjadi tempatnya bernaung. Jadi, <em>entrepreneur <\/em>menjalin hubungan dengan pelanggan sedangkan <em>intrapreneur <\/em>menjalin hubungan dengan perusahaan.<\/p>\n<h3><strong>Aspek fokus perhatian<\/strong><\/h3>\n<p><em>Entrepreneur <\/em>dan <em>intrapreneur <\/em>sama-sama memiliki kualitas jiwa kewirausahaan yang handal. Namun, keduanya memiliki fokus perhatian yang berbeda. <em>Entrepreneur <\/em>lebih berfokus pada peningkatan penjualan dan keuntungan serta berupaya untuk lebih kompetitif sehingga dapat bertahan dalam persaingan usaha yang semakin ketat. Sementara fokus perhatian dari <em>intrapreneur <\/em>lebih diarahkan pada pengembangan teknologi dan perubahan pasar.<\/p>\n<h3><strong>Aspek keuntungan<\/strong><\/h3>\n<p>Menjadi seorang <em>entrepreneur <\/em>atau <em>intrapreneur <\/em>memiliki keuntungan yang berbeda. <em>Entrepreneur <\/em>sebagai pemimpin sekaligus pemilik bisnis keuntungannya lebih pada kebebasan untuk memutuskan segala sesuatu terkait dengan bisnisnya, mulai dari budaya kerja, penentuan jadwal dan jam kerja, kebijakan, pengelolaan modal, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Lain halnya dengan <em>intrapreneur <\/em>yang keuntungannya lebih pada penyediaan sumber daya yang mendukung aktivitas kerjanya. <em>Intrapreneur <\/em>dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang disediakan perusahaan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, <em>intrapreneur <\/em>juga memanfaatkan pendanaan dari perusahaan.<\/p>\n<h3><strong>Aspek kesalahan atau kegagalan<\/strong><\/h3>\n<p>Meski memiliki kreativitas tinggi dan kualitas jiwa kewirausahaan yang mumpuni tapi <em>entrepreneur <\/em>dan <em>intrapreneur <\/em>juga berpotensi melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan.<\/p>\n<p>Hanya saja dampak dari kesalahan dan kegagalan yang dialami keduanya berbeda. Ketika seorang <em>entrepreneur <\/em>menyadari bahwa langkah yang dilakukannya salah sehingga tidak menguntungkan bisnisnya maka ia akan segera memperbaiki kesalahan tersebut dengan mengambil upaya inovasi baru.<\/p>\n<p>Berbeda dengan <em>intrapreneur<\/em>, yang mana ketika ia melakukan kesalahan maka akan menyimpannya lebih dulu dan menjadikannya rahasia karena dikhawatirkan akan berdampak pada kegagalan.<\/p>\n<p>Berdasarkan perbedaan antara <em>entrepreneur <\/em>dengan <em>intrapreneur <\/em>di atas dapat diringkas dalam sebuah tabel seperti berikut.<\/p>\n<table width=\"624\">\n<tbody>\n<tr>\n<td><strong>Aspek<\/strong><\/td>\n<td><strong><em>Entrepreneur<\/em><\/strong><\/td>\n<td><strong><em>Intrapreneur<\/em><\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Status<\/td>\n<td>Pemilik usaha\/bisnis<\/td>\n<td>Karyawan perusahaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Wilayah kerja<\/td>\n<td>Di luar perusahaan<\/td>\n<td>Di dalam perusahaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Tujuan<\/td>\n<td>Berinovasi dan menciptakan produk baru<\/td>\n<td>Meningkatkan kekuatan kompetitif dan pengakuan pasar<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Risiko<\/td>\n<td>Ditanggung sendiri<\/td>\n<td>Ditanggung perusahaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Pengambilan keputusan<\/td>\n<td>Bebas<\/td>\n<td>Terbatas<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Orientasi layanan<\/td>\n<td>Pelanggan<\/td>\n<td>Perusahaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Fokus perhatian<\/td>\n<td>Meningkatkan penjualan, keuntungan, dan kompetisi<\/td>\n<td>Mengembangkan teknologi dan perubahan pasar<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Keuntungan<\/td>\n<td>Bebas mengelola bisnis\/usaha<\/td>\n<td>Bebas memanfaatkan sumber daya perusahaan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Kesalahan dan kegagalan<\/td>\n<td>Langsung memperbaiki kesalahan<\/td>\n<td>Tidak langsung memperbaiki kesalahan<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<h2><strong>Manfaat Intrapreneurship<\/strong><\/h2>\n<p><em>Intrapreneurship <\/em>memberikan beberapa manfaat bagi perusahaan dan karyawannya, seperti:<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h3><strong> Membantu Menghadapi Tantangan Perusahaan<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Salah satu manfaat <em>intrapreneurship <\/em>adalah membantu perusahaan untuk menghadapi tantangan yang tidak diperhitungkan sebelumnya.<\/p>\n<p>Contohnya, adanya pandemi Covid-19 yang akhirnya merubah perilaku konsumen dan berdampak bagi penjualan produk.<\/p>\n<p>Dengan anjuran agar tetap di rumah, konsumen mau tak mau membeli kebutuhan secara <em>online<\/em>. Alhasil, banyak bisnis yang dijalankan secara <em>offline <\/em>harus kehilangan pelanggan bahkan gulung tikar.<\/p>\n<p>Padahal, dengan <em>intrapreneurship<\/em>, perusahaan bisa lebih cepat mendapatkan ide menghadapi tantangan bisnis tersebut. Misalnya, dengan merubah layanan perusahaan, menciptakan produk baru, atau beralih ke bisnis lain yang sedang dibutuhkan konsumen.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<h3><strong> Mendukung Karyawan Memiliki Skill Kewirausahaan<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Intrapreneurship <\/em>dapat mengasah <em>skill <\/em>wirausaha karyawan dengan mendukung perkembangan perusahaan. Nantinya, karyawan akan semakin mahir di berbagai <em>skill entrepreneurship<\/em> berkat lingkungan yang mendukung.<\/p>\n<p>Dengan begitu, baik perusahaan dan karyawan akan mendapatkan manfaat <em>intrapreneurship<\/em>. <em>Why<\/em>?<\/p>\n<p>Ketika nantinya karyawan ingin terjun ke dunia bisnis sendiri, mereka sudah siap baik secara <em>mindset <\/em>maupun kemampuan. Artinya, karyawan tersebut tidak perlu lagi belajar dari nol untuk meningkatkan <em>skill <\/em>berbisnis.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>\n<h3><strong> Meningkatkan Kebahagiaan Karyawan<\/strong><\/h3>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan memberikan wadah bagi karyawan untuk memberikan ide ke perusahaan, <em>engagement <\/em>karyawan bisa ditingkatkan. Bahkan, bisa cukup efektif untuk membantu meningkatkan produktivitas karyawan.<\/p>\n<p>Poin paling menarik adalah langkah tersebut bisa mendorong pada kebahagiaan karyawan yang akan berdampak positif terhadap perusahaan.<\/p>\n<p>Menurut <a href=\"https:\/\/papers.ssrn.com\/sol3\/papers.cfm?abstract_id=3470734\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penelitian Sa\u00efd Business School<\/a>, karyawan yang bahagia akan menunjukkan produktivitas yang meningkat hingga 13%. Dengan demikian, semakin banyak karyawan yang bahagia karena mendapatkan wadah untuk berkreasi layaknya entrepreneur akan meningkatkan performa bisnis perusahaan.<\/p>\n<h2><strong>Contoh Sukses Intrapreneurship<\/strong><\/h2>\n<p>Tidak semua perusahaan bersedia untuk mengembangkan <em>intrapreneurship <\/em>di proses bisnisnya. Namun, ada banyak perusahaan yang mengandalkan <em>intrapreneurship <\/em>secara total dan berhasil membuktikan keberhasilannya.<\/p>\n<p>Perusahaan yang sukses mengembangkan <em>intrapreneurship <\/em>adalah <strong>Google<\/strong>. Kalian bisa melihatnya dari jenis produk Google yang sekarang ada berbagai macam, mulai dari Google Document, Gmail, Google Classroom, Google Meet, dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p>Inovasi Google memang luar biasa. Hal itu karena Google sangat mendorong inovasi dari masing-masing karyawannya. Jadi, selain pekerjaan inti, para karyawan diberikan waktu khusus untuk menciptakan produk baru perusahaan sesuai dengan ide mereka sendiri.<\/p>\n<p>Para karyawan itu merencanakannya dengan rapi, setelah itu baru diajukan pada Manajer Proyek. Kalau disetujui, karyawan itu diperbolehkan memilih timnya sendiri yang merupakan karyawan Google juga. Mereka mengerjakannya secara berkelompok. Setelah produk jadi maka akan diluncurkan kepada para pengguna di seluruh dunia.<\/p>\n<p>Lingkungan perusahaan seperti itulah yang dibutuhkan oleh karyawan. Cara yang Google lakukan ini bisa banget lho kalian tiru juga di dalam bisnis kalian.<\/p>\n<p>Contoh <em>intrapreneur <\/em>lainnya adalah Ken Kutaragi, seorang <em>engineer <\/em>Sony yang mencetuskan PlayStation. Terinspirasi oleh Nintendo, salah satu produsen konsol game ternama, Ken ingin membuat konsol untuk Sony.<\/p>\n<p>Menariknya, niat Ken untuk membuat konsol game tidak surut meski ditolak beberapa petinggi Sony. Ia sampai diam-diam bekerja dengan Nintendo dalam pengembangan konsol NES-nya.<\/p>\n<p>Nyaris dipecat lantaran bekerja dengan kompetitor perusahaan, Ken justru mendapat dukungan dari CEO Sony. Sang CEO bahkan setuju untuk mendanai rencana Ken untuk mengembangkan konsol game bagi Sony.<\/p>\n<p>Kegigihan Ken membuahkan hasil. Sebab, kini PlayStation merupakan konsol game paling terkenal dengan pangsa pasar 65%.<\/p>\n<p>Okya, jadi bisa dibilang jika memiliki <em>intrapreneur<\/em>, perusahaan akan lebih mudah berkembang berkat adanya inovasi produk dan bisnis yang memperkuat daya saing perusahaan. Selain dengan inovasi produk, daya saing perusahaan bisa ditingkatkan dengan menjual produk secara <em>online<\/em>. Sebab, mampu menjangkau pasar yang lebih luas dengan cepat.<\/p>\n<p>Nah, untuk menjalankan bisnis secara <em>online<\/em>, sebuah website dengan dukungan <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/web-hosting\/\">hosting <\/a>yang handal harus dimiliki. Jetorbit menyediakan layanan hosting yang mendukung website kalian bisa diakses kapan saja dengan uptime 99,9%. Selain itu, dilengkapi fitur Imunify360 sehingga website kalian akan lebih terlindungi dari serangan keamanan.<\/p>\n<p>Tenang, Jetorbit juga menyediakan<a href=\"https:\/\/www.jetvm.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> produk VPS<\/a>, lho.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam perkembangannya, muncul istilah baru dalam dunia usaha, yaitu intrapreneur. Apa itu intrapreneur? Apa saja perbedaannya dengan entrepreneur? Intrapreneur juga dapat dipahami sebagai orang yang memiliki jiwa pengusaha tetapi tidak memiliki atau memimpin usaha sendiri. Tak usah lama-lama, langsung simak yuk Pengertian Intrapreneur, Manfaat, dan Perbedaan dengan Entrepreneur Apa Itu Intrapreneurship? Intrapreneurship adalah sistem dan &#8230; <a title=\"Pengertian Intrapreneur, Manfaat, dan Perbedaan dengan Entrepreneur\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/pengertian-intrapreneur-dan-perbedaan-dengan-entrepreneur\/\" aria-label=\"Read more about Pengertian Intrapreneur, Manfaat, dan Perbedaan dengan Entrepreneur\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11134,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[3356,3359,283,7,3355,3357,3358],"class_list":["post-10836","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-intrapreneurship","tag-contoh-intrapreneurship","tag-domain-murah","tag-hosting-murah","tag-intrapreneurship-adalah","tag-karakteristik-intrapreneurship","tag-manfaat-intrapreneurship","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10836"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11136,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10836\/revisions\/11136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}