{"id":10609,"date":"2022-06-24T09:16:00","date_gmt":"2022-06-24T02:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=10609"},"modified":"2022-06-30T14:36:36","modified_gmt":"2022-06-30T07:36:36","slug":"front-end-framework-terbaik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/front-end-framework-terbaik\/","title":{"rendered":"Top 10 Front End Framework Terbaik"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada berbagai cara untuk membangun sebuah website melalui <em>coding<\/em>. Salah satu cara yang termudah yaitu dengan menggunakan <em>front end framework<\/em>. Kalian bisa membuat tampilan website yang menarik dan profesional dengan lebih cepat. Nah, ada banyak <em>front end framework <\/em>yang tersedia dan bisa kalian coba, lho. Ketahui ada<em> front end framework<\/em> apa saja yuk di <strong>Top 10 Front End Framework Terbaik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa itu Front End Framework?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Front end<\/em> sendiri berada di sisi <em>client <\/em>atau bisa disebut sebagai visual yang akan dilihat oleh <em>client<\/em>. Pembangunan website dari awal bukanlah hal yang mudah karena kalian harus memperhatikan tampilan UI yang menarik, desain web responsif, dan aksebilitas yang dimiliki.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Front end framework<\/em> adalah kerangka kerja yang membantu <em>front end developer<\/em> untuk mempermudah&nbsp; dalam pengembangan website.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di dalam penggunaan <em><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/perbedaan-wordpress-dan-framework\/\">framework <\/a><\/em>bukan berarti kalian tidak akan bertemu dengan <em>code<\/em>, ya. Justru ada beberapa aturan <em>code <\/em>khusus jika kalian ingin menggunakannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan <em>code <\/em>tersebut tentunya dapat meningkatkan kinerja kalian karena kalian bisa memanfaatkan beberapa fungsi dan plugin yang disediakan untuk mempersingkat dan mengoptimalkan <em>code <\/em>yang dibuat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>10 Front End Framework Terbaik 2022<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut adalah 10 front end framework terbaik berdasarkan rating yang diperoleh di <a href=\"https:\/\/github.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Github<\/a>:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Vue.js<\/strong><\/li><li><strong>React<\/strong><\/li><li><strong>Angular<\/strong><\/li><li><strong>jQuery<\/strong><\/li><li><strong>Svelte<\/strong><\/li><li><strong>Semantic UI<\/strong><\/li><li><strong>Preact<\/strong><\/li><li><strong>Foundation<\/strong><\/li><li><strong>Backbone.js<\/strong><\/li><li><strong>Ember.js<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Simak yuk penjelasan lengkap untuk masing-masing framework!<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Vue.js<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Salah satu <em>front end framework <\/em>paling populer saat ini, <a href=\"https:\/\/vuejs.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Vue.js<\/a>, merupakan <em>framework <\/em>yang sederhana dan lugas. Hal ini dianggap bagus dikarenakan menghilangkan kompleksitas yang dihadapi <em>developer <\/em>Angular. Ukuran Vue.js lebih kecil dan menawarkan dua keunggulan utama, yakni DOM visual dan berbasis komponen.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"479\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-1.png\" alt=\"front end framework terbaik 1\" class=\"wp-image-10611\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Vue.js merupakan <em>framework <\/em>berjenis MVVM (<em>Model-View ViewModel<\/em>) yang dibangun di atas bahasa JavaScript. <em>Front end framework<\/em> yang satu ini punya aturan penulisan kode yang simpel sehingga mudah digunakan oleh pemula.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski dibuat untuk mengoptimalkan kinerja aplikasi dan mengatasi kerumitan, Vue.js tidak begitu populer di kalangan raksasa pasar. Namun, Alibaba, 9gag, Reuters, Xiaomi adalah pengguna kerangka ini. Vue.js terus berkembang dalam hal adopsi meski lebih sedikit peminat dari Silicon Valley.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Vue.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Virtual DOM (Document Object Model)<\/strong> \u2013 Tiruan dari Real DOM untuk menyimpan dan mereview perubahan kode sebelum menerapkannya di Real DOM.<\/li><li><strong>Components<\/strong> \u2013 Membuat sekaligus mengelola elemen kustom dalam format HTML nya sehingga dapat digunakan berulang-ulang.<\/li><li><strong>Two-way Data Binding <\/strong>\u2013 Menjadikan setiap perubahan kode di JavaScript berpengaruh terhadap tampilan HTML, begitu pula sebaliknya.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Vue.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Dokumentasi yang luas dan rinci.<\/li><li>Sintaks yang sederhana \u2013 <em>programmer <\/em>dengan latar belakang JavaScript dapat dengan mudah memulai dengan Vue.js.<\/li><li>Fleksibilitas untuk mendesain struktur aplikasi.<\/li><li>Dukungan ketikan.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Vue.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kurangnya stabilitas komponen.<\/li><li>Komunitas yang relatif kecil.<\/li><li>Hambatan bahasa dengan plugin dan komponen (kebanyakan plugin ditulis dalam bahasa Mandarin sehingga sulit dipahami dan digunakan).<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. React<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>React adalah salah satu <em>framework <\/em>paling sederhana untuk dipelajari. <em>Framework <\/em>ini dikembangkan oleh Facebook untuk memperbaiki persoalan pemeliharaan kode karena penambahan fitur aplikasi.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-2.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"456\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-2.png\" alt=\"front end framework terbaik 2\" class=\"wp-image-10612\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Oia, React sebenarnya bukan sebuah <em>front end framework<\/em> murni, melainkan sebuah <em>library <\/em>berbasis JavaScript. Namun, ia tetap punya berbagai fitur layaknya sebuah <em>framework<\/em>, contohnya DOM (<em>Document Object Model<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Di samping itu, React juga punya kinerja stabil. Hal tersebut membuatnya bisa diandalkan untuk membangun PWA (<em>Progressive Web Apps<\/em>) dan SPA (<em>Single Page Application<\/em>) yang dipersiapkan untuk menampung banyak trafik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan React:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Virtual DOM <\/strong>\u2013 Sama seperti Vue.js, React juga dibekali Virtual DOM yang berguna untuk menyimpan berbagai perubahan kode.<\/li><li><strong>Libraries Integration<\/strong> \u2013 Menjadikan React bisa digunakan bersama dengan berbagai <em>library <\/em>berbasis JavaScript.<\/li><li><strong>JSX (JavaScript XML) <\/strong>\u2013 Ekstensi sintaks JavaScript untuk memudahkan modifikasi DOM dengan kode berformat HTML.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan React:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Komponen bisa digunakan berulang-ulang di berbagai halaman aplikasi.<\/li><li>Kemudahan untuk menulis komponen tanpa perlu mengenalkan (deklarasi) Class-nya.<\/li><li>Menyediakan berbagai <em>tools <\/em>pengembang dengan fitur-fitur yang melimpah.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan React:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Dokumentasi yang berubah-ubah, mengingat frekuensi update yang terlalu sering.<\/li><li>Agak sulit dipelajari pemula karena JSX yang cenderung rumit.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Angular&nbsp;<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/angular.io\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Angular <\/a>adalah satu-satunya <em>framework <\/em>yang berdasar pada TypeScript di daftar 10 <em>front end framework<\/em> terbaik. Resmi diluncurkan pada tahun 2016, Angular dikembangkan oleh Google untuk menjembatani antara tuntutan teknologi yang semakin meningkat dan konsep konvensional.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-3.png\" alt=\"front end framework terbaik 3\" class=\"wp-image-10613\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Tidak seperti React, Angular unik dengan fitur pengikatan data dua arahnya. Artinya, ada sinkronisasi waktu nyata antara model dan tampilan, yang mana setiap perubahan dalam model tercermin langsung pada tampilan dan sebaliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika proyek kalian melibatkan pembuatan aplikasi seluler atau web, Angular sangat cocok untuk dijadikan pilihan pengerjaan<em> front end<\/em> kalian. Selain itu, kalian juga dapat menggunakan kerangka kerja ini untuk mengembangkan aplikasi web multi-halaman serta progresif. Perusahaan seperti BMW, Xbox, Forbes, Blender, dan sebagainya menerapkan aplikasi yang dibuat dengan Angular.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Angular:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Directives <\/strong>\u2013 Memudahkan <em>developer <\/em>untuk mengatur DOM sehingga bisa menghasilkan konten berformat HTML yang lebih dinamis.<\/li><li><strong>Hierarchical Injections<\/strong> \u2013 Memudahkan pengelolaan komponen kode untuk keperluan pengujian atau penggunaan ulang.<\/li><li><strong>Two-way Data Binding<\/strong> \u2013 Mirip dengan Vue.js, Angular menggunakan <em>two-way data binding<\/em> untuk kemudahan sinkronisasi antara Model dan View.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Angular:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Setiap perubahan kode bisa ditampilkan hasilnya secara instan karena adanya Two-way Data Binding.<\/li><li>Dapat menggunakan komponen secara berulang-ulang cukup dengan sekali menulis komponen.<\/li><li>Jumlah baris kode yang diperlukan untuk membangun aplikasi jadi lebih sedikit.<\/li><li>Dukungan resmi dari Google dan komunitas yang luas.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Angular:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Agak sulit dipelajari oleh pemula, mengingat aturan penulisan kode yang cukup rumit.<\/li><li>Struktur aplikasi yang dihasilkan cenderung rumit sehingga bisa menurunkan kinerja aplikasi.<\/li><li>Kemampuan SEO yang terbatas sehingga kurang SEO friendly.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. jQuery<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/jquery.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">jQuery <\/a>adalah salah satu<em> front end framework<\/em> tertua yang dirilis sejak tahun 2006. Meski begitu, jQuery masih cukup relevan digunakan untuk membangun website, mobile app, dan desktop app.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-4.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"423\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-4.png\" alt=\"front end framework terbaik 4\" class=\"wp-image-10614\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Sama seperti React, jQuery sebenarnya adalah <em>library <\/em>JavaScript dan bukan merupakan <em>framework<\/em>. Nah, jQuery punya fungsi utama yaitu untuk memanipulasi CSS dan DOM sehingga menghasilkan website yang lebih interaktif.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, jQuery juga menawarkan kemudahan penggunaan dengan memangkas aturan penulisan kode JavaScript menjadi lebih ringkas. jQuery juga didukung komunitas yang luas dan berpengalaman.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan jQuery:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Versatile Event Handling<\/strong> \u2013 Memangkas jumlah baris kode untuk perintah yang melibatkan aktivitas pengguna, seperti klik pada mouse.<\/li><li><strong>jQuery Mobile <\/strong>\u2013 Framework HTML5 berbasis System-UI untuk memudahkan <em>developer <\/em>dalam membangun <em>mobile app<\/em>.<\/li><li><strong>Browser Interchangeability<\/strong> \u2013 Mampu menjalankan berbagai fungsi di hampir semua browser tanpa mengalami kendala berarti.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan jQuery:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Mudah dipelajari dan digunakan oleh pemula karena penulisan kode yang simpel.<\/li><li>Mendukung hampir semua browser yang ada di pasaran.<\/li><li>Menyediakan beragam pilihan plugin untuk menambah fiturnya.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan jQuery:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Ukuran yang tergolong besar, satu package jQuery terdiri atas semua komponen DOM, Events, Effects, dan AJAX.<\/li><li>Kinerja yang tergolong lambat, mengingat ukuran yang besar.<\/li><li>Tidak memiliki Data Layer sehingga proses memanipulasi DOM jadi lebih rumit.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Svelte<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Bertolak belakang dengan jQuery, <a href=\"https:\/\/svelte.dev\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Svelte <\/a>adalah <em>front end framework <\/em>dengan usia paling muda yang ada di daftar ini. Sebab, Svelte baru diluncurkan pada 2016 lalu.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-5.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"455\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-5.png\" alt=\"front end framework terbaik 5\" class=\"wp-image-10615\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Berbeda dengan yang lain, Svelte bukan merupakan <em>framework <\/em>maupun <em>library<\/em>, melainkan sebuah <em>compiler<\/em>. Nah, <em>compiler <\/em>yang satu ini berbasis JavaScript, HTML, dan CSS sekaligus.<\/p>\n\n\n\n<p>Tenang, meski menggabungkan tiga elemen, performanya tetap stabil, kok. Bahkan, Svelte dianggap sebagai salah satu <em>framework <\/em>tercepat saat ini. Selain itu, juga tergolong ringan karena aturan penulisan kode yang cenderung ringkas.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Svelte:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Modularity Principles<\/strong> \u2013 Mengelompokkan berbagai komponen lalu mengisolasinya sehingga memudahkan proses pengembangan aplikasi.<\/li><li><strong>Boilerplate-free Coding<\/strong> \u2013 Menghasilkan modul secara seragam dalam bentuk Vanilla JavaScript dari komponen berformat HTML, CSS, dan JavaScript.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Svelte:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Lebih ringan dan simpel karena bisa menggunakan <em>library <\/em>JavaScript yang sudah ada.<\/li><li>Kinerja lebih cepat dibanding <em>framework <\/em>populer lain, seperti React atau Angular.<\/li><li>Aturan kode yang minimalis sehingga proses pengembangan aplikasi lebih cepat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Svelte:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Dukungan komunitas yang minim dan belum berkembang.<\/li><li><em>Tools <\/em>pengembang yang tersedia masih sedikit.<\/li><li>Belum terlalu populer karena tergolong masih baru.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Semantic UI<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Mirip dengan Svelte, <a href=\"https:\/\/semantic-ui.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Semantic UI<\/a> adalah <em>front end framework <\/em>yang masih tergolong baru. Framework ini baru diluncurkan 2014 oleh Jack Lukicthis, seorang <em>full-stack developer<\/em>.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-6.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"721\" height=\"414\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-6.png\" alt=\"front end framework terbaik 6\" class=\"wp-image-10616\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Nah, Semantic UI adalah <em>framework <\/em>berbasis CSS. Makanya <em>front end framework<\/em> yang satu ini secara bawaan tidak menggunakan DOM maupun Data Binding sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski begitu, Semantic UI mendukung integrasi dengan <em>framework <\/em>lain, seperti React, Angular, dan Ember.js. Selain itu, ia juga menyediakan dukungan plugin pihak ketiga untuk menambah fitur-fiturnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Semantic UI:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Themes Collections <\/strong>\u2013 Menyediakan ribuan tema dan puluhan komponen untuk mempercantik dan menambah fitur-fitur terkait <em>interface<\/em>.<\/li><li><strong>Exchangeable Concepts<\/strong> \u2013 Mengadopsi bahasa manusia ke dalam aturan penulisan kode, contohnya ketika menulis Class.<\/li><li><strong>Development Toolset<\/strong> \u2013 Memudahkan konfigurasi CSS, JavaScript, dan Font, sehingga bisa digunakan untuk aplikasi lain cukup dengan sekali tulis.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Semantic UI:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Tersedia berbagai pilihan tema dan komponen UI.<\/li><li>Aturan penulisan kode yang mudah dipahami.<\/li><li>Mendukung berbagai integrasi sehingga banyak fitur bisa ditambahkan.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Semantic UI:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Ukuran <em>package <\/em>yang cukup besar.<\/li><li>Dukungan komunitas yang masih tergolong minim.<\/li><li>Fitur dan fungsi-fungsi bawaan yang cenderung terbatas.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>7. Preact<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/preactjs.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Preact <\/a>adalah <em>front end framework <\/em>yang diluncurkan pada 2015 lalu oleh Jason Miller. Sesuai namanya, <em>framework <\/em>ini merupakan alternatif dari React karena ia punya fitur dan API yang hampir mirip dengan React.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-7.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"481\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-7.png\" alt=\"front end framework terbaik 7\" class=\"wp-image-10617\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Meski begitu, ukuran Preact jauh lebih kecil dari React, yaitu hanya 3 KB saja. Dengan begitu, aplikasi yang dihasilkan juga lebih ringan dari segi ukuran dan memiliki kinerja gesit.<\/p>\n\n\n\n<p>Sama seperti React, Preact juga sebenarnya merupakan <em>library <\/em>dan bukanlah <em>framework <\/em>murni. Pun demikian, <em>front end framework<\/em> yang satu ini sudah menggunakan Virtual DOM layaknya sebuah <em>framework<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Preact:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Preact CLI <\/strong>\u2013 Tool berbasis Command Line bawaan Preact untuk mempercepat pengembangan aplikasi.<\/li><li><strong>Link State Module <\/strong>\u2013 Bertanggung jawab mengoptimasi setiap perubahan pada komponen yang digunakan secara otomatis.<\/li><li><strong>ES6 API<\/strong> \u2013 Memudahkan <em>developer <\/em>untuk beralih ke Preact pada aplikasi yang sudah terlanjur dibangun.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Preact:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Ukuran yang sangat kecil sehingga meringankan beban kerja aplikasi yang dibangun.<\/li><li>Kinerja yang gesit karena menggunakan Virtual DOM dengan cara kerja yang ringkas.<\/li><li>Kompatibel dengan hampir semua ekosistem yang ada pada React, seperti komponen dan plugin.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Preact:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kurang populer dan komunitas yang tergolong kecil, jika dibandingkan dengan React.<\/li><li>Tidak mendukung propTypes, fitur kunci yang ada di React, sehingga hanya mendukung migrasi dengan ES6 API.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>8. Foundation<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Berbeda dengan beberapa <em>framework <\/em>di atas seperti Vue.js dan jQuery yang cocok untuk pemula, <em>framework <\/em>ini lebih ditujukan untuk developer tingkat mahir. Ia adalah Foundation, <em>front end framework<\/em> yang diluncurkan oleh Zurn pada 2011 lalu.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-8.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"480\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-8.png\" alt=\"front end framework terbaik 8\" class=\"wp-image-10618\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p><em>Framework <\/em>berbasis JavaScript, HTML, dan CSS sekaligus ini memang ditujukan khusus untuk membangun proyek berskala besar dalam ruang lingkup perusahaan. Foundation didukung berbagai fitur untuk pengembangan tingkat lanjut.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan, Foundation juga punya <em>framework <\/em>khusus untuk membangun SPA dengan Foundation for Apps. Ada juga <em>framework <\/em>yang ditujukan untuk membuat aplikasi email bernama Foundation for Email.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Foundation:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>GPU Acceleration<\/strong> \u2013 Meningkatkan kinerja aplikasi saat melakukan <em>rendering <\/em>terhadap animasi, baik di perangkat mobile ataupun desktop.&nbsp;<\/li><li><strong>Autonomous Project<\/strong> \u2013 Memudahkan <em>developer <\/em>mengatasi kerumitan sehingga bisa belajar Foundation lebih cepat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Foundation:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Mendukung integrasi dengan Library HTML5, misalnya Form Validation.<\/li><li><em>Rendering <\/em>otomatis untuk tampilan yang menyesuaikan berbagai perangkat.<\/li><li>Kustomisasi tingkat lanjut untuk menghasilkan tampilan yang menarik.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Foundation:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Cukup sulit untuk dipelajari oleh <em>developer <\/em>pemula.<\/li><li>Dukungan komunitas yang masih minim karena tidak terlalu populer.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>9. Backbone.js<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/backbonejs.org\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Backbone.js<\/a> adalah <em>front end framework<\/em> yang dikembangkan oleh Jeremy Ashkenas, penulis CoffeeScript pada 2010 lalu. <em>Framework <\/em>ini merupakan<em> framework open source <\/em>yang diterbitkan di bawah lisensi software MIT.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-9.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"456\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-9.png\" alt=\"front end framework terbaik 9\" class=\"wp-image-10619\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Backbone.js tergolong <em>framework <\/em>berjenis MVC yang dibangun di atas bahasa JavaScript. <em>Front end framework<\/em> satu ini dianggap sebagai <em>framework <\/em>yang paling mudah digunakan karena aturan penulisan kode yang simpel.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan aturan kode yang sederhana, kemampuannya tetap tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, Backbone.js bisa digunakan untuk membangun SPA dengan lancar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Backbone.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Key-Value Binding &amp; Custom Events <\/strong>\u2013 Mirip dengan Two-way Data Binding, menjadikan setiap perubahan pada Model berpengaruh terhadap View, begitu pula sebaliknya.<\/li><li><strong>API Integration <\/strong>\u2013 Memungkinkan website dapat berkomunikasi dengan bahasa atau aplikasi lain lewat API yang sudah ada, misalnya RESTful JSON.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Backbone.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kinerja yang tergolong cepat serta ukuran yang tetap ringan.<\/li><li>Sangat mudah dipelajari oleh pemula sekalipun.<\/li><li>Mudah untuk membangun sistem yang lebih kompleks berkat adanya API.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Backbone.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Hanya menyediakan <em>tools <\/em>untuk pengembang versi standar dengan kemampuan yang terbatas.<\/li><li>Harus menulis kode dalam bentuk Boilerplate (menulis di banyak tempat) agar Model dan View dapat berkomunikasi satu sama lain.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>10. Ember.js<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/emberjs.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Ember.js<\/a> merupakan <em>front end framework<\/em> yang dikembangkan sejak 2011 lalu oleh Yehuda Katz. Sama seperti beberapa <em>framework <\/em>sebelumnya, ia juga termasuk <em>framework open source<\/em> di bawah lisensi MIT.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-10.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"481\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Top-10-Front-End-Framework-Terbaik-10.png\" alt=\"front end framework terbaik 10\" class=\"wp-image-10620\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n<p>Nah, Ember.js adalah <em>framework <\/em>berjenis MVVM yang dibangun dengan bahasa JavaScript. Kebalikan dengan Backbone.js, <em>framework <\/em>satu ini dianggap sebagai salah satu <em>framework <\/em>tersulit untuk dipelajari.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, kemampuannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Ember.js memang dirancang agar bisa memenuhi kebutuhan pengembangan website dan mobile app melalui beragam fitur unggulan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fitur-Fitur Unggulan Ember.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Two-way Data Binding<\/strong> \u2013 Memudahkan sinkronisasi antara Model dan View secara<em> real time<\/em>.<\/li><li><strong>Fastboot.js Module<\/strong> \u2013 Mempercepat <em>server side rendering<\/em> (<em>rendering<\/em> melalui server) dan meningkatkan performa UI.<\/li><li><strong>Large Ecosystem <\/strong>\u2013 Menyediakan berbagai <em>template<\/em>, <em>tools<\/em>, dan plugin untuk mengurangi jumlah baris kode, menambah fungsionalitas, dan meningkatkan kinerja.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kelebihan Ember.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><em>Server-side rendering<\/em> yang membuat halaman website tampil lebih cepat.<\/li><li>Kinerja yang cepat dan responsif berkat beragam tools bawaan, seperti <em>routing <\/em>dan <em>testing<\/em>.<\/li><li>Dokumentasi yang tergolong lengkap.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Kekurangan Ember.js:<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Dukungan komunitas yang masih minim.<\/li><li>Kreator yang jarang melakukan update.<\/li><li>Struktur kode yang kaku sehingga sulit dipelajari.<\/li><li>Terlalu banyak fitur sehingga tidak cocok untuk aplikasi sederhana.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Setiap <em>framework <\/em>memiliki karakteristik, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing. Maka, silakan pilih <em>framework <\/em>yang paling sesuai dengan kebutuhan serta <em>skill front end <\/em>kalian sebagai <em>developer, <\/em>ya. Tujuannya agar proses pengembangan <em>front end <\/em>berjalan lancar dan menghasilkan <em>interface <\/em>website yang menarik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, kita kenalan yuk sama Aplikasi Ujian Online milik Jetorbit,<a href=\"https:\/\/ujione.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Ujione<\/a>! Berbasis Cloud Pertama di Indonesia! Jadi, bisa melaksanakan ulangan harian, quiz, ujian akhir dan tugas bisa dari aplikasi Android, IOS dan juga Web. kalian tidak perlu menyiapkan perangkat server\/hosting lagi, lho. Pokoknya mudah!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, kami juga menyediakan VPS, lho.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada berbagai cara untuk membangun sebuah website melalui coding. Salah satu cara yang termudah yaitu dengan menggunakan front end framework. Kalian bisa membuat tampilan website yang menarik dan profesional dengan lebih cepat. Nah, ada banyak front end framework yang tersedia dan bisa kalian coba, lho. Ketahui ada front end framework apa saja yuk di Top &#8230; <a title=\"Top 10 Front End Framework Terbaik\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/front-end-framework-terbaik\/\" aria-label=\"Read more about Top 10 Front End Framework Terbaik\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10952,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[283,3292,3291,3293,7],"class_list":["post-10609","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-domain-murah","tag-front-end","tag-front-end-framework","tag-front-end-framework-terbaik","tag-hosting-murah","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10609"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10953,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10609\/revisions\/10953"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}