{"id":10044,"date":"2022-05-10T09:10:00","date_gmt":"2022-05-10T02:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/?p=10044"},"modified":"2022-06-16T15:14:30","modified_gmt":"2022-06-16T08:14:30","slug":"mengenal-minimum-viable-product-mvp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/mengenal-minimum-viable-product-mvp\/","title":{"rendered":"Mengenal Minimum Viable Product (MVP) dan Manfaatnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Apakah kalian termasuk orang yang berpikir untuk memulai bisnis harus punya produk yang sempurna? Hanya saja, ya jangan terlalu lama merencanakan produk karena bisa saja selera calon konsumen sudah berubah. Jika terlalu cepat juga tak baik karena produk bisa seadanya, kan. Okay, ada solusinya, kok. Yuk simak artikel <strong>Mengenal Minimum Viable Product (MVP) dan Manfaatnya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu Minimum Viable Product (MVP)?<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>MVP adalah produk dengan fitur-fitur dasar yang memiliki kegunaan tinggi meski bentuknya belum terlalu canggih. MVP sengaja dibuat untuk menarik perhatian pengguna. Tujuanny untuk memvalidasi ide bisnis, mempelajari pengalaman pengguna, dan mendapatkan <em>feedback <\/em>terkait produk. Dengan begitu, produk bisa dikembangkan dengan lebih baik melalui cara yang efisien.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara garis besar, MVP berguna untuk:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Menjaga fokus pengembangan produk ke fitur-fitur utama.<\/li><li>Membantu perusahaan lebih memahami kebutuhan target pasar.<\/li><li>Menguji potensi keberhasilan produk di pasar secara langsung.<\/li><li>Meminimalisasi risiko kerugian akibat meluncurkan produk yang kurang tepat.<\/li><li>Menghemat biaya produksi.<\/li><li>Menerima feedback dari target pasar secara cepat untuk meningkatkan kualitas produk.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><em>Minimum viable product <\/em>hanya menawarkan fitur dasar saja sehingga investasi yang perusahaan keluarkan pun juga lebih minim, baik dari segi waktu, sumber daya, hingga potensi kegagalan produk<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tujuan MVP&nbsp;<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Risiko terbesar yang menghantui perusahaan <em>startup <\/em>saat meluncurkan produk baru, yait produk tidak diterima masyarakat. Oleh sebab itu, perusahaan <em>startup <\/em>membutuhkan MVP dalam produk.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan MVP adalah untuk:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Merilis Produk ke Pasar Secara Cepat<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>MVP memungkinkan kalian merilis produk ke pasar secara cepat sehingga produk bisa segera dinikmati pelanggan dan perusahaan mendapatkan feedback untuk bahan evaluasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Mempercepat Datangnya Feedback dari Pelanggan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Perusahaan akan mengetahui kekuatan hingga kelemahan produk sesegera mungkin dengan <em>feedback <\/em>yang cepat terkumpul. <em>Feedback <\/em>ini bisa dijadikan bahan evaluasi untuk menyempurnakan produk final.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Menguji Hipotesis dengan Sumber Daya Minimal<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Kalian bisa membuktikan hipotesis berdasarkan kondisi riil di lapangan. Jadi, bukan hanya asumsi belaka.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena produknya baru MVP, sumber daya yang dikeluarkan pun juga minimal, tak sebesar jika itu produk final, baik dari biaya material, produksi, tenaga kerja, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>4 Jenis Minimum Viable Product<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut ini empat jenis minimum variable product:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Fisik (Physical)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-1.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"702\" height=\"250\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-1.png\" alt=\"mengenal minimum viable product 1\" class=\"wp-image-10053\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Sesuai namanya, MVP physical memiliki bentuk fisik. Produk ini bisa pengguna sentuh dan coba secara langsung, aik itu makanan ataupun benda. Misalnya sepatu, tas, handphone, makanan, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Desain Produk (Product Design)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-2.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1068\" height=\"712\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-2.png\" alt=\"mengenal minimum viable product 2\" class=\"wp-image-10054\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-2.png 1068w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-2-800x533.png 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 1068px) 100vw, 1068px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Jenis <em>minimum variable product<\/em> berikutnya, <em>product design<\/em>. Artinya, produk yang diluncurkan perusahaan berupa desain, bisa <em>software<\/em>, website, aplikasi, ata media digital lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Piecemeal<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika diterjemahkan, <em>piecemeal <\/em>berarti sedikit demi sedikit. Nah, MVP <em>piecemeal <\/em>maksudnya produk yang dihasilkan dari kombinasi produk dan layanan tertentu.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-3.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"600\" height=\"419\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-3.png\" alt=\"mengenal minimum viable product 3\" class=\"wp-image-10055\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Misalnya, sudah punya toko furniture lalu karena ingin memperluas jangkauan pasar, kalian pun membuat website atau <a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/jasa-website-toko-online\/\">toko online<\/a> furniture.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Concierge<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Concierge MVP merupakan produk digital yang dihasilkan melalui pengalaman manual. Tujuannya untuk lebih memahami apa yang calon <em>customer <\/em>hadapi dengan cara terjun langsung ke lapangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Katakanlah kalian ingin membuat aplikasi kasir. Sebelum membuat produk, kalian mencoba melakukan transaksi secara manual. Dengan kata lain, merasakan interaksi manusia dan proses yang terjadi di atas meja kasir.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Cara Membuat MVP dalam Bisnis<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Selanjutnya ketahui yuk bagaimana cara membuatnya:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Adakan Riset Pasar dan Temukan Masalah<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pertama, lakukan riset pasa sehingga gambaran kalian akan keadaan pasar serta kebutuhan target audiens semakin jelas. Ini beberapa jenis riset yang bisa kalian upayakan:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Riset primer:<\/strong> fokus pada informasi langsung dari calon konsumen, terdiri dari riset kuantitatif dan kualitatif<\/li><li><strong>Riset sekunder: <\/strong>menggunakan data riset dari pihak lain. Artikel, ebook, berita, dan sebagainya.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Dari setiap metode riset di atas, kalian akan mendapat gambaran lebih tentang perilaku hingga hambatan target pasar dalam melakukan sesuat, entah prosedur, design, malfungsi produk, dan&nbsp; sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Pikirkan Value Proposition<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Value proposition<\/em> adalah tahapan yang sangat penting dalam membuat MVP. Ini merupakan alat untuk membantu memastikan suatu produk\/layanan menjawab kebutuhan calon pelanggan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-4.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-4.png\" alt=\"mengenal minimum viable product 4\" class=\"wp-image-10056\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-4.png 1024w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-4-800x600.png 800w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-4-320x240.png 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Dengan <em>Value Proposition<\/em>, kalian mampu merumuskan detail produk spesifik yang target pasar butuhka, mulai dari fitur, benefit, hingga pengalaman pelanggan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Petakan Sales Funnel Pelanggan<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Untuk memperkuat pemahaman akan kebutuhan pelanggan, selidiki tahapan apa saja yang dilalui pelanggan untuk menuju keputusan pembelian (<em>sales funnel<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Misal, MVP kalian adalah website toko online. Sebelum rilis, pahami dulu dari awal sampai akhir, bagaimana target pasar kalian akan menemukan situs sampai berbelanja di toko online kalian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Prioritaskan Fitur MVP Kalian dan Buat Hipotesis<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Okay, agar produk kalian bisa fokus menyelesaikan masalah utama pelanggan, kalian juga perlu prioritaskan fiturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pastikan produk tersebut menjawab karakteristik MVP yang tepat:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Memuat inti utama ide<\/li><li>Biaya produksi rendah<\/li><li>Mengandung value yang pelanggan butuhkan<\/li><li>Memiliki ruang untuk iterasi atau pengembangan di masa depan<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Untuk menentukan fitur mana yang harus diutamakan, silakan buat hipotesis. Lalu, lakukan <em>scoring<\/em>. Sesederhananya dengan mengisi tabel ini (nilai satu sampai lima):<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td>Hipotesis<\/td><td>Relevansi<\/td><td>Biaya Produksi<\/td><td>Value<\/td><td>Kemudahan Pengembangan<\/td><td>Total<\/td><\/tr><tr><td>Hipotesis A<\/td><td><\/td><td><\/td><td><\/td><td><\/td><td><\/td><\/tr><tr><td>Hipotesis B<\/td><td><\/td><td><\/td><td><\/td><td><\/td><td><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Luncurkan MVP<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Yash, saatnya kalian meluncurkan MVP! Ingat, <em>minimum variable product<\/em> bukanlah produk yang sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalian membangun MVP adalah bukan untuk menghasilkan untung setinggi mungkin, ya. Melainkan untuk mengumpulkan <em>insight <\/em>sedalam mungkin. Jadi, yang terpenting adalah melihat bagaimana produk kalian direspons oleh target pasar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>6. Lakukan BML<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tugas kalian belum selesai, nih. Setelah MVP diluncurkan, terus lakukan <em>build-measure-learn<\/em> (BML).<\/p>\n\n\n\n<p>BML adalah siklus untuk membangun produk, mengukur indikator kepuasan pelanggan dan performa produk untuk kemudian dipelajari. Tentunya, jangan lupa kumpulkan <em>feedback <\/em>konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari hasil siklus BML, selanjutnya bandingkan dengan hipotesis kalian. Analisis ini bisa kalian jadikan bahan untuk strategi ke depannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>7. Pivot Strategi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Okay, apa yang harus kalian lakukan berikutnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Jika performa MVP kurang memuaskan, lakukan pivot pada strategi kalian. Artinya, kalian perlu mengubah strategi dengan tetap mengejar tujuan yang sama. Lalu, ulangi kembali dari awal cara membuat MVP dalam bisnis.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika MVP kalian terbilang sukses, sempurnakan sisi-sisi yang masih kurang dan luncurkan produk final yang sudah matang.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Contoh Minimum Viable Product<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Penasaran contoh dari minimum viable product? Simak yuk!<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dropbox<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Contoh <em>minimum viable product<\/em> berikutnya adalah Dropbox.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-5.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"428\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-5.png\" alt=\"mengenal minimum viable product 5\" class=\"wp-image-10057\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-5.png 1024w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-5-800x334.png 800w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Kalian pernah menyangka kah bahw Arash Ferdowsi dan Drew Houston ternyata meluncurkan Dropbox bahkan sebelum mereka membangun produknya?<\/p>\n\n\n\n<p>Awalnya, Arash dan Drew membagikan video sederhana yang menunjukkan cara kerja DropBox.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><a href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-6.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"715\" height=\"535\" src=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-6.png\" alt=\"mengenal minimum viable product 6\" class=\"wp-image-10058\" srcset=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-6.png 715w, https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Mengenal-Minimum-Viable-Product-6-320x240.png 320w\" sizes=\"auto, (max-width: 715px) 100vw, 715px\" \/><\/a><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Di luar dugaan, video tersebut sukses menjaring 75.000 pendaftaran dari orang yang berminat dengan DropBox. Dengan sambutan hangat dari masyarakat, DropBox pun melanjutkan <em>project <\/em>mereka. Kini, DropBox berhasil menjadi salah satu layanan penyimpanan file terbesar dan populer di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Nah, bisa disimpulkan bahwa dengan MVP, kalian bisa mendapatkan <em>insight <\/em>dan <em>feedback <\/em>produk secara lebih cepat, termasuk melihat apakah produk final kalian direspons dengan baik atau justru sebaliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari situlah kalian bisa memperbaiki produk ataupu beralih ke ide produk yang lebih diminati <em>user<\/em>. Untuk membuat MVP, kalian bisa memulai dari sesuatu yang sederhana, lho. Siap mencoba?<\/p>\n\n\n\n<p>Oia, kenalan yuk sama Aplikasi Ujian Online milik Jetorbit,<a href=\"https:\/\/ujione.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Ujione<\/a>! Berbasis Cloud Pertama di Indonesia! Jadi, bisa melaksanakan ulangan harian, quiz, ujian akhir dan tugas bisa dari aplikasi Android, IOS dan juga Web. kalian tidak perlu menyiapkan perangkat server\/hosting lagi, lho. Pokoknya mudah!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, kami juga menyediakan<a href=\"https:\/\/www.jetvm.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> VPS<\/a>, lho.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah kalian termasuk orang yang berpikir untuk memulai bisnis harus punya produk yang sempurna? Hanya saja, ya jangan terlalu lama merencanakan produk karena bisa saja selera calon konsumen sudah berubah. Jika terlalu cepat juga tak baik karena produk bisa seadanya, kan. Okay, ada solusinya, kok. Yuk simak artikel Mengenal Minimum Viable Product (MVP) dan Manfaatnya &#8230; <a title=\"Mengenal Minimum Viable Product (MVP) dan Manfaatnya\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/mengenal-minimum-viable-product-mvp\/\" aria-label=\"Read more about Mengenal Minimum Viable Product (MVP) dan Manfaatnya\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10669,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"generate_page_header":"","footnotes":""},"categories":[25],"tags":[3112,3117,283,7,3115,3116,3113,3114],"class_list":["post-10044","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info","tag-apa-itu-mvp","tag-contoh-mvp","tag-domain-murah","tag-hosting-murah","tag-jenis-mvp","tag-membuat-mvp","tag-mvp-adalah","tag-tujuan-mvp","infinite-scroll-item","generate-columns","tablet-grid-50","mobile-grid-100","grid-parent","grid-33"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10044","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10044"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10044\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10062,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10044\/revisions\/10062"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10669"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10044"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10044"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.jetorbit.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10044"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}